Riset Unnes Uji Nugget Lele Berprotein Tinggi untuk Tekan Stunting di Kelurahan Kuningan Semarang
muh radlis June 11, 2026 02:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Upaya penanganan stunting tidak selalu harus bergantung pada bantuan pangan mahal. Tim peneliti Universitas Negeri Semarang (Unnes) tengah menguji efektivitas nugget lele berprotein tinggi sebagai alternatif pangan bergizi untuk anak batita di Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.


Ketua tim riset, Dr. Sus Widayani, mengatakan Kelurahan Kuningan dipilih karena menjadi salah satu wilayah dengan angka stunting yang masih tinggi di Kota Semarang.


"Kenapa ke Kelurahan Kuningan? Karena Kuningan ternyata termasuk wilayah dengan angka stunting yang tinggi. Harapannya, masyarakat bisa lebih memahami pentingnya pemberian makanan berprotein tinggi untuk anak-anak," ujarnya, Kamis (11/6/2026).


Adapun penelitian ini mengangkat judul Efikasi, Preferensi, dan Peluang Ekonomi Perbaikan Gizi Nugget Lele Berprotein Tinggi untuk Anak Batita Stunting di Wilayah Rawan Gizi Semarang.


Riset didanai oleh Unnes dan melibatkan tim dosen yang terdiri dari Dr. Sus Widayani, M.Si., Prof. Dr. P. Eko Prasetyo, S.E., M.Si., Ir. Bambang Triatma, M.Si., serta Dr. Lili Marliyah, M.P. Penelitian juga melibatkan sejumlah mahasiswa sebagai anggota tim.


Menurutnya, penelitian mengenai produk olahan lele sebenarnya telah dimulai sejak 2012. Berawal dari pengamatannya terhadap anak-anak yang menyukai ikan lele, tetapi mudah bosan jika hanya disajikan dalam bentuk menu pada umumnya seperti lele goreng.


Dari situ, tim mengembangkan berbagai produk olahan seperti sosis lele, lele krispi, hingga nugget lele. Namun setelah dilakukan berbagai uji coba, nugget lele dinilai paling disukai anak-anak dan memiliki peluang paling besar untuk diterima masyarakat.

Baca juga: Suparman Pembunuh Bilqis Bocah Sragen Ternyata Juga Pernah Bunuh Perempuan dan Waria


"Nugget lele ini sudah dipatenkan dan memiliki kandungan protein tinggi. Kami ingin menunjukkan bahwa bahan pangan yang murah dan mudah didapat seperti lele ternyata bisa menjadi sumber gizi yang baik untuk anak," katanya.


Dalam penelitian kali ini, tim akan mendistribusikan nugget lele kepada sekitar 30 hingga 35 anak balita berusia di bawah tiga tahun selama satu bulan.


Nugget diproduksi di laboratorium kampus dalam kondisi beku (frozen) sebelum didistribusikan kepada kader kesehatan di Kelurahan Kuningan.


Setiap anak dianjurkan mengonsumsi sekitar 100 gram nugget lele per hari. Pemberian dilakukan secara bertahap untuk melihat pengaruhnya terhadap status gizi anak.


Berdasarkan paparan tim peneliti, ikan lele memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan berpotensi menjadi sumber protein terjangkau bagi keluarga.


Dalam setiap 100 gram daging lele terkandung sekitar 18-20 gram protein, 237 miligram omega-3, dan 337 miligram omega-6. Selain itu, lele juga mengandung vitamin B12 sebesar 121 persen angka kecukupan gizi (AKG), fosfor 24 persen AKG, serta kalium 19 persen AKG.


Dr. Sus menjelaskan penelitian tidak hanya mengukur peningkatan gizi, tetapi juga tingkat penerimaan anak terhadap produk tersebut.
Menurutnya, keberhasilan penanganan stunting tidak hanya bergantung pada program bantuan pemerintah, tetapi juga kesadaran masyarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi anak sejak dini.


"Yang ingin kami dorong adalah kesadaran bahwa bahan pangan lokal seperti lele bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan status gizi anak. Kalau masyarakat sadar gizi, maka pencegahan stunting bisa dilakukan secara mandiri," ujarnya.


Dalam kesempatan yang sama, Lurah Kuningan, Andi Widjanarko, mengatakan wilayahnya menjadi salah satu daerah dengan jumlah kasus stunting tertinggi di Kota Semarang.
Menurut data yang diterima dari puskesmas, saat ini terdapat sekitar 40 anak stunting di Kelurahan Kuningan.


"Kelurahan Kuningan masuk tiga besar angka stunting tertinggi di Kota Semarang. Untuk wilayah Semarang Utara, Kuningan termasuk yang tertinggi setelah beberapa kelurahan lainnya," katanya.


Ia menjelaskan pemerintah selama ini telah melakukan berbagai intervensi berupa pemberian makanan tambahan dan pendampingan keluarga.


Namun efektivitas program tersebut masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan.


"Kita tidak selalu mengetahui apakah bantuan yang diberikan benar-benar dikonsumsi oleh anak yang menjadi sasaran atau justru dimakan anggota keluarga lain. Itu yang menjadi tantangan," ujarnya.


Karena itu, pihaknya menyambut baik kolaborasi dengan Unnes yang tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga melakukan penelitian berbasis data untuk mencari solusi penanganan stunting.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.