Rupiah Anjlok dan BBM Naik, Akademisi UBL Bagikan Strategi Bertahan Hidup
Noval Andriansyah June 11, 2026 12:19 AM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat bukan lagi sekadar angka di papan valuta asing, melainkan alarm keras bagi dompet setiap rumah tangga.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 18.000, Ekonom Unila Soroti Dampak Kenaikan BI Rate dan Harga BBM

Melemahnya nilai tukar rupiah yang kian terpuruk akibat bara geopolitik di Timur Tengah, kini mulai berdampak nyata pada biaya hidup sehari-hari masyarakat di Lampung.

Sebagai langkah penyelamatan moneter, Bank Indonesia (BI) resmi mengumumkan kenaikan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Selasa (9/6/2026).

Suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility pun ikut terkerek masing-masing menjadi 4,50 persen dan 6,25 persen guna menahan laju inflasi.

Efek domino dari lesunya rupiah langsung menyergap sektor energi. Per Rabu (10/6/2026), harga BBM nonsubsidi di SPBU meroket tajam, Pertamax menyentuh Rp16.250 per liter, Pertamax Turbo menembus Rp20.750 per liter, bahkan Pertamina Dex bertengger di angka Rp24.800 per liter.

Situasi ini tentu menghimpit masyarakat, mengingat hanya Pertalite (Rp10.000/liter) dan Biosolar (Rp6.800/liter) yang harganya masih ditahan pemerintah.

Pangkas Pengeluaran Tersier, Pertebal Bantalan Darurat

Merespons badai ekonomi yang kian menyesakkan dada ini, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bandar Lampung (UBL), Sony Tian Dhora, S.E., M.E., angkat bicara.

Ia mengetuk kesadaran masyarakat agar segera melakukan "pengereman mendadak" terhadap gaya hidup dan lebih disiplin dalam mengelola arus kas keluarga.

Menurut Sony, langkah mitigasi pertama yang harus diambil adalah menyusun skala prioritas dengan menunda segala pengeluaran yang sifatnya konsumtif atau tidak mendesak.

"Fokus total pada kebutuhan primer seperti makanan, kesehatan, pendidikan anak, dan operasional rumah tangga. Untuk sementara waktu, keinginan membeli barang tersier seperti barang mewah, gawai (gadget) baru, atau pengeluaran gaya hidup yang tidak penting sebaiknya ditunda sampai kondisi makro kembali stabil," imbau Sony, Rabu (10/6/2026).

Sony juga mewanti-wanti masyarakat agar tidak terjebak dalam lubang hitam utang konsumtif, terutama pinjaman online (pinjol) atau kartu kredit dengan bunga tinggi.

Keputusan BI menaikkan suku bunga acuan otomatis akan membuat biaya pinjaman atau cicilan membengkak, yang justru bisa menjadi bom waktu bagi stabilitas finansial rumah tangga.

"Jangan berutang hanya demi memenuhi gengsi atau gaya hidup. Utang seperti itu sama sekali tidak memberikan nilai ekonomi yang produktif," tegasnya.

Sebaliknya, ia menyarankan warga untuk mulai memperkuat alokasi dana darurat sebagai benteng pertahanan terakhir jika terjadi gangguan pada pendapatan atau ada kebutuhan medis yang mendadak.

Sinyal Efisiensi untuk Pelaku Usaha di Lampung

Tidak hanya bagi konsumen, resep bertahan di tengah krisis juga dibagikan Sony untuk para pelaku usaha di Bumi Ruwa Jurai. Di tengah potensi melambatnya daya beli pasar, pengusaha dituntut untuk bergerak lincah melakukan efisiensi operasional secara ketat.

  • Kendali Biaya: Lakukan evaluasi mendalam dan pangkas pos pengeluaran yang tidak memberikan nilai tambah bagi produk.
  • Fokus Likuiditas: Jaga arus kas (cash flow) agar tetap segar. Likuiditas yang sehat adalah kunci bagi perusahaan untuk tetap hidup, membayar kewajiban, dan menggaji karyawan di tengah ketidakpastian.

Di akhir ulasannya, Sony mendorong masyarakat untuk memanfaatkan ekosistem digital guna mencari sumber pendapatan alternatif atau usaha sampingan yang sesuai minat.

Kombinasi antara disiplin ketat dalam memotong pengeluaran, penguatan dana darurat, serta kreativitas mencari peluang baru menjadi kunci utama agar masyarakat dan pelaku usaha di Lampung tidak tergilas oleh roda inflasi global yang sedang berputar kencang.

( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.