BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax mulai Rabu (10/6/2026) memicu kekhawatiran para pedagang di Pasar Keramat Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Mereka menilai kenaikan biaya transportasi berpotensi mendorong naiknya harga berbagai kebutuhan pokok yang dijual di pasaran.
Salah seorang pedagang cabai di Pasar Keramat Barabai, Yunetha, mengaku khawatir kenaikan harga BBM akan berdampak langsung terhadap biaya distribusi komoditas pertanian dari daerah pemasok menuju pasar.
Menurutnya, harga cabai selama ini sangat dipengaruhi biaya angkut. Apabila ongkos transportasi naik, maka harga jual di tingkat pedagang juga sulit dipertahankan.
"Kalau BBM naik biasanya biaya angkut ikut naik. Kami khawatir harga cabai yang sekarang sudah cukup tinggi bisa kembali melonjak. Yang berat nanti pembeli karena daya beli masyarakat juga belum tentu ikut naik," ujarnya, Kamis (11/06/2026).
Baca juga: Dampak Harga Pertamax Naik di HSS Hari Ini, Antrean Pertalite di SPBU Tibung Mengular
Yunetha mengatakan sebagian besar pasokan cabai yang dijual di Pasar Keramat berasal dari luar daerah sehingga biaya distribusi menjadi faktor penting dalam pembentukan harga.
Kekhawatiran serupa disampaikan pedagang daging ayam, Abdul Rahman.
Menurutnya, kenaikan harga BBM berpotensi memengaruhi biaya distribusi ayam dari peternak hingga ke pasar sehingga dapat berdampak pada harga jual kepada konsumen.
"Kalau biaya transportasi naik, biasanya harga dari pemasok juga ikut naik. Kami khawatir nanti harga ayam ikut terdorong naik karena biaya angkut semakin besar," katanya.
Abdul Rahman mengaku saat ini harga daging ayam masih relatif stabil. Namun, ia memperkirakan dampak kenaikan BBM akan mulai terasa dalam beberapa hari ke depan ketika pasokan baru masuk dengan biaya distribusi yang lebih tinggi.
"Biasanya tidak langsung naik hari itu juga. Tapi kalau stok baru datang dengan biaya angkut yang lebih mahal, kemungkinan harga ikut menyesuaikan," tambahnya.
Dampak kenaikan harga Pertamax juga mulai dirasakan pelaku usaha BBM eceran di Barabai.
Pemilik usaha BBM eceran di Barabai, Riduan, mengatakan kenaikan harga di tingkat pengecer tidak dapat dihindari karena mengikuti harga pembelian di stasiun pengisian bahan bakar.
"Kalau di pom bensin sudah Rp17.000 per liter, otomatis kami juga harus menyesuaikan. Sekarang harga eceran langsung berubah menjadi sekitar Rp18.000 per liter," ujarnya.
Menurut Riduan, masyarakat sering kali menyalahkan pedagang eceran ketika harga bahan bakar naik. Padahal, kata dia, pedagang hanya menyesuaikan dengan modal yang dikeluarkan.
"Kami juga serba salah. Kalau tidak dinaikkan, modal tidak kembali. Kalau dinaikkan, pembeli mengeluh. Tapi memang kondisinya seperti itu," katanya.
Ia mengaku sejak kabar kenaikan harga menyebar, banyak pelanggan yang mengeluhkan kondisi tersebut.
Sebagian bahkan mengurangi jumlah pembelian karena menyesuaikan kemampuan ekonomi mereka.
Riduan menilai kenaikan harga BBM berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian masyarakat.
Baca juga: Pasokan Menipis, Harga Cabai Rawit Hijau di HST Naik Jadi Rp130 Ribu per Kilogram
Selain memengaruhi biaya transportasi, kenaikan harga bahan bakar juga dikhawatirkan mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok di pasaran.
Para pedagang berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga dan memastikan distribusi barang tetap lancar agar kenaikan harga BBM tidak memicu lonjakan harga yang terlalu tinggi di tingkat konsumen.
"Kami berharap harga kebutuhan pokok tetap terkendali. Jangan sampai masyarakat makin terbebani karena harga BBM naik lalu diikuti kenaikan harga barang lainnya," tutup Riduan. (Banjarmasinpost.co.id/Stanislaus sene)