Viral Keluhan Antrean SPMB Ludes sejak Dini Hari, Ini Penjelasan SMAN 11 Semarang
raka f pujangga June 10, 2026 06:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Unggahan seorang pengguna media sosial Facebook yang mengeluhkan proses verifikasi dan validasi berkas Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMAN 11 Semarang mendapat respon dari pihak sekolah.

Dalam unggahan yang beredar di grup Facebook itu, pengguna akun itu mengaku beberapa kali datang ke sekolah namun tidak mendapatkan nomor antrean.

Dalam unggahan tersebut, dia mengaku anaknya datang ke SMAN 11 Semarang pada hari kedua pelaksanaan verifikasi sekitar pukul 09.00 WIB. 

Baca juga: Krisis Murid SMP Pinggiran di Kabupaten Semarang, Banyak Sekolah Gagal Penuhi Kuota SPMB 2026

Saat mengambil nomor antrean, panitia disebut menyampaikan nomor antrean telah habis.

Ia mengaku masih memaklumi kondisi tersebut karena merasa anaknya datang terlalu siang.

Namun, pada hari ketiga, anaknya kembali datang lebih pagi, sekitar pukul 06.30 WIB. Menurut pengakuannya, nomor antrean kembali habis. 

Bahkan, ia memperoleh informasi bahwa antrean sudah habis sejak pukul 05.00 WIB.

Karena penasaran, pada malam harinya ia mendatangi sekolah untuk mencari informasi. 

Dari keterangan petugas keamanan yang ditemuinya, antrean disebut akan dibuka pukul 06.30 WIB.

Namun keesokan harinya saat anaknya datang sekitar pukul 05.30 WIB, nomor antrean kembali disebut telah habis.

Dalam unggahan tersebut, pemilik akun mengaku kecewa terhadap pelayanan panitia SPMB dan menilai informasi yang diterima terkait waktu pembagian antrean tidak konsisten.

Menanggapi keluhan tersebut, Ketua Panitia SPMB SMAN 11 Semarang, Tarfiatun, menjelaskan bahwa kondisi yang terjadi bukan karena sekolah membatasi pelayanan, melainkan tingginya jumlah pendaftar yang datang untuk melakukan verifikasi berkas.

"Sebenarnya yang terjadi bukan sulit. Kami tidak membatasi jumlah yang dilayani. Mungkin karena di sekolah lain ada yang menggunakan sistem online sehingga banyak yang akhirnya datang ke sini untuk verifikasi," kata Tarfiatun saat ditemui di posko SPMB SMAN 11 Semarang.

Menurut Tarfiatun, tingginya antusiasme pendaftar membuat antrean sudah terbentuk sejak dini hari.

Bahkan, sejumlah calon peserta didik dan orang tua sudah berinisiatif datang lebih awal berada di depan sekolah sejak pukul 03.00 WIB.

Saat proses wawancara, Tarfiatun kemudian menunjukkan sejumlah foto antrian di area depan sekolah yang berlangsung sejak dini hari itu di ponselnya.

Dia menyebut, antrian sejak dini hari tersebut juga memicu perubahan waktu pembagian nomor antrean.

Awalnya, antrean direncanakan dibuka pukul 06.30 WIB. Namun karena banyaknya kendaraan dan calon pendaftar yang menunggu di sekitar sekolah, petugas keamanan turut mengambil inisiatif membagikan nomor antrean lebih awal.

"Informasi awal memang antrean dibagikan pukul 06.30. Tetapi karena kondisi di depan sekolah sudah sangat ramai, satpam berinisiatif membagikannya mulai pukul 05.00 WIB," ujarnya.

Tarfiatun mengatakan, calon peserta didik yang datang setelah nomor antrean habis harus menunggu giliran pelayanan pada hari berikutnya.

Menurut dia, keterbatasan jumlah panitia membuat proses verifikasi tidak bisa dilakukan tanpa batas dalam satu hari.

Selain persoalan antrean, ia menyebut sebagian keterlambatan pelayanan juga disebabkan adanya dokumen pendaftaran yang tidak sesuai dengan ketentuan.

Beberapa peserta harus melakukan perbaikan data karena dokumen yang diunggah tidak sama dengan dokumen asli atau terdapat kesalahan saat pembuatan akun.

"Kalau datanya lengkap sebenarnya langsung terlayani. Tetapi ada yang dokumennya tidak sesuai, ada yang harus membatalkan akun lalu membuat akun baru lagi. Itu yang membuat proses menjadi lebih lama," katanya.

Ia menegaskan panitia harus mematuhi petunjuk operasional SPMB sehingga tidak dapat memverifikasi berkas yang belum memenuhi syarat administrasi.

Terkait unggahan yang beredar di media sosial, Tarfiatun mengaku pihak sekolah belum mengetahui identitas pengunggah.

Namun ia memastikan seluruh calon peserta didik yang datang ke sekolah untuk mengurus verifikasi akhirnya telah mendapatkan pelayanan.

"Yang datang ke sekolah semuanya sudah terlayani. Tidak ada masalah. Teman-teman panitia juga sudah bekerja semaksimal mungkin sampai sore untuk melayani masyarakat," ujarnya.

Tarfiatun menambahkan, rata-rata jumlah peserta yang melakukan verifikasi di SMAN 11 Semarang mencapai 200 orang per hari.

Baca juga: Tingkat Kecepatan Server SPMB Brebes Lambat, Pendaftar Butuh 30 Menit untuk Verifikasi Data

Dia menyebut, SMAN 11 menjadi salah satu sekolah paling sibuk di Kota Semarang dalam melayani proses verifikasi dibanding sekolah lain.

Ia memprediksi jumlah siswa yang melakukan verifikasi di SMAN 11 Semarang lebih dari 1.000 calon siswa.

Adapun untuk daya tampung sekolah pada SPMB tahun ini sebanyak 432 siswa.(*)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.