TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Dampak dari kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi yang diumumkan pemerintah pusat pada Rabu (10/7/2026) lalu, tampaknya belum berpengaruh signifikan hingga Kamis (11/7/2026).
Amatan tribunpekanbaru.com di Pangkalan Kerinci, antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Jalan Lintas Kilometer 55 tampak normal.
Sejumlah mobil minibus mengantri di dispenser pertalite menunggu giliran untuk mengisi BBM.
"Masih normal sejak kemarin antreannya. Belum ada penumpukan. Kecuali minyak di Kilometer 5 habis, baru ke sini semuanya," kata petugas SPBU di Jalintim Kilometer 55 Pangkalan Kerinci kepada tribunpekanbaru.com, Kamis (11/7/2026).
Antrean di SPBU Jalan Koridor RAPP Kilometer 5 mulai ramai.
Warga datang untuk mengisi minyak karena khawatir BBM subsidi habis diborong sebagai dampak kenaikan BBM non-subsidi.
Sedangkan dispenser Permatamax yang berada di samping pompa Pertalite tampak sepi.
Tak ada kendaraan yang mengisi BBM dan bahkan petugas juga tidak kelihatan berjaga-jaga di dispenser tersebut.
Sedangkan antrean di dispenser biosolar masih tampak seperti biasa.
Baca juga: Rombongan Emak-emak Kembali Penuhi Ruang Sidang Abdul Wahid, Sempat Ditegur Petugas Karena Makan
Baca juga: Pertamax Mahal, Antrean Jalur BBM Non Subsidi Sepi, Pengendara Beralih ke Pertalite
Proses pengisian BBM belum terkendala. Ketersediaan solar subsidi terlihat normal, berbeda dengan sehari sebelumnya yang sempat kosong.
Demikian juga dengan SPBU di Jalan Koridor Kilometer 5 Pangkalan Kerinci. Antrean pertalite terlihat masih normal seperti sehari sebelumnya. Hanya saja antrean biosolar masih panjang, meskipun pelayanan tetap berjalan.
Menurut Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Pelalawan, Hanafie, kenaikan BBM non-subsidi bukan pertama kali dalam beberapa bulan ini. Harga tersebut tetap fluktuatif karena tidak ada subsidi dari pemerintah.
"Selama ini naik juga, tapi tidak terlalu berpengaruh kepada masyarakat. Selama BBM subsidi masih aman, gejolak di masyarakat masih aman," tutur Hanafie.
Dikatakannya, kenaikan BBM non-subsidi membuat kendaraan yang selama ini mengonsumsi Pertamax 92 dan Pertamax 98 beralih ke Pertalite. Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, hal ini bisa memengaruhi ketersediaan BBM subsidi di SPBU.
Di sisi lain, kenaikan harga BBM non-subsidi belum memengaruhi harga bahan pangan di Pelalawan. Diperkirakan tidak ada lonjakan harga sembako, mengingat distribusi bahan pangan dari daerah penghasil ke Pelalawan menggunakan kendaraan yang mengonsumsi BBM subsidi. (Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)