Kasus pelecehan pada atlet putri kembali terungkap di Surabaya.
Seorang pelajar perempuan berusia 15 tahun asal Surabaya melapor ke Polrestabes Surabaya setelah menjadi korban pelecehan seksual oleh oknum pelatih cabang olahraga menembak.
Korban yang baru lulus SMP itu mengaku dilecehkan sebanyak enam kali, baik di lapangan latihan kawasan Wonokromo maupun di sebuah kamar hotel di Jalan Diponegoro, Surabaya.
Ayah korban, J (37), mengungkapkan anaknya baru berani bercerita pada Senin (8/6/2026) malam.
Mendengar pengakuan itu, ia langsung membawa sang anak ke Mapolrestabes Surabaya untuk membuat laporan resmi.
“Ayah mana yang tidak hancur hatinya mendengar putrinya dilecehkan oleh pelatih yang dipercaya,” ujarnya.
Menurut J, pelatih kerap menyentuh bagian sensitif korban dengan dalih hukuman saat latihan.
Terkadang terduga pelaku menyentuh bagian sensitif pada tubuh korban saat sedang berlatih menembak.
Berdasarkan kesaksian korban, menurut J, perbuatan pelecehan si pelatih dilakukan sebanyak enam kali.
"Kejadian awal kurang tahu. Di lapangan (latihan Kota Surabaya) Yang di hotel, setelah kejadian keempat, atau engga keenam gitu," ungkapnya.
Yang bikin J naik pitam, sang anak pernah dibawa paksa oleh terduga pelaku di sebuah kamar hotel kawasan Jalan Diponegoro, pada Rabu (25/3/2026).
Kala itu situasi cuaca sedang hujan, dan sang anak sedang berteduh di teras lobby tempat latihan, seraya menanti jemputan dari ibundanya.
Lalu, si terduga pelaku menawarkan bakal memberikan tumpangan terhadap korban.
Namun, korban malah diajak ke dalam kamar sebuah hotel untuk dilecehkan.
"Di situ kejadian. Soalnya anak saya, (kondisi kamar) gelap, gak tahu dipegang atau diapakan gak kelihatan soalnya gelap. Kronologi kayak gitu," katanya.
Terduga pelaku juga kerap kali mengancam korban dengan lebih banyak memberikan hukuman selama berlatih.
Ancaman itu yang menyebabkan sang anak lebih memilih berdiam diri dan tidak melaporkan peristiwa pelecehan yang dialaminya sejak awal.
"Kalau tekanan pasti ada. Sampai dia takut. Cuma tekanan bentuk apa yang saya tahu mengasihi hukuman. Tiap kali magazine jatuh atau sasaranya terlewat satu itu pasti ada hukuman disitulah dia memanfaatkan hukuman itu tadi," tuturnya.
Akibat peristiwa pelecehan berulang, korban mengalami trauma mendalam.
Bahkan belakangan ini, korban kerap tampak murung. Selain takut melihat suasana tempat berlatih, korban juga sudah tak mau melihat unit senjata untuk latihan.
"Mungkin mental psikis masih terpukul. Masih trauma lihat lapangan sudah gak mau. lihat apa sasana gak mau. apalagi lihat unit yang dipakai dia gak mau," jelasnya.
Namun, J dan sang istri, tetap optimistis dan berusaha sedikit demi sedikit memulihkan rasa trauma sang anak.
Orangtua berusaha memulihkan kondisi psikis sang anak sambil menunggu proses hukum berjalan.
Orangtua korban berharap pelaku segera ditangkap dan dijatuhi hukuman seberat-beratnya.
“Kalau bisa seumur hidup, karena tidak ada Tuhan yang membenarkan kelakuan seperti ini,” tegasnya.
Kasat PPA-PPO Polrestabes Surabaya, AKBP Melatisari, membenarkan adanya laporan pelecehan atlet muda oleh pelatihnya itu.
Ia menyatakan penyidikan masih berlangsung.
Korban telah menjalani pemeriksaan lanjutan pada Rabu (10/6/2026).