Warga Mengeluh Pertamax Naik, Pemkot Yogyakarta Bakal Gelar Pasar Murah, Jual Sembako di Kelurahan
ninda iswara June 11, 2026 12:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Kenaikan harga BBM jenis Pertamax membuat masyarakat mengeluh.

Di tengah kondisi ekonomi yang apa-apa serba mahal, masyarakat dibuat semakin sesak.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi yang diberlakukan PT Pertamina Patra Niaga mulai Rabu (10/6/2026) memunculkan kekhawatiran bagi kalangan masyarakat kelas menengah.

Dalam penyesuaian terbaru tersebut, harga Pertamax RON 92 mengalami kenaikan cukup signifikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.

Sementara itu, Pertamax Green (RON 95) juga ikut naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Menurut Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar, dampak terbesar dari kenaikan ini justru dirasakan oleh kelompok pekerja kelas menengah.

Baca juga: Harga Pertamax Naik, Pertalite Ludes, Driver Ojol di Yogyakarta Siapkan Aksi: Pemerintah Ugal-ugalan

Ia menilai anggapan bahwa pengguna Pertamax hanya berasal dari kalangan atas tidak sepenuhnya tepat.

"Pengguna Pertamax 92 bukan cuma orang kaya, tetapi juga kelas menengah rentan. Ada pekerja, pegawai, guru, ojek online, dan jutaan kelas menengah yang selama ini memilih BBM yang lebih baik untuk kendaraannya," kata Media dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).

Kelompok tersebut selama ini memilih BBM dengan kualitas lebih baik demi menjaga performa kendaraan yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari maupun bekerja.

Namun, lonjakan harga yang cukup tinggi membuat beban pengeluaran mereka berpotensi meningkat.

Media menyebut kondisi itu menempatkan masyarakat pada pilihan yang tidak mudah di tengah tekanan biaya hidup.

"Ketika margin kenaikannya terlalu jauh, opsinya adalah membayar lebih mahal, atau turun ke Pertalite," imbuh dia.

Pemkot Yogyakarta Gelar Pasar Murah

Merespon keluhan masyarakat terkait naiknya harga Pertamax yang juga mempengaruhi harga kebutuhan sehari-hari, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta tak tinggal diam.

Pemkot Yogyakarta bersiap menghadapi dampaknya dengan acra menggelar pasar murah bagi masyarakat kurang mampu.

Kenaikan harga BBM jenis Pertamax menjadi perhatian Pemerintah Kota Yogyakarta meski dampaknya dinilai tidak akan langsung dirasakan masyarakat.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menilai perubahan harga tersebut tetap perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi berbagai sektor ekonomi.

Menurutnya, kenaikan Pertamax dapat memicu bertambahnya biaya produksi di sejumlah bidang usaha.

Selain itu, biaya distribusi dan logistik juga berisiko meningkat seiring naiknya pengeluaran transportasi.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat berdampak pada harga sejumlah kebutuhan pokok di pasaran.

Karena itu, pemerintah daerah menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga daya beli masyarakat.

Salah satu upaya yang akan segera dilakukan adalah menggelar operasi pasar dan menyediakan sembako dengan harga terjangkau.

Langkah ini diharapkan mampu menekan dampak lanjutan dari kenaikan biaya di berbagai sektor.

“Kami pemerintah akan segera melakukan untuk operasi pasar, melakukan penjualan sembako murah. Ini yang nanti segera dilakukan segera,” ujarnya saat ditemui di Balai Kota Yogyakarta, Rabu (10/6/2026).

Gandeng Dinas Perdagangan

Rencana penyelenggaraan pasar murah di Kota Yogyakarta terus dimatangkan dengan melibatkan sejumlah pihak terkait.

Untuk merealisasikan program tersebut, pemerintah akan berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan serta menjalin kerja sama dengan Bulog guna memastikan ketersediaan bahan pokok dengan harga terjangkau.

Wawan menilai keberadaan pasar murah sangat penting, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah yang saat ini merasakan dampak kenaikan harga kebutuhan pokok.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk nyata keberpihakan pemerintah kepada warga yang membutuhkan akses sembako dengan harga lebih murah.

“Kondisi kalau di menengah, di masyarakat bawah sangat sangat krusial (pasar murah). Jadi membantu mereka untuk dilakukan ini sangat sangat perlu sekali, karena keberpihakan pemerintah itu ya dengan untuk mendapatkan sembako murah ini nanti,” beber dia.

Baca juga: Imbas Harga Pertamax Naik, Burhanadi Karyawan di Yogyakarta Kini Megap-megap: Pemerintah Gak Peduli

HARGA PERTAMAX NAIK - Imbas harga BBM jenis Pertamax naik, Pemkot Yogyakarta akan gelar pasar murah
HARGA PERTAMAX NAIK - Imbas harga BBM jenis Pertamax naik, Pemkot Yogyakarta akan gelar pasar murah (Istimewa)

Meski demikian, Wawan mengaku hingga saat ini belum menerima keluhan langsung dari masyarakat terkait kondisi tersebut.

Namun, ia menegaskan pemerintah tidak boleh menunggu sampai keluhan muncul sebelum mengambil tindakan.

“Justru jangan sampai masyarakat mengeluh baru kita berbuat, harusnya kita segera mitigasi, segera action untuk untuk langkah ke situ,” katanya.

Karena itu, upaya mitigasi dan langkah cepat dinilai perlu dilakukan sejak dini agar dampak kenaikan harga kebutuhan pokok tidak semakin dirasakan warga.

Salah satu solusi yang disiapkan adalah menghadirkan pasar murah yang lebih dekat dengan masyarakat.

Wawan pun berencana menggelar pasar murah di berbagai kelurahan di Kota Yogyakarta.

Lokasi tersebut dipilih karena dianggap lebih efektif menjangkau warga yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Dengan pelaksanaan yang langsung menyasar lingkungan masyarakat, program ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih tepat sasaran.

Selain memudahkan akses warga terhadap sembako murah, kehadiran pasar murah juga diyakini mampu meringankan beban ekonomi keluarga.

“Kami lebih senang kepada ke kelurahan langsung ya, jadi kepada pelaku masyarakat setempat, jadi bisa jadi lakukan itu sehingga lebih mengena kan jadinya,” kata dia.

Dilakukan secara Periodik

Wawan berharap pelaksanaan pasar murah dapat segera dilakukan dan tidak bersifat sekali jalan, melainkan berkelanjutan agar manfaatnya lebih terasa bagi masyarakat.

Ia menekankan pentingnya program ini digelar secara rutin untuk membantu menekan beban ekonomi warga.

“Mungkin secepatnya dan itu bisa secara periodik bisa seminggu sekali bisa ini untuk untuk melakukan pasar murah,” kata dia.

Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green mulai Rabu (10/6/2026).

Kenaikan ini cukup signifikan, di mana Pertamax RON 92 naik sekitar 32 persen dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green (RON 95) meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Di sisi lain, Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios), Media Wahyudi Askar, menilai kenaikan harga BBM ini justru paling berdampak pada kelompok kelas menengah.

Ia menjelaskan bahwa pengguna Pertamax tidak hanya berasal dari kalangan mampu, tetapi juga pekerja seperti guru, pegawai, hingga pengemudi ojek online.

"Pengguna Pertamax 92 bukan cuma orang kaya, tetapi juga kelas menengah rentan. Ada pekerja, pegawai, guru, ojek online, dan jutaan kelas menengah yang selama ini memilih BBM yang lebih baik untuk kendaraannya," kata Media dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).

Ia menambahkan, ketika selisih harga semakin besar, masyarakat dihadapkan pada pilihan sulit antara tetap menggunakan BBM yang lebih mahal atau beralih ke Pertalite.

(TribunTrends/Ninda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.