TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai berlaku sejak Rabu 10 Juni 2026 tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga mulai memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di Bali.
Di Denpasar, Bali pedagang sayur keliling mengeluhkan merangkaknya harga bumbu dapur.
Sementara di Buleleng pengguna Pertamax harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari.
Salah satu pedagang sayur keliling di Banjar Ambengan, Pedungan, Denpasar, Bali yang bernama Indah (45), mengaku mulai merasakan dampak kenaikan harga sejumlah komoditas dapur sejak diumumkannya penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
Menurutnya, bawang merah dan bawang putih menjadi komoditas yang mengalami kenaikan paling signifikan.
Baca juga: Pertamina Ungkap Alasan Harga Pertamax Naik di Bali, Buleleng Sesuaikan Belanja BBM Kendaraan Dinas
Per Kamis 11 Juni 2026, harga kedua jenis bumbu dapur tersebut telah mencapai Rp50 ribu per kilogram.
"Kenaikan paling terasa bawang merah dan putih, sudah Rp50 ribu sekarang," ujar Indah sembari tersenyum kecut.
Perempuan yang sehari-hari mengambil stok dagangan di Pasar Cokroaminoto, Denpasar, itu mengaku harus mengeluarkan modal lebih besar dibandingkan biasanya.
Ia menjelaskan, dalam kondisi normal harga bawang merah dan bawang putih masih berada di kisaran di bawah Rp40 ribu per kilogram.
Namun dalam beberapa hari terakhir harga terus merangkak naik.
Tak hanya bumbu dapur, sejumlah sayuran juga mengalami kenaikan harga.
Kondisi tersebut membuat Indah memilih tidak membeli beberapa jenis sayuran yang dinilai terlalu mahal dan berisiko sulit terjual.
"Brokoli dan kembang kol nggak beli, terlalu mahal. Bingung jualnya nanti," katanya.
Akibat kenaikan harga tersebut, Indah kini hanya menjual sayuran yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Beberapa komoditas yang masih tersedia di lapaknya antara lain kangkung, daun ketela, terong, taoge, dan gambas.
Ia menduga kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok tersebut berkaitan dengan naiknya harga BBM nonsubsidi yang diumumkan sehari sebelumnya.
Indah berharap pemerintah dapat mempertimbangkan dampak kebijakan kenaikan BBM terhadap masyarakat kecil, khususnya pedagang dan konsumen yang sangat bergantung pada stabilitas harga kebutuhan sehari-hari.
"Yang di bawah ini yang paling terasa susah," keluhnya.
Keluhan serupa juga datang dari masyarakat di Kabupaten Buleleng, Bali.
Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau sekitar 32 persen membuat biaya transportasi harian meningkat tajam.
Salah seorang pengguna Pertamax, Komang Yudha, mengaku harus menyiapkan anggaran lebih besar untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kendaraannya.
Sebagai wartawan yang setiap hari melakukan aktivitas peliputan di lapangan, Yudha selama ini mengandalkan Pertamax untuk menunjang mobilitas kerjanya.
Menurutnya, dengan anggaran Rp100 ribu, sebelumnya ia bisa memperoleh sekitar 8,1 liter Pertamax yang cukup digunakan untuk aktivitas liputan selama hampir satu pekan di kawasan perkotaan.
"Rp100 ribu biasanya cukup untuk kebutuhan liputan selama sekitar sepekan, khususnya untuk mobilitas di kawasan perkotaan," ujarnya.
Namun setelah harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter, nominal yang sama kini hanya mampu membeli sekitar 6,1 liter BBM.
Jumlah tersebut diperkirakan hanya cukup untuk kebutuhan operasional selama tiga hingga empat hari.
Yudha mengaku cukup terkejut dengan besarnya kenaikan harga Pertamax yang dinilai menambah beban pengeluaran di tengah meningkatnya biaya hidup.
"Kenaikan harga ini sangat terasa. Pengeluaran untuk berbagai kebutuhan terus bertambah, sehingga biaya BBM yang ikut naik membuat saya harus mengatur ulang anggaran," katanya.
Meski biaya operasional meningkat, warga Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, itu memilih tetap menggunakan Pertamax dan tidak beralih ke Pertalite.
Ia khawatir penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah dapat memengaruhi performa dan usia mesin kendaraan yang selama ini terbiasa menggunakan Pertamax.
"Bukannya tidak mau, tapi kasihan mesin motornya. Dari awal sudah biasa pakai Pertamax. Saya pakai PCX 160 cc. Pindah ke Pertalite walaupun lebih murah, saya takut malah merusak mesin. Alhasil pengeluaran semakin bertambah," ungkapnya.
Dampak kenaikan harga Pertamax juga mulai terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Buleleng, Bali.
Dispenser Pertamax yang sebelumnya ramai oleh pengendara sepeda motor kini terlihat lebih lengang.
Seorang operator SPBU yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sebagian konsumen mulai beralih ke Pertalite setelah harga Pertamax mengalami kenaikan signifikan.
Menurutnya, saat ini pembeli Pertamax didominasi kendaraan roda empat, sementara jumlah pengguna sepeda motor yang mengisi BBM jenis tersebut mengalami penurunan.
"Sejak perubahan harga Pertamax, dispenser Pertamax lebih sepi. Kebanyakan mobil saja. Biasanya ada sepeda motor, tapi sekarang dominan mobil," ujarnya.
(*)