Kabar Gembira untuk Santri di Jatim, Pemprov Siapkan 1.100 Beasiswa S1 hingga S3
Samsul Arifin June 10, 2026 07:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Fatimatuz Zahroh

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali memperluas akses pendidikan tinggi bagi kalangan pesantren melalui program beasiswa yang menyasar 1.100 santri dan mahasantri pada Tahun Anggaran 2026.

Program ini mencakup jenjang sarjana (S1), magister (S2), hingga doktor (S3) dan menjadi salah satu upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) berbasis pesantren di Jawa Timur.

Peluncuran program dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, di Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Rabu (10/6/2026). Program tersebut bekerja sama dengan 64 perguruan tinggi mitra di dalam dan luar negeri, termasuk Universitas Al-Azhar.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, program beasiswa kali ini menghadirkan fokus baru dengan membuka kesempatan bagi santri untuk menempuh pendidikan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi menyiapkan generasi pesantren yang mampu bersaing di era perkembangan teknologi dan transformasi global.

Pemprov Jatim menilai penguatan kapasitas santri tidak hanya penting dalam bidang keagamaan, tetapi juga perlu dibarengi dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui pendekatan tersebut, lulusan pesantren diharapkan memiliki peluang lebih luas untuk berkontribusi di berbagai sektor pembangunan.

Selain memperluas akses pendidikan, program ini juga diharapkan mampu melahirkan SDM unggul yang memiliki kompetensi akademik, karakter kuat, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Baca juga: Pemkab Pasuruan Luncurkan Klinik Pesantren Percontohan, Hubungkan Akses Santri & Beasiswa Kesehatan

Tahun Ini Santri Dapat Kesempatan Masuk Jalur STEM

Khofifah mengatakan program beasiswa pesantren terus dikembangkan untuk memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas SDM Jawa Timur.

“Kita terus menguatkan kualitas SDM Jawa Timur melalui diversifikasi akademik dengan memberikan akses yang lebih luas bagi para santri dari berbagai pondok pesantren,” kata Khofifah.

“Nah, tahun ini yang baru lagi adalah santri-santri dari berbagai pondok pesantren sudah mendapat kesempatan untuk bisa masuk pada program dalam payung STEM. Program ini diharapkan bisa menguatkan diversifikasi profesi yang berbasis pesantren,” ujarnya.

Menurutnya, penguasaan ilmu STEM menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda pesantren agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan mengambil peran dalam berbagai sektor strategis pembangunan.

Menyiapkan SDM Pesantren Menghadapi Pergeseran Peradaban Dunia
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyinggung pandangan pakar geopolitik dunia, Kishore Mahbubani, mengenai pergeseran pusat peradaban global ke kawasan Asia.

Menurutnya, Indonesia, khususnya Jawa Timur, perlu mempersiapkan SDM unggul sejak sekarang agar mampu menjadi bagian dari perubahan global tersebut.

“Sebetulnya gravitasi peradaban dunia ini sudah saatnya diwarnai oleh Asia. Kalau kita bersiap lebih awal dan lebih serius, bukan tidak mungkin Indonesia, terutama Jawa Timur, ikut mewarnai peradaban dunia,” katanya.

Karena itu, integrasi pendidikan pesantren dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dinilai menjadi langkah strategis untuk mempercepat peningkatan kualitas SDM.

“Adaptasi ilmu-ilmu STEM dengan dunia pesantren memang harus dilakukan sebagai proses afirmasi. Ini menjadi pintu masuk untuk menyongsong perubahan besar yang sudah diprediksi sejak lama,” jelas Khofifah.

Sebanyak 1.100 Santri dan Mahasantri Menjadi Penerima Beasiswa

Pada Tahun Anggaran 2026, sebanyak 1.100 penerima akan mendapatkan manfaat program beasiswa tersebut.

Mereka terdiri atas:

  • 60 mahasiswa Program Marhalah Ula (M1) Ma'had Aly;
  • 45 mahasiswa Program Marhalah Tsaniyah (M2) Ma'had Aly;
  • 540 mahasiswa Program Sarjana (S1) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS);
  • 285 mahasiswa Program Magister (S2) PTKIS;
  • 80 mahasiswa Program Doktor (S3) PTKIN/PTKIS;
  • 40 mahasiswa Program Sarjana (S1) STEM Perguruan Tinggi Negeri;
  • 20 mahasiswa Program Magister (S2) STEM Perguruan Tinggi Negeri; dan
  • 30 mahasiswa Program Magister (S2) di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Melalui program tersebut, para penerima beasiswa dapat menempuh pendidikan di 64 perguruan tinggi mitra di Jawa Timur maupun di Universitas Al-Azhar yang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di dunia.

Hampir 8.000 Mahasiswa dan Mahasantri Telah Merasakan Manfaat Program

Khofifah menambahkan, program beasiswa pesantren yang dijalankan Pemprov Jatim selama ini telah memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas SDM.

Dalam enam tahun terakhir, program tersebut telah menjangkau 7.976 mahasiswa dan mahasantri. Dari jumlah itu, sebanyak 2.580 penerima beasiswa jenjang sarjana telah lulus, disusul 1.325 lulusan magister dan 64 lulusan doktor.

Pemprov Jatim bahkan memproyeksikan akan lahir sekitar 250 doktor baru dari program ini pada 2029 mendatang.

“Harapan kita program ini tidak hanya menghasilkan academic achievement, tetapi juga menghadirkan kebermanfaatan yang nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” tutur Khofifah.

Program Dinilai Mengalami Perkembangan Signifikan
Sementara itu, Ketua LPPD Jawa Timur, Abdul Halim Soebahar, menilai program beasiswa pesantren mengalami perkembangan signifikan di bawah kepemimpinan Khofifah.

Menurutnya, berbagai inovasi yang dilakukan membuat program tersebut semakin luas manfaatnya bagi kalangan pesantren di Jawa Timur.

“Ada lompatan luar biasa yang terus dilakukan dengan inovasi dari tahun ke tahun. Kami sangat bersyukur Jawa Timur memiliki pemimpin yang sangat peduli terhadap pendidikan, pesantren, dan diniyah,” kata Halim.

Ia juga mengapresiasi perhatian Khofifah dalam membantu berbagai persoalan yang dihadapi santri penerima beasiswa luar negeri, termasuk terkait proses visa dan keberangkatan ke Mesir.

“Alhamdulillah dengan dukungan dan turun tangan Ibu Khofifah, berbagai persoalan bisa diselesaikan. Program ini sudah terbukti melahirkan SDM yang sangat baik untuk masa depan Jawa Timur,” pungkasnya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Pasuruan resmi memulai babak baru dalam penguatan klaster kesehatan di lingkungan keagamaan.

Langkah ini ditandai dengan realisasi pembangunan klinik kesehatan pondok pesantren yang dipusatkan di Pondok Pesantren Besuk sebagai percontohan (pilot project) perdana di Kabupaten Pasuruan.

Program ini bukan sekadar pembangunan fisik semata, melainkan manifestasi dari komitmen 33 program prioritas daerah yang digagas oleh jajaran eksekutif Pemkab Pasuruan guna menyentuh basis masyarakat terkecil secara merata.

Wakil Bupati Pasuruan, KH Shobih Asrori, mengutarakan bahwa pesantren di era modern tidak boleh hanya dipandang sebagai sentra pendidikan moral dan keagamaan, melainkan juga harus menjelma sebagai ekosistem yang mandiri secara sanitasi dan pelayanan kesehatan.

“Program kesehatan pondok pesantren menjadi salah satu atensi utama pemerintah daerah. Untuk tahap awal, Pondok Pesantren Besuk akan menjadi percontohan pembangunan klinik kesehatan pesantren,” terang Gus Shobih di Pasuruan, Selasa (9/6/2026).

Demi menyukseskan infrastruktur medis ini, Pemkab Pasuruan mengalokasikan anggaran daerah sebesar Rp900 juta pada tahun anggaran berjalan untuk mendirikan gedung poliklinik representatif di kawasan pesantren.

Gus Shobih menjelaskan, skema operasional klinik kesehatan pesantren dirancang setara dengan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) atau puskesmas pembantu umum. Untuk menjamin profesionalitas pelayanan, tata kelola manajemen klinik dipastikan akan terintegrasi langsung dengan Dinas Kesehatan.

“Kepala kliniknya nanti tetap kami tempatkan dari unsur Aparatur Sipil Negara (ASN) bidang kesehatan. Fasilitas obat-obatan dan standarisasi pelayanannya sama seperti klinik pada umumnya, sehingga legal dan bisa dimanfaatkan optimal oleh ribuan santri sekaligus warga yang bermukim di sekitar pondok,” imbuhnya.

Sinergi Hulu-Hilir dengan Beasiswa Kesehatan Santri

Hal menarik dari program inovasi Pemkab Pasuruan ini adalah interkoneksi program yang berkelanjutan dari hulu ke hilir. Pembangunan klinik fisik di hilir, sengaja dikawinkan dengan program beasiswa kedokteran dan kesehatan yang rutin dikucurkan Pemkab bagi putra-putri daerah di sektor hulu.

Pemerintah daerah memfasilitasi pemuda berbakat dari kalangan santri untuk menempuh pendidikan tinggi kesehatan melalui jalur beasiswa penuh. Skenarionya, pasca-menyelesaikan studi kedokteran atau keperawatan, para lulusan beasiswa daerah tersebut diberikan ruang pengabdian utama di klinik-klinik pesantren ini.

“Hulunya kami intervensi dan siapkan melalui beasiswa. Setelah mereka lulus, mereka kembali ke daerah untuk mengabdi di klinik kesehatan pesantren yang kami bangun ini. Antara penyiapan kuantitas SDM lokal dengan fasilitas layanannya terhubung secara otomatis,” urai Gus Shobih mendalam.

Melalui model ekosistem yang mandiri dan sirkular tersebut, Pemkab Pasuruan optimistis kualitas kesehatan para santri dapat terpantau secara berkala tanpa perlu terkendala jarak geografis, sekaligus menjadi motor penggerak pemerataan akses kesehatan darurat bagi masyarakat perdesaan di Kabupaten Pasuruan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.