TRIBUNTRENDS.COM - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Di saat daya beli sebagian warga masih menghadapi tekanan akibat kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, lonjakan harga Pertamax dan Pertamax Green dinilai berpotensi menambah beban pengeluaran rumah tangga maupun pelaku usaha.
Di tengah situasi tersebut, Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, menyampaikan pesan khusus kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, selain fokus menjaga stabilitas ekonomi nasional, pemerintah juga harus memastikan masyarakat terlindungi dari dampak langsung yang ditimbulkan oleh kenaikan harga BBM.
Baca juga: Warga Karanganyar Khawatir BBM Subsidi Bakal Langka, Antrean Pertalite Mengular Imbas Pertamax Naik
Melalui unggahan di akun media sosial X miliknya pada Kamis (11/6/2026), SBY menyoroti pentingnya perlindungan terhadap masyarakat yang paling merasakan tekanan ekonomi saat ini.
Menurutnya, upaya menjaga kondisi ekonomi nasional tidak boleh mengabaikan kelompok masyarakat yang terkena dampak langsung dari kebijakan maupun gejolak ekonomi yang sedang terjadi.
"Yang tidak kalah pentingnya, melindungi rakyat kita yang sangat terdampak dengan situasi ekonomi, termasuk dampak dari kenaikan harga BBM," cuit SBY melalui akun X-nya, Kamis (11/6/2026).
Meski memberikan perhatian terhadap dampak kenaikan BBM, SBY juga mengapresiasi langkah-langkah yang telah dilakukan pemerintah dalam menjaga kondisi ekonomi nasional.
Namun demikian, menurutnya masih diperlukan berbagai upaya lanjutan agar stabilitas ekonomi tetap terjaga dan kepercayaan publik maupun pelaku pasar dapat terus diperkuat.
SBY berharap pemerintah terus melanjutkan langkah-langkah strategis untuk menstabilkan perekonomian, memperkuat kondisi fiskal negara, serta menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pengendalian utang pemerintah agar tidak menjadi beban yang semakin berat di masa mendatang.
Menurut SBY, tantangan berikutnya yang harus diantisipasi pemerintah adalah potensi kenaikan harga barang dan jasa yang dapat memukul kehidupan masyarakat secara lebih luas.
Ia menilai, jika tidak dikelola dengan baik, dampak kenaikan biaya energi bisa merembet ke berbagai sektor dan berujung pada meningkatnya biaya hidup masyarakat.
Karena itu, pemerintah didorong untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus memperkuat komunikasi publik agar setiap kebijakan ekonomi dapat dipahami secara jelas oleh masyarakat maupun pelaku pasar.
"Sehingga kebijakan dan langkah pemerintah dimengerti oleh rakyat dan market. Menghentikan berbagai spekulasi dan ketidakpastian," jelasnya.
Baca juga: Menkeu Purbaya Sebut Dampak Kenaikan BBM Rp16.250 Bakal Minim: Pertamax Bukan Buat Angkutan Barang
SBY juga mengingatkan bahwa dirinya memahami betul beratnya tantangan yang dihadapi pemerintah dalam mengelola perekonomian nasional.
Sebagai mantan presiden yang memimpin Indonesia selama dua periode, ia mengaku telah berkali-kali menghadapi tekanan ekonomi, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dinamika global.
Karena pengalaman tersebut, SBY menyadari bahwa tidak ada solusi instan untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Semua kebijakan membutuhkan proses dan waktu agar hasilnya dapat dirasakan masyarakat.
Di akhir pesannya, SBY mengajak seluruh elemen bangsa untuk mendukung upaya pemerintah dalam memperbaiki kondisi ekonomi nasional.
Menurutnya, tantangan ekonomi yang dihadapi saat ini membutuhkan semangat persatuan, ruang dialog yang sehat, serta keterbukaan terhadap berbagai pandangan yang konstruktif.
Ia menegaskan bahwa kebijakan yang tepat harus dibangun di atas pemikiran rasional dan diwujudkan melalui langkah-langkah nyata yang serius.
"Perlu dukungan publik yang lebih kuat. Ingat, in crucial thing, unity. In important thing, dialogue dan diwadahinya keragaman pandangan yang konstruktif. Pikiran yang rasional, kebijakan yang tepat dan aksi-aksi nyata yang serius menjadi sangat penting," imbuh SBY.
Sebagai informasi, pemerintah melalui PT Pertamina Patra Niaga telah melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi mulai 10 Juni 2026.
Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 (RON 95) mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Di sisi lain, BBM subsidi seperti Pertalite masih dipertahankan pada harga Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar subsidi tetap berada di level Rp6.800 per liter.
***
(TribunTrends/Kompas)