Diadopsi di Perguruan Tinggi, AI Kini Jadi Asisten Pribadi Mahasiswa Belajar Ilmu Akuntansi
Seno Tri Sulistiyono June 11, 2026 01:19 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG - Adopsi teknologi kecerdasan buatan kini makin meluas, tidak hanya oleh beragam sektor industri tapi juga mulai diadopsi di perguruan tinggi.

Di lingkungan akademik, AI digunakan untuk membantu aktivitas belajar mahasiswa memahami berbagai mata kuliah. Seperti yang sekarang dijalankan Universitas Bunda Mulia (UBM) di Tangerang,

Perguruan tinggi swasta di kawasan Serpong ini mengadosi AI menjadi asisten akademik untuk membantu mahasiswa mendalami ilmu akuntansi. Teknologi AI diterapkan sebagai tool perkuliahan mahasiswa Program Studi Akuntansi.

Baca juga: Menjawab Tantangan AI, Transformasi Dunia Akuntansi Kini Butuh Pemimpin Riset dan Strategi Bisnis

Boleh dibilang, kampus ini menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia yang sudah mengaplikasikan AI di aktivitas perkuliahan.

Rektor UBM Doddy Surja Bajuadji mengatakan, teknlogi AI yang dikembangkan ini bernama UBM AI Tutor, sebagai platform asisten akademik pintar berbasis AI pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan kurikulum Outcome-Based Education (OBE).

Mahasiswa bisa mengakses kapan saja dan dari mana saja UBM AI Tutor karena diposisikan sebagai tutor pribadi dalam proses pembelajarannya.

Yang membedakan platform ini dari berbagai aplikasi AI lainnya adalah integrasinya dengan kurikulum OBE yang diterapkan di kampus ini. Artinya, setiap aktivitas pembelajaran, latihan, diskusi, dan evaluasi yang dilakukan melalui platform ini dirancang untuk mendukung capaian pembelajaran mata kuliah yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

"Dengan integrasi tersebut, UBM AI Tutor tidak hanya membantu mahasiswa menemukan jawaban, tetapi juga membimbing proses belajar agar selaras dengan kompetensi yang harus dicapai," ujarnya saat ditemui di kampus UBM, Tangerang, Rabu, 10 Juni 2026.

Dosen Bisa Memonitor Proses Belajar Mahasiswa

Di sisi lain, dosen juga bisa melakukan monitoring proses belajar setiap mahasiswa secara presisi. Ini karena melalui tutor ini, dosen bisa mengakses data dan informasi yang lebih akurat untuk memetakan tingkat ketercapaian CPMK (Capaian Pembelajaran Mata Kuliah) mahasiswa secara berkelanjutan.

Manfaatnya, proses pembelajaran menjadi lebih terstruktur dan objektif.

Keunggulan lain dari adopsi AI ini adalah penerapan pendekatan Student-Centered Learning yang mendorong mahasiswa untuk belajar secara aktif dan mandiri.

Melalui fitur-fitur interaktif, mahasiswa didorong untuk berpartisipasi lebih aktif, meningkatkan motivasi belajar, serta membangun budaya akademik yang kompetitif dan kolaboratif.

"Dosen bisa melakukan pemetaan kekuatan dan kelemahan (masing-masing) mahasiswa dan mahasiswa bisa belajar secara mandiri tanpa harus terus-menerus bertanya kepada dosen," ungkap Adhiguna Mahendra, Dekan Fakultas Teknologi dan Desain UBM saat dimintai tanggapannya oleh Tribunnews.

"Selama ini mungkin mahasiswa malu bertanya kepada dosen, dengan bantuan AI ini mahasiswa bisa bertanya tentang materi kuliah dan dosen juga bisa mengukur sejauh mana kemampuan mahasiswa (menyerap materi kuliah). Ini sangat bagus untuk student learning-based center," sebutnya.

Dia menegaskan, saat memasuki evaluasi pembelajaran, AI Tutor akan dipisahkan interaksinya dengan mahasiswa untuk sementara waktu. Dengan demikian, mahasiswa tetap menjalani ujian, dan melakukan presentasi secara mandiri dan diawasi oleh dokter.

"Jadi AI Tutor ini fungsinya hanya sebagai tools pembelajaran," tegasnya.

Young Dame Rosemary Napitupulu - Direktur Marketing & Fasilitas UBM menambahkan, ke depan, semua program studi di kampusnya juga akan mengadopsi AI yang langsung diintegrasikan di proses perkuliahan mahasiswa.

Soal potensi penyalahgunaan Tutor AI ini oleh mahasiswa, dia menepis.

"Platform ini adanya di portal mahasiswa, jadi penggunaannya akan bisa dipantau. Platform ini dibuat juga agar mahasiswa tidak jenuh saat belajar karena di dalamnya juga ada fitur-fitur menarik. Misalnya kuis soal yang menantang mahasiswa, siapa yang bisa menyelesaikan lebih dulu," sebutnya.

Hery Heryanto, Manager Akademik UBM menekankan, implementasi AI dalam proses belajar mahasiswa ini juga mengedepankan nilai-nilai etika sesuai standar etika yang dianut kampus. Begitu juga aspek keamanannya.

"Kami tidak hanya mengajarkan tentang AI-nya. Tapi berkolaborasi dengan industri melahirkan karya ini," ungkap Hery Heryanto.

Dukungan LLDikti Wilayah III 

Henri Togar Hasiholan Tambunan, Kepala LLDikti Wilayah III mengatakan, dinamika di dunia pendidikan tinggi itu saat ini bergerak sangat cepat.

"LLDikti wilayah III terus mendorong agar kampus-kampus di Jakarta tidak hanya sekadar memenuhi standar nasional, tetapi mampu melompat ke depan, memprediksi apa yang dibutuhkan oleh industri dan mahasiswa kita di masa yang akan datang," ujarnya.

Karena itu, pihaknya mengapresiasi keberhasilan UBM mengintegrasikan teknologi AI itu ke dalam
sistem pembelajaran inti guna meningkatkan mutu pendidikan secara konkret.

"Kami mencatat UBM sebelumnya juga menjadi pionir sebagai perguruan tinggi Indonesia yang membuka program studi Artificial Intelligence," ujarnya.

Pihaknya berharap teknologi AI Tutor benar-benar diadopsi secara maksimal oleh seluruh dosen dan mahasiswa dalam aktivitas akademik sehari-hari, bukan hanya menjadi pajangan inovasi atau pemanis portofolio kampus saja.

"Selain itu, jaga keamanan data dan etika. Penggunaan AI di lingkungan akademik harus tetap menjunjung tinggi integritas, menjunjung tinggi etika intelektual, dan keamanan data mahasiswa serta institusi tentunya," sebutnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.