TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR - Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis pertamax memicu beragam respons masyarakat di Tanjung Selor, Kalimantan Utara.
Sebagian tetap menggunakan pertamax, sementara lainnya beralih ke pertalite yang lebih murah.
Peralihan ini menimbulkan perbandingan antara BBM subsidi dan non-subsidi, terutama terkait kualitas serta dampaknya terhadap kendaraan.
Pengawas SPBU Prima Agung Raya Jalan Sengkawit, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Aldi, menjelaskan perbedaan utama BBM subsidi dan non-subsidi terletak pada nilai Research Octane Number (RON) atau angka oktan.
Menurutnya, pertalite sebagai BBM subsidi memiliki RON 90, sedangkan pertamax RON 92 dan pertamax Turbo RON 95.
"Kalau subsidi itu kan dari anggaran pemerintah. Perbedaannya juga dari RON. pertalite itu RON 90, pertamax RON 92, dan pertamax Turbo RON 95," ujar Aldi, Rabu (10/6/2026).
Baca juga: Warga Tanjung Selor dan Komunitas Motor Mengeluh Biaya BBM Membengkak Buntut Harga Pertamax Naik
Ia menjelaskan, semakin tinggi nilai RON, semakin sesuai untuk kendaraan dengan spesifikasi mesin lebih tinggi. Karena itu, pemilik kendaraan disarankan menggunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan agar performa tetap optimal.
"Semakin tinggi RON-nya, semakin bagus. Biasanya kendaraan dengan CC yang lebih tinggi juga membutuhkan RON yang lebih tinggi," paparnya.
Aldi menambahkan, kendaraan bermesin besar memang masih bisa menggunakan pertalite, tetapi dalam jangka panjang berpotensi menurunkan kestabilan mesin.
"Memang mampu digunakan, tetapi dalam jangka panjang mesin itu tidak stabil karena bukan makanannya. Kalau kendaraan yang direkomendasikan pertamax lalu diisi BBM dengan RON lebih rendah, tentu tidak seimbang," jelasnya.
Menurutnya, pemilihan BBM sesuai spesifikasi tidak hanya menjaga performa, tetapi juga memperpanjang usia mesin.
"Ini juga berpengaruh terhadap performa kendaraan agar tetap dalam kondisi prima dalam jangka panjang," pungkasnya.
Seperti diketahui, per Rabu (10/6/2026) PT Pertamina resmi menaikkan harga pertamax di Kaltara sebesar Rp4.100, dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
(*)
Penulis : Desi Kartika Ayu