TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat meminta pendekatan jemput bola yang diterapkan Puskesmas Sukoharjo I dalam mendampingi penderita hipertensi dan diabetes dapat diterapkan di puskesmas lain di Kabupaten Wonosobo.
Menurutnya, langkah tersebut penting mengingat masih terdapat sekitar 57 ribu penderita hipertensi dan lebih dari 10 ribu penderita diabetes di Wonosobo yang belum terjangkau Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).
Berbagai terobosan yang lahir dari fasilitas kesehatan tingkat pertama diperlukan untuk memperkuat pengendalian penyakit kronis yang masih menjadi tantangan di daerah.
Baca juga: Kasus Hipertensi di Wonosobo Tembus 136 Ribu Orang, Dinkes Soroti Ancaman Stroke dan Gagal Ginjal
Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan pemeriksaan Prolanis massal dan peluncuran inovasi pelayanan kesehatan di Puskesmas Sukoharjo I, Rabu (10/6/2026).
Afif mengaku mengapresiasi langkah yang dilakukan jajaran puskesmas dalam mengembangkan pelayanan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Menurutnya, inovasi yang lahir dari Puskesmas Sukoharjo I menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya bukan menjadi penghalang untuk menghadirkan pelayanan yang lebih baik.
Ia menilai tenaga kesehatan di tingkat puskesmas selama ini bekerja dalam berbagai keterbatasan, termasuk jumlah sumber daya manusia yang tidak selalu ideal.
Meski demikian, pelayanan kepada masyarakat tetap dapat berjalan maksimal apabila seluruh pihak memiliki semangat yang sama.
"Bagaimana dengan SDM yang terbatas itu semua bisa kerja maksimal, semua bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat," ucapnya.
Afif mengatakan pelayanan kesehatan tidak boleh hanya menunggu masyarakat datang ketika sudah sakit.
Sebaliknya, tenaga kesehatan perlu hadir lebih dekat agar masyarakat mendapatkan pendampingan sejak dini.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting terutama untuk mengendalikan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus yang membutuhkan pengawasan jangka panjang.
"Kita tidak boleh menunggu masyarakat datang dalam kondisi sakit," tegasnya.
Ia menjelaskan banyak penderita hipertensi maupun diabetes yang sebenarnya membutuhkan pendampingan berkelanjutan agar kondisi kesehatannya tetap terkendali.
Melalui pemantauan yang rutin, masyarakat dapat memperoleh edukasi mengenai pola hidup sehat, kepatuhan minum obat, hingga perubahan kebiasaan sehari-hari yang berpengaruh terhadap kondisi kesehatan.
"Setelah termonitor kemudian didampingi, dimotivasi, dilayani, didatangi," jelasnya.
Afif mengakui tingginya angka penyakit kronis di Kabupaten Wonosobo masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Ia bahkan mengaku telah meminta jajaran Dinas Kesehatan untuk melakukan kajian lebih mendalam terkait berbagai faktor yang diduga berkontribusi terhadap tingginya kasus penyakit kronis di daerah tersebut.
Menurut Afif, pemerintah daerah perlu memahami penyebab utama meningkatnya kasus gagal ginjal, stroke, maupun diabetes yang selama ini menjadi perhatian masyarakat.
Kajian tersebut penting agar kebijakan yang diambil tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga menyasar faktor-faktor risiko yang muncul di lingkungan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Afif juga menyinggung sejumlah pandangan yang berkembang terkait kemungkinan adanya pengaruh faktor lingkungan terhadap kondisi kesehatan masyarakat.
Ia mencontohkan adanya pendapat dari kalangan medis mengenai kemungkinan paparan residu pestisida yang perlu diteliti lebih lanjut secara ilmiah.
Baca juga: Tiga Inovasi Prolanis Perkuat Pengendalian Diabetes dan Hipertensi di Wonosobo
"Ada pernah saya ketemu dengan dokter spesialis mengatakan Wonosobo dingin, kemudian sayur-mayurnya sudah tercemar pestisida," sebutnya
Meski demikian, ia menegaskan bahwa berbagai dugaan tersebut tetap membutuhkan kajian akademik dan penelitian yang lebih komprehensif sebelum dapat dijadikan dasar pengambilan kebijakan.
"Masyarakat mengerti bagaimana pola hidup sehat seperti apa sih, ini kan harus terus-terus dikampanyekan," tandasnya. (ima)