BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Banua Jingah, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan kini telah menjangkau 3.754 penerima manfaat.
Dari jumlah tersebut, mayoritas penerima merupakan peserta didik mulai tingkat taman kanak-kanak hingga madrasah aliyah yang mencapai 3.413 orang. Sisanya berasal dari kelompok ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta tenaga kependidikan.
Kepala SPPG Banua Jingah, Rahmi Hidayat, mengatakan capaian tersebut menunjukkan program pemenuhan gizi yang dijalankan sejak Maret 2025 terus berjalan dan menjangkau sasaran yang ditetapkan.
"Alhamdulillah sampai saat ini distribusi makanan bergizi terus berjalan dengan baik. Kami berupaya memastikan makanan yang disalurkan tetap higienis, tepat waktu, dan diterima oleh sasaran penerima manfaat," kata Rahmi, kamis, (11/06/2026).
Baca juga: Sempat Terhenti 2 Hari, Ompreng MBG Kembali Terlihat di SDN Karang Mekar 1 Banjarmasin
Ia menjelaskan, sektor pendidikan menjadi penerima manfaat terbesar dalam program tersebut. Beberapa sekolah yang menerima distribusi makanan bergizi antara lain TK Kartika, TK Cendrawasih, TK Merpati, SDN Banua Binjai, SDN 1 Barabai Barat, SDN Barabai Utara, hingga SDN Banua Jingah.
Sementara pada jenjang pendidikan menengah dan madrasah, jumlah penerima manfaat terbesar tercatat berada di MTsN 2 HST sebanyak 992 siswa, disusul MAN 1 HST sebanyak 953 siswa dan MIN 8 HST sebanyak 799 siswa.
Menurut Rahmi, pemberian makanan bergizi secara rutin di lingkungan sekolah diharapkan dapat membantu meningkatkan konsentrasi belajar serta menjaga kondisi kesehatan peserta didik selama mengikuti kegiatan pembelajaran.
"Nutrisi yang cukup sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Kami berharap program ini dapat membantu siswa belajar lebih optimal dan menjaga daya tahan tubuh mereka," ujarnya.
Selain menyasar peserta didik, SPPG Banua Jingah juga menjalankan intervensi gizi bagi kelompok rentan melalui program untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Sebanyak 340 penerima manfaat tercatat mendapat layanan tersebut melalui delapan posyandu yang tersebar di sejumlah desa, di antaranya Desa Ayuang, Banua Jingah, Babai, dan Bakapas.
Baca juga: Takut Dana Operasional Tak Cair, Pemilik Dapur MBG di Kalsel Tak Berani Beli Bahan Masakan
Rahmi menilai intervensi sejak masa kehamilan hingga usia balita menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan tengkes (stunting) dan peningkatan kualitas kesehatan keluarga.
Untuk menjaga kelancaran distribusi, pihaknya terus melakukan penguatan sistem logistik dan pemetaan wilayah layanan sehingga makanan dapat diterima sesuai jadwal di sekolah maupun posyandu.
"Kami berharap cakupan penerima manfaat dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Dukungan pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat sangat penting agar program perbaikan gizi ini berjalan berkelanjutan," pungkasnya. (Banjarmasinpost.co.id/Stanislaus sene).