Kenaikan Harga Pertamax Kejutkan Warga Balangan, Wahidah Jadi Keluarkan Dana Lebih untuk BBM
Ratino Taufik June 10, 2026 07:50 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, PARINGIN - Di tengah antrean yang masih sedikit, satu sampai dua orang, Wahidah menunggu giliran untuk mengisi BBM jenis pertamax di SPBU Haur Batu, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, Rabu (10/6/2026).

Ia datang dari Desa Muara Ninian, Kecamatan Juai, Kabupaten Balangan, mengendarai sepeda motor Jupiter Z warna merah dan membawa jirigen dengan isi lima liter. 

Bukan tanpa alasan Wahibah memilih mengisi BBM jenis pertamax, padahal ia bisa saja mengisi sepeda motornya dengan BBM pertalite. Namun rupanya motor Wahibah tidak bisa menggunakan BBM jenis pertalite, berdampak suara tik-tik atau ngelitik saat di gas, bahkan tidak mau menyala yang dikhawatirkan berdampak pada mesin.

"Dulu pernah pakai pertalite, malah tidak mau hidup, ada bunyi yang tidak pas, jadi kami memilih pertamax saja yang lebih cocok," ungkapnya.

Pagi ini kata Wahidah ia sempat kaget dengan kenaikan harga pertamax yang signifikan. Namun apa boleh buat, tidak ada pilihan lain selain membeli bahan bakar tersebut, meski harus mengeluarkan dana lebih.

Secara berkala, Wahibah datang ke SPBU Paringin yang jaraknya kurang lebih 15 KM dari desanya. Ia selalu membawa jirigen lima liter untuk diisi sebagai cadangan. 

Harga di eceran ujar Wahibah sudah cukup tinggi, tidak menguntungkan dibeli bagi dirinya yang hanya bekerja sebagai petani karet. 

"Tadi pagi saya dengar harga eceran di kampung sudah sampai Rp19.000 sampai Rp20.000, mahal sekali," ungkapnya.

Sementara di SPBU, ia bisa mendapatkan harga lebih hemat meski sudah ada kenaikan Bbm jenis pertamax. 

Baca juga: Pertamax Naik Mendadak, Ketua SPION Tanah Bumbu: Kebijakan Janggal, Cekik Driver Ojol

Kali ini kata Wahidah, ia perdana mengisi BBM pertamax dengan harga terbaru, Rp17.000. Padahal biasanya hanya Rp12.900.

Ia pun sangat menyayangkan adanya kenaikan BBM jenis Pertamax tersebut yang berdampak langsung dalam kesehariannya untuk ke kebun karet. Belum lagi kata Wahibah kenaikan harga di bidang lain, sembako, plastik dan kebutuhan lainnya, sementara penghasilan tidak meningkat.

Beruntung ungkapnya harga karet saat ini tidak semurah sebelumnya, sehingga sedikit banyaknya dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Selain Wahidah, warga lainnya, Marlina juga cukup terkejut akan kenaikan BBM jenis pertamax ini. 

Ia berasumsi, harga di eceran tentu akan mulai tinggi, karena harga resmi sudah mencapai Rp17.000. Sementara sebelumnya, saat harga pertamax masih harga lama, di eceran sudah mulai dijual seharga Rp16.000.

"Kalau mau mengisi ke SPBU cukup jauh, terpaksa harus mengisi eceran dan harganya sudah pasti tinggi, setidaknya lebih naik dua ribu rupiah atau tiga ribu rupiah perliternya dari harga normal," ungkap warga Halong ini.

Sebagai masyarakat, ia hanya bisa menerima keputusan kenaikan pertamax tersebut di tengah penghasilan yang menurutnya masih stagnant, apalagi hanya satu pekerjaan tanpa mata pencarian sampingan.

Ia pun berharap kebijakan kenaikan BBM ini bisa diulas kembali, mengingat dampaknya yang berpengaruh terhadap kebutuhan pokok lainnya. (banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.