Pertamax Lompat ke Rp16.250, Warga Depok Prediksi Pertalite Bakal Langka
Budi Sam Law Malau June 10, 2026 11:33 PM

WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK — Gelombang keresahan baru kembali melanda para pengguna kendaraan bermotor di Kota Depok, Jawa Barat.

Keputusan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax yang meroket tajam menjadi Rp16.250 per liter memicu syok sosiologis di lapisan masyarakat bawah hingga menengah.

Angka ini melonjak drastis sebesar Rp3.950 dari harga eceran sebelumnya yang bertengger di Rp12.300 per liter.

Baca juga: Purbaya Yakin Kenaikan BBM Pertamax Tidak Berdampak dengan Inflasi

Imbas lompatan harga yang dinilai ugal-ugalan ini langsung memicu migrasi konsumen secara masal.

Pantauan langsung di SPBU Jalan Margonda Raya, Kota Depok, pada Rabu (10/6/2026) siang, menyajikan pemandangan yang kontras bak bumi dan langit.

Jalur pengisian BBM bersubsidi jenis Pertalite tampak mengular sangat panjang hingga meluber ke bahu jalan raya, sementara area dispenser Pertamax justru lengang, mati suri tanpa satu pun pembeli.

Pengorbanan Mahasiswa: Sunat Uang Saku demi Sesuap Bensin

Dampak nyata dari kebijakan ekonomi ini mulai memukul dompet para kaum urban urban dengan mobilitas tinggi.

Hasbi (23), seorang mahasiswi Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) Depok, mengaku sangat terpukul.

Baca juga: Harga Pertamax Naik, Antrean Pertalite Mengular di SPBU Pertamina Daan Mogot

Demi mempertahankan kendaraannya agar tetap bisa menggelinding ke kampus, ia terpaksa harus menyunat anggaran bekal kuliahnya sehari-hari.

Hasbi yang mengendarai sepeda motor bertenaga 150 cc ini awalnya adalah pengguna setia Pertamax demi menjaga performa mesin.

Namun, kalkulasi matematis yang mencekik membuatnya harus menyerah pada keadaan dan ikut mengantre di jalur Pertalite.

"BBM ini nyawa saya untuk transportasi kuliah lima kali seminggu. Kalau pakai Pertalite, isi full tank itu paling habis Rp40.000. Nah, semenjak Pertamax naik begini, sekali isi penuh bisa tembus Rp65.000. Berat banget, terpaksa harus pindah ke Pertalite demi menghemat pengeluaran," keluh Hasbi di tengah antrean SPBU Margonda, Rabu siang.

Jeritan Ojol dan Hantu Kelangkaan Pertalite

Hal serupa diungkapkan pengemudi ojek online (ojol) Abbas (40), yang menggantungkan seluruh aspal kehidupannya dari keterjangkauan harga energi.

Ia mengaku cemas dengan fenomena "pindah kasta" konsumen Pertamax ke Pertalite.

Abbas mengkhawatirkan efek domino jangka pendek, yakni terjadinya kelangkaan stok Pertalite di tingkat pengecer akibat lonjakan permintaan yang tidak dibarengi dengan penambahan kuota subsidi dari PT Pertamina.

Jika Pertalite langka, maka tamat pula riwayat pendapatan hariannya.

“Logikanya sederhana, kalau Pertamax naik gila-gilaan begini, orang kaya yang bawa mobil pun bakal ikut antre Pertalite. Tolonglah pemerintah, jangan bikin masyarakat makin susah. Nyari uang di jalanan sekarang sudah makin sulit, jangan dicekik lagi dengan harga bensin," pungkas Abbas dengan raut wajah gusar.

Kini, warga Depok hanya bisa berharap ada intervensi regulasi agar harga energi kembali bersahabat dengan kantong rakyat kecil.



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.