Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M Rizki Wahyudi
TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG – Program cetak sawah baru yang dilaksanakan pemerintah di Desa Tanjung Gelang, Kecamatan Kota Padang, Kabupaten Rejang Lebong, hingga saat ini belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Namun, lahan yang telah dicetak seluas 587 hektare itu belum bisa digunakan untuk kegiatan pertanian karena belum tersedia sumber air yang dapat mengaliri kawasan sawah baru tersebut.
Akibatnya, lahan yang sebelumnya dipersiapkan sebagai areal produksi pangan kini justru terbengkalai dan ditumbuhi rerumputan liar.
Sampai saat ini, pemerintah terus melakukan upaya agar program cetak sawah itu bisa segera dimanfaatkan oleh masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Kabupaten Rejang Lebong, Suradi Rifai tak membantah bahwa hingga saat ini lahan tersebut belum bisa difungsikan untuk pertanian. Ini karena infrastruktur pengairan untuk mendukung lahan sawah baru tersebut masih dalam tahap pembangunan.
Menurutnya, pekerjaan yang sedang berlangsung berupa pemasangan jaringan pipa atau pipanisasi untuk mengalirkan air menuju areal persawahan.
"Sekarang masih dalam proses pipanisasi atau pemasangan pipa. Ini dilakukan agar air bisa mengaliri lahan persawahan yang sudah dicetak,"ungkap Suradi saat dikonfirmasi wartawan TribunBengkulu.com pada Rabu (10/6/2026).
Baca juga: Setahun Tanpa Titik Terang, Pelaku Pembunuhan Resma Reta di Rejang Lebong Masih Misterius
Berdasarkan informasi yang diterimanya, kendala utama yang menyebabkan sawah belum dapat difungsikan adalah persoalan distribusi air.
Sumber air yang tersedia sebelumnya tidak dapat mengalir secara optimal menuju kawasan persawahan sehingga diperlukan pembangunan sistem pengairan baru.
"Informasi yang kami dapat, sebelumnya terkendala karena airnya tidak bisa naik. Oleh karena itu saat ini sedang dilakukan pemasangan pipa baru di bagian kepala atau mata air,"jelasnya.
Suradi menjelaskan, sumber air untuk mengairi lahan sawah baru tersebut berasal dari sungai yang berada di kawasan hutan.
Air kemudian dialirkan melalui jaringan pipa sepanjang kurang lebih tiga kilometer menuju dam atau kolam penampungan sebelum didistribusikan ke areal persawahan.
Menurutnya, pembangunan sarana pengairan tersebut bukan dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, melainkan menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan.
"Infrastruktur pengairan berupa pipanisasi masih dalam proses pengerjaan oleh pihak ketiga yang ditunjuk Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu,"jelasnya.
Ia mengatakan, setelah jaringan pipa selesai dan air berhasil masuk ke kawasan sawah, maka proses pengolahan lahan dapat segera dilakukan.
Selanjutnya, penanaman padi direncanakan dilakukan secara serentak oleh para petani di lokasi cetak sawah baru tersebut.
Meski demikian, Suradi mengaku belum dapat memastikan kapan seluruh proses pembangunan infrastruktur pengairan itu akan selesai dan kapan lahan sawah mulai difungsikan.
"Kami belum bisa memastikan kapan selesai. Yang jelas saat ini proses pengerjaan masih berjalan. Jika air sudah masuk, pengolahan lahan bisa langsung dimulai dan penanaman dilakukan secara serentak," pungkasnya.
Warga Kecewa, Kebun Sudah Ditebang Namun Sawah Belum Bisa Digunakan
Sebelumnya, kondisi tersebut memunculkan keluhan dari sejumlah warga yang sebelumnya menyerahkan lahannya untuk mendukung program cetak sawah.
Beberapa warga mengaku kecewa karena program yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian hingga kini belum memberikan manfaat.
Mereka mengungkapkan bahwa sebelum program dimulai, berbagai tanaman produktif seperti karet, kopi, durian, dan tanaman perkebunan lainnya telah ditebang untuk dijadikan lahan sawah.
Namun setelah proses pembukaan lahan selesai, sawah yang dijanjikan belum dapat digunakan akibat belum tersedianya pasokan air.
"Sawah tidak jadi, rugi kami pak. Sudah ditebang semua kemarin, malah sawahnya tidak jadi,"jelas seorang warga yang namanya enggan dimuat.
Warga lainnya mengaku saat ini berada dalam kondisi sulit karena tidak lagi memiliki kebun yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan, sementara lahan sawah pengganti juga belum bisa ditanami.
Akibatnya, sebagian masyarakat tidak dapat melakukan aktivitas pertanian secara optimal di lokasi tersebut.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong bersama instansi terkait segera melakukan tindak lanjut agar lahan sawah yang telah dicetak dapat dimanfaatkan sesuai tujuan awal program.
"Semoga ada kejelasannya pak, sudah lama ini lahannya selesai, tapi sampai sekarang belum bisa kita gunakan untuk pertanian,"harap warga lainnya.
Warga menilai penyediaan sarana pengairan menjadi kebutuhan mendesak agar ratusan hektar lahan yang telah dibuka tidak terus terbengkalai.
Saat ini, sebagian besar areal cetak sawah tersebut terlihat dipenuhi rumput dan belum menunjukkan aktivitas budidaya pertanian.