Pertamax Naik, Pengendara di Solo Berharap Harga Segera Turun, Ogah Ganti Pertalite: Perlu Evaluasi
Listusista Anggeng Rasmi June 10, 2026 07:54 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kenaikan harga BBM jenis Pertamax secara mendadak memicu gelombang reaksi dari masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Surakarta atau Kota Solo.

Lonjakan harga dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter membuat banyak pengguna kendaraan terkejut karena selisihnya mencapai hampir Rp4.000 per liter.

Kebijakan yang mulai berlaku pada Rabu (10/6/2026) itu langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat dan pengguna kendaraan pribadi.

Sebagian warga mengaku tidak menyangka kenaikan yang terjadi begitu besar dalam waktu singkat.

Salah satunya adalah Dimas Harjo (42), warga Pasarkliwon, yang mengaku baru mengetahui perubahan harga tersebut saat hendak mengisi bahan bakar kendaraannya.

Menurut Dimas, kenaikan itu terasa sangat mengejutkan karena sehari sebelumnya harga Pertamax masih berada pada angka lama.

“Cukup kaget soalnya kemarin saya ngisi masih harga segitu, terus hari ini ternyata sudah naik hampir Rp 4 ribu per liter,” ungkap Dimas.

Sebagai pengguna sepeda motor trail, Dimas mengaku selama ini selalu mengandalkan Pertamax untuk menunjang performa sekaligus menjaga kondisi mesin kendaraannya.

Ia menilai penggunaan BBM dengan kualitas yang sesuai menjadi bagian penting dari perawatan kendaraan yang digunakan setiap hari.

Meski merasakan dampak langsung dari kenaikan harga tersebut, Dimas mengaku masih berusaha mempertahankan kebiasaannya menggunakan Pertamax.

Baca juga: 5 Tempat Sewa Mobil di Solo Jawa Tengah, Ada Lestari Rental Mobil Murah dan Damai Rent Car

MENGULAR. Antrean di jalur Pertalite mengular di salah satu SPBU kota Solo di momen harga BBM Pertamax naik, Rabu (10/6/2026). Warga berharap pemerintah segera mengintervensi agar harga turun.
MENGULAR. Antrean di jalur Pertalite mengular di salah satu SPBU kota Solo di momen harga BBM Pertamax naik, Rabu (10/6/2026). Warga berharap pemerintah segera mengintervensi agar harga turun. ((Ist)/TribunSolo.com/Andreas Chris Febrianto)

“Ya sebetulnya kalau dibilang terdampak, kita ya terdampak. Meskipun pengguna Pertamax, di satu sisi memang untuk perawatan kendaraan yang saya pakai,” lanjut Dimas.

Kenaikan harga ini juga memunculkan dilema bagi sebagian pengguna yang harus mempertimbangkan kembali pengeluaran rutin mereka untuk kebutuhan bahan bakar.

Saat ditanya mengenai kemungkinan beralih ke BBM jenis lain yang lebih murah, Dimas mengaku belum bisa mengambil keputusan secara cepat.

Ia masih menimbang berbagai aspek, mulai dari kebutuhan kendaraan hingga biaya operasional yang kini semakin meningkat.

“Kalau beralih mungkin enggan ya. Memang kendaraan ini dari awal sudah menggunakan Pertamax. Nanti entah bagaimana, tapi memang saya cukup kaget,” jelasnya.

Baca juga: Harga BBM Pertamax Naik, Pengendara di Bone Pilih Beralih ke Pertalite Agar Hemat: Selisih Banyak

ILUSTRASI. Antrean kendaraan mengisi bahan bakar minyak (BBM) mengular panjang hingga ke jalan-jalan di SPBU Laweyan Jalan Dr. Radjiman, Solo, Selasa (31/3/2026). Diketahui, antrean ini terjadi di tengah isu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang diperkirakan naik menjadi Rp17.850 per liter ((Ist)/TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

Berharap Ada Intervensi Pemerintah

Dengan kondisi ekonomi yang diakui Dimas saat ini masih belum stabil, ia berharap ada intervensi dari pemerintah terkait harga BBM nonsubsidi tersebut.

Menurutnya, BBM merupakan salah satu komoditas yang saat ini cukup berpengaruh bagi masyarakat dan bisa berdampak luas apabila terjadi kenaikan harga.

“Ya kalau saya maaf perlu dievaluasi juga karena akhir-akhir ini kondisi ekonomi di Indonesia secara luas memang belum stabil,” pungkasnya.

Sementara itu, dari pantauan di SPBU Manahan tampak antrean mulai mengular di jalur Pertalite. Namun, antrean tersebut tidak sampai ke badan jalan.

Sedangkan untuk jalur Pertamax bagi sepeda motor, tampak hanya sedikit antrean, sekitar empat hingga lima sepeda motor.

Sebagai informasi, antrean tersebut memang terjadi pada jam-jam sibuk seperti pagi dan sore hari.

(Tribunnewsmaker.com/ TribunSolo/ Andreas Chris Febrianto)


© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.