Dampak Harga Pertamax di Purwokerto Naik: Mobilitas dan Daya Beli Mahasiswa Turun, Ekonomi Terdampak
rika irawati June 10, 2026 10:07 PM

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax yang berlaku mulai hari ini, Rabu (10/6/2026), bakal memengaruhi kehidupan mahasiswa di Purwokerto, Kabupaten Banyumas.

Dosen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Oki Anggraeni bahkan menyebut, kondisi ini bisa memengaruhi aktivitas ekonomi Purwokerto.

Sebab, menurut Oki, penggerak utama aktivitas ekonomi di Purwokerto selama ini adalah mahasiswa.

Oki mengatakan, sebagian besar mahasiswa menggunakan kendaraan pribadi untuk beraktivitas, mulai dari berangkat kuliah hingga menjalani aktivitas harian lain.

"Kalau mahasiswa, terutama mahasiswa di Banyumas, aktivitasnya banyak menggunakan transportasi atau kendaraan pribadi, otomatis kenaikan BBM ini akan terasa," katanya, Rabu (10/6/2026).

Baca juga: Kenaikan Harga Pertamax Terlalu Besar, Warga Banyumas Beralih ke Pertalite

Daya beli mereka juga bisa menurun, terutama mahasiswa asal luar daerah atau mahasiswa perantau.

"Mahasiswa yang merantau dengan uang saku terbatas pasti akan sangat merasakan kenaikan harga BBM ini," ujar Oki.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memengaruhi biaya hidup mahasiswa di Purwokerto.

"Potensinya bisa memengaruhi konsumsi, kos, hingga aktivitas akademik mahasiswa."

"Itu juga bisa terdampak apabila terjadi penyesuaian biaya di berbagai sektor," ungkapnya.

Picu Inflasi

Itu sebabnya, Oki menilai, perlu ada perhatian serius terhadap kenaikan harga Pertamax ini.

Apalagi, kenaikan harga Pertamax melonjak tajam, hampir Rp4000, menjadi Rp16.250 per liter.

Secara umum, dampak nyata dari kenaikan harga BBM adalah meningkatnya biaya transportasi rumah tangga maupun pelaku usaha.

"Kemudian yang kedua, kenaikan biaya distribusi barang yang pada akhirnya dapat mendorong terjadinya inflasi," katanya.

Selain itu, lanjut Oki, kenaikan harga BBM juga berpotensi menurunkan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan menengah ke bawah.

"Daya beli masyarakat bisa menurun, khususnya kelompok menengah ke bawah yang memang sangat sensitif terhadap perubahan harga kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Baca juga: BI Jateng Antisipasi Dampak Kenaikan Harga Pertamax: Jaga Pasokan Bahan Pangan di Daerah Defisit

Dampak lain adalah meningkatnya biaya operasional usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang masih bergantung pada transportasi untuk kegiatan usaha mereka.

Meski demikian, Oki menilai, dampak di Banyumas kemungkinan tidak langsung dirasakan pada seluruh komoditas karena yang mengalami kenaikan adalah BBM non-subsidi.

"Dampak real yang paling cepat terasa di Banyumas kemungkinan tidak langsung ke semua barang, karena yang naik adalah Pertamax yang merupakan BBM non-subsidi."

"Sementara, Pertalite dan Solar subsidi masih tetap," jelasnya.

Diketahui, Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga pada Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (RON 95).

Harga Pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter atau naik Rp3.950 per liter.

Sementara, Pertamax Green, naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter atau bertambah Rp4.100 per liter.

Untuk BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan harga. 

Pertalite (RON 90) tetap dijual Rp10.000 per liter dan Solar Subsidi tetap Rp6.800 per liter. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.