TRIBUNKALTIM.CO, TANA PASER – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.650 per liter ternyata tidak memicu lonjakan antrean atau kepanikan di tingkat konsumen di Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur.
Situasi di sejumlah SPBU, salah satunya di SPBU 64.762.03 Jalan Jenderal Sudirman, Tanah Grogot, Kabupaten Paser terpantau tetap normal pada Rabu (10/6/2026).
Pengawas SPBU 64.762.03, Dalle, mengonfirmasi bahwa harga Pertamax resmi mengalami kenaikan sebesar Rp4.050 dari harga sebelumnya, yakni Rp12.600 per liter.
Kendati harga melonjak, ia memastikan animo masyarakat untuk membeli Pertamax tidak berkurang.
Baca juga: Warga Penajam Paser Utara Siasati Antrean BBM dengan Membeli Pertamax
"Meski ada kenaikan harga, penjualan tetap berjalan normal. Pagi tadi saja, penjualan sudah hampir mencapai 9 ton untuk jenis Pertamax," ujar Dalle saat ditemui TribunKaltim.co di lokasi.
Dalle menjelaskan, pihaknya menerapkan sistem manajemen stok yang fleksibel sesuai permintaan pasar. Rata-rata pasokan harian yang diminta mencapai 24 ton.
Namun, angka tersebut disesuaikan dengan volume penjualan harian yang berkisar antara 16 hingga 22 ton agar tidak terjadi penumpukan di tangki penyimpanan berkapasitas 60 ton.
"Kami tidak tahu sama sekali akan ada perubahan harga. Kebijakan ini berbeda dari biasanya yang umumnya dilakukan setiap awal bulan. Kami hanya mengikuti acuan resmi dari Pertamina yang berubah secara tiba-tiba pada tengah malam," tambahnya.
Di sisi lain, konsumen mulai merasakan dampak langsung terhadap pengeluaran harian mereka.
Sahrul, warga Jone, mengaku harus menyiapkan dana lebih banyak untuk mengisi bahan bakar kendaraannya.
"Jika biasanya Rp85 ribu sudah cukup untuk full tank, sekarang dengan kapasitas tangki 8 liter, saya harus mengeluarkan biaya lebih dari Rp100 ribu," keluhnya.
Senada dengan Sahrul, Totong, warga Desa Tapis, merasakan penurunan volume pembelian.
Dengan modal Rp50 ribu, ia yang biasanya mendapatkan 4 liter Pertamax, kini hanya memperoleh 3 liter. Meski sempat terpikir untuk beralih ke Pertalite, keterbatasan akses menjadi kendala utama.
Baca juga: Alasan Fraksi Golkar Absen dalam Paripurna Hak Angket DPRD Kaltim
"Ada keinginan untuk beralih ke Pertalite, namun harus ke SPBU lain yang lokasinya cukup jauh. Jadi, mau tidak mau saya tetap bertahan di Pertamax karena lokasi SPBU di pusat kota lebih dekat dan efisien," pungkas Totong.
Hingga saat ini, pihak SPBU terus memantau situasi di lapangan guna memastikan operasional tetap berjalan kondusif, meskipun mereka tidak menampik bahwa pola konsumsi masyarakat mungkin akan berubah seiring berjalannya waktu. (*)