Baca juga: Harga Pertamax Naik Rp16.650 per Liter, Antrean Pertalite di Sejumlah SPBU Palembang Makin Panjang
SRIPOKU.COM, SEKAYU – Gelombang penyesuaian tarif Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi per Rabu (10/6/2026) langsung memicu perubahan perilaku konsumen di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan. Lantaran harga Pertamax melambung tinggi, sejumlah besar pengendara di Kota Sekayu memilih berpaling dan mengantre di jalur BBM bersubsidi jenis Pertalite demi menyelamatkan isi dompet.
Fenomena migrasi konsumen ini terpantau jelas dari padatnya antrean kendaraan di SPBU 24.307.156 yang berlokasi di Jalan Balai Agung No. 86, Kelurahan Serasan Jaya, Kecamatan Sekayu, Muba.
Sejak PT Pertamina Patra Niaga resmi memberlakukan harga baru Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter dari tarif sebelumnya yang hanya Rp12.300 per liter, lajur pengisian Pertalite langsung diserbu pengendara.
Sebaliknya, dispenser pengisian Pertamax yang biasanya ramai lancar kini mendadak sepi dan lengang.
SPBU Balai Agung yang beroperasi penuh selama 24 jam ini memang menjadi urat nadi pengisian bahan bakar di Sekayu, terutama bagi armada angkutan logistik dan truk komersial bertonase besar.
Pada malam hari, antrean kendaraan besar juga kerap mengular di lajur Biosolar bersubsidi yang harganya masih dipatok stabil di angka Rp6.800 per liter.
Salah seorang pemilik mobil pribadi di Sekayu, Dani Iskandar (41), mengaku langsung memarkirkan ego kenyamanan kendaraannya dan memilih ikut mengantre Pertalite.
Selisih harga yang menyentuh Rp3.950 per liter dinilai terlalu berat jika harus dipaksakan.
"Biasanya saya selalu isi Pertamax karena performa mesin lebih nyaman dan yang penting tidak perlu membuang waktu untuk mengantre. Tapi begitu tahu harganya melonjak drastis, saya pilih beralih ke Pertalite dulu agar pengeluaran bulanan tidak membengkak," ungkap Dani, Rabu (10/6/2026) sore.
Dani memberikan gambaran riil beratnya harga baru ini.
Jika sebelumnya ia merogoh kocek Rp300 ribu bisa mendapatkan sekitar 24,3 liter Pertamax, kini dengan nominal uang yang sama ia hanya bisa membawa pulang sekitar 18,4 liter saja.
"Kenaikannya mendadak sekali, tiba-tiba tengah malam harganya sudah berubah di papan SPBU. Kita rakyat kecil berharap ke depan ada penyesuaian atau evaluasi lagi dari pemerintah. Kasihan masyarakat, apalagi yang kendaraannya dipakai untuk modal usaha mencari nafkah," keluhnya.
Antrean Pertalite Mengular
Kondisi terjepitnya konsumen juga dirasakan oleh para pengendara roda dua.
Imron (34), seorang pemotor di Sekayu, mengeluhkan waktu tunggunya di SPBU yang kini membengkak hingga setengah jam hanya untuk bisa mengisi tangki motornya dengan Pertalite.
"Biasanya kalau saya lagi buru-buru, saya langsung potong lajur ke pengisian Pertamax karena sepi. Tapi sekarang mana mungkin lagi, harganya mahal sekali, selisihnya nyaris bisa buat beli dua liter Pertalite. Efeknya, semua motor menumpuk di jalur subsidi. Apalagi di pusat Kota Sekayu ini cuma ada dua SPBU, kalau terus-terusan begini Pertalite pasti bakal lebih cepat habis dari biasanya," keluh Imron.
Sebagai informasi, dalam penyesuaian harga nonsubsidi per 10 Juni 2026 ini, harga Pertamax Green 95 di wilayah Sumsel juga ikut terkoreksi naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Sementara itu, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan, di mana Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Baca juga: Pertamax Naik Drastis, Warga Lubuk Linggau: Ini Bukan Naik, Tapi Ganti Harga Bikin Pening!