Pengusaha Ngeluh Dampak Pelemahan Rupiah Makin Terasa
GH News June 11, 2026 03:08 AM
Jakarta -

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin terasa terhadap sektor manufaktur.

Shinta menjelaskan sektor manufaktur menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap pelemahan rupiah karena struktur produksi nasional masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap bahan baku dan barang antara impor.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pembelian bahan baku impor otomatis meningkat dan langsung memengaruhi biaya produksi perusahaan. Pelemahan rupiah membuat dolar AS sempat diperdagangkan di level Rp 18.000 meskipun kini sudah turun ke Rp 17.944.

"Tekanan terhadap rupiah ini juga sudah terjadi secara bertahap sejak awal tahun, sehingga dampaknya terhadap sektor riil kini semakin terasa. Bagi industri manufaktur, pelemahan rupiah menjadi sangat sensitif karena struktur produksi nasional masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap bahan baku dan barang antara impor, sekitar 70%," kata Shinta saat dihubungi detikcom, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, tekanan yang dihadapi industri saat ini tidak hanya berasal dari nilai tukar. Pelaku usaha juga harus menghadapi tingginya biaya logistik, energi, dan pembiayaan yang masih menjadi tantangan bagi dunia usaha.

"Kondisi ini juga terjadi di tengah biaya logistik, energi, dan pembiayaan yang masih relatif tinggi. Jadi, yang dihadapi pelaku usaha saat ini bukan hanya tekanan nilai tukar, tetapi tekanan biaya berlapis atau ," tambah Shinta.

Kondisi tersebut membuat perusahaan menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi biaya produksi meningkat, namun di sisi lain ruang untuk menaikkan harga jual produk cukup terbatas karena daya beli masyarakat masih belum sepenuhnya pulih dan persaingan pasar masih ketat.

Shinta mengatakan dampak pelemahan rupiah tidak dirasakan secara merata oleh seluruh sektor industri. Perusahaan yang memiliki kandungan bahan baku lokal lebih tinggi atau memiliki pasar ekspor relatif lebih mampu bertahan karena memiliki perlindungan alami terhadap fluktuasi kurs.

Sebaliknya, industri yang mayoritas bahan bakunya masih impor dan produknya dijual di pasar domestik akan menghadapi tekanan lebih besar. Dalam kondisi seperti itu, margin keuntungan perusahaan dapat tergerus, arus kas menjadi lebih ketat, dan ruang untuk ekspansi semakin terbatas.

"Kalau volatilitas nilai tukar tinggi, biaya produksi sulit diprediksi, dan tekanan eksternal terus berlanjut, maka appetite perusahaan untuk ekspansi tentu akan lebih berhati-hati. Jadi, bukan berarti semua investasi langsung berhenti, tetapi banyak perusahaan akan masuk ke mode wait and see, lebih selektif, dan menunda keputusan ekspansi sampai kondisi makro lebih stabil," jelas Shinta.

Shinta berharap pemerintah bersama otoritas moneter terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat kepercayaan pasar. Ia juga meminta pemerintah menekan berbagai sumber biaya ekonomi domestik seperti logistik, energi, perizinan, hingga biaya pembiayaan.

Menurut Shinta, koordinasi yang kuat antara kebijakan fiskal, moneter, perdagangan, perindustrian, investasi, dan ketenagakerjaan menjadi penting agar proses stabilisasi ekonomi dapat berjalan tanpa mengorbankan pertumbuhan industri dan penciptaan lapangan kerja.

"Dalam situasi ketika tekanan eksternal meningkat, pengurangan biaya-biaya domestik menjadi sangat penting agar industri tidak kehilangan daya saing. Pemerintah juga perlu memastikan kelancaran pasokan bahan baku dan energi bagi industri. Ketersediaan bahan baku, distribusi energi yang memadai, serta efisiensi rantai pasok menjadi kunci agar tekanan biaya tidak semakin besar," tutup Shinta menjelaskan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.