BMKG Sebut Puncak Kemarau di NTB pada Agustus 2026, El Nino Bisa Bikin Dampak Lebih Kering-Panjang
Wahyu Widiyantoro June 11, 2026 11:19 AM

TRIBUNLOMBOK.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan bahwa Nusa Tenggara Barat masuk dalam kelompok wilayah yang akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026 bersama sebagian besar Jawa, Bali, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, dan sejumlah wilayah lainnya. 

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan agustus adalah puncak terbesar secara nasional, mencakup 369 Zona Musim atau 48,84 persen luas daratan Indonesia.

"Pada bulan Agustus 2026, puncak musim kemarau terjadi di Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua," ujarnya di Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Pengaruh El Nino

Kemarau 2026 berbeda dari tahun-tahun biasa karena kehadiran El Nino yang masih aktif dan diprediksi bertahan hingga awal 2027.

Baca juga: Apa Hubungan El Nino dengan Kemarau yang Lebih Kering di Indonesia Tahun Ini?

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyatakan musim kemarau Indonesia 2026 diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya. 

Peluang El Nino mencapai intensitas moderat disebut sebesar 98 persen, sementara peluang mencapai kategori kuat sebesar 62 persen.

"BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode Musim Kemarau hingga pertengahan bulan Oktober," ujar Ardhasena.

Bagi NTB, posisi geografis di kawasan Nusa Tenggara yang memang secara historis memiliki musim kemarau panjang, ditambah penguatan El Nino, adalah kombinasi potensi kekeringan panjang.

Rekomendasi BMKG 

BMKG memberikan serangkaian rekomendasi konkret yang relevan langsung bagi kondisi NTB:

Untuk sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam dan beralih ke varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan dengan siklus tanam lebih pendek. 

Ini penting mengingat NTB merupakan salah satu lumbung pangan nasional, khususnya untuk jagung dan padi.

Untuk sumber daya air, revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi air perlu diprioritaskan sebelum puncak kemarau tiba pada Agustus.

Ketersediaan air bersih di wilayah terpencil NTB historis menjadi masalah kritis saat kemarau panjang.

Untuk sektor energi, kapasitas air di bendungan yang menopang pembangkit listrik tenaga air perlu dipantau lebih ketat. 

Kekurangan pasokan listrik saat kemarau panjang adalah skenario yang pernah terjadi sebelumnya.

Untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan, koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, dan Balai TNGR perlu diperkuat jauh sebelum Juli tiba. 

BMKG menyebut Operasi Modifikasi Cuaca sebagai salah satu instrumen yang bisa diaktifkan secara situasional.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.