BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, ternyata belum berdampak pada peningkatan penggunaan transportasi umum, khususnya angkutan kota (angkot).
Alih-alih mengalami lonjakan penumpang pasca naiknya harga Pertamax, para sopir angkot justru mengaku kondisi saat ini masih sepi dan belum menunjukkan perubahan berarti.
Pantauan di kawasan Bangka Trade Center (BTC), Kota Pangkalpinang, Kamis (11/6/2026), sejumlah angkot tampak masih menunggu penumpang di pangkalan.
Beberapa trayek seperti Selindung-Pasar, Kampung Kramat-Pasar hingga Pangkalbalam terlihat lebih banyak terparkir ketimbang beroperasi membawa penumpang.
Di tengah kenaikan harga BBM, para pengemudi berharap masyarakat mulai melirik kembali transportasi umum. Namun harapan itu hingga kini belum terlihat.
Bani (56), sopir angkot trayek Selindung-Pasar, mengaku kenaikan harga Pertamax belum membuat masyarakat beralih menggunakan jasa angkot.
Menurutnya, jumlah penumpang masih sangat minim. Bahkan, sejak pagi hingga siang hari, dirinya baru mendapatkan satu orang penumpang.
"Dari pagi sampai siang ini baru satu penumpang tadi. Dari Selindung ke pasar. Setelah itu nunggu lagi sampai sekarang belum ada yang naik," kata Bani saat ditemui di pangkalan angkot BTC Pangkalpinang, Kamis (11/6/2026).
Bani mengaku kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama. Dalam sehari, penghasilannya terkadang hanya berkisar Rp50 ribu, itu pun belum dipotong biaya operasional seperti bahan bakar dan kebutuhan makan.
"Kadang satu hari cuma dapat Rp50 ribu. Belum dikurangi bensin, belum makan. Kalau sampai Pertalite naik juga, habis sudah kami," ujarnya.
Meski kondisi semakin sulit, Bani memilih bertahan menjadi sopir angkot lantaran tidak memiliki pilihan pekerjaan lain.
"Sudah tua, cari kerja susah. Mau bagaimana lagi, inilah kerja kami," ucapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Usman (54), sopir angkot trayek Kampung Kramat-Pasar.
Ia mengatakan, selain penumpang yang semakin berkurang, pemasukan tambahan dari jasa titip barang yang dulu menjadi penopang pendapatan kini juga nyaris hilang.
Padahal sebelumnya, banyak pedagang atau warga yang menitipkan barang belanjaan dari kawasan BTC untuk diantar menggunakan angkot.
"Kalau dulu walaupun penumpang sedikit, masih ada yang nitip barang. Misalnya buah atau baju dari BTC. Sekarang sudah hampir tidak ada lagi, sebulan sekali pun kadang belum tentu," kata Usman.
Menurutnya, keberadaan ojek online menjadi salah satu penyebab utama masyarakat mulai meninggalkan angkot.
Usman menyebut, calon penumpang kini lebih memilih transportasi yang dianggap cepat dan praktis dibanding harus menunggu angkot penuh terlebih dahulu.
"Kami tidak bisa jalan kalau cuma satu penumpang. Harus nunggu lagi, tapi orang sekarang tidak mau nunggu lama, akhirnya pergi pakai ojek online," ujarnya.
Kendati demikian, Usman mengaku tetap bertahan menjalani profesinya sebagai sopir angkot di tengah ketidakpastian pendapatan.
"Tapi ya mau bagaimana lagi, inilah pekerjaan kami," katanya.
Diketahui, penyesuaian harga BBM non-subsidi di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) mulai berlaku pada 10 Juni 2026.
Untuk BBM jenis Pertamax (RON 92), harga mengalami kenaikan dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter. Sementara Pertamax Turbo (RON 98) tetap berada di angka Rp21.200 per liter.
Adapun BBM subsidi masih belum mengalami perubahan harga. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan BioSolar bertahan di angka Rp6.800 per liter.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)