BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Sinar matahari pagi baru saja merambat di Desa Air Bara, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan.
Di antara deretan pohon sawit yang menjulang, Samsul (48) berjalan pelan menyusuri kebunnya.
Sesekali ia berhenti, memeriksa pelepah, memperhatikan tanah di sekitar batang, memastikan pohon-pohon yang menjadi sumber penghidupan keluarganya tetap tumbuh baik.
Bagi Samsul, kebun sawit bukan sekadar lahan usaha. Dari sanalah ia membesarkan keluarga, memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga mengantarkan anak-anaknya mengenyam pendidikan tinggi.
"Alhamdulillah, dari sawit inilah saya bisa menyekolahkan anak-anak sampai sarjana," ujar Samsul kepada Bangkapos.com, dengan senyum yang sulit disembunyikan, Kamis (11/6/2026).
Seperti petani kebanyakan, perjalanannya mengelola kebun tidak selalu mulus. Pohon sawit yang telah lama ditanam mulai memasuki usia produktivitas yang menurun.
Perawatan kebun membutuhkan biaya tidak sedikit. Belum lagi kebutuhan pupuk yang terus meningkat, serta keharusan menyiapkan pembibitan baru sebagai cadangan regenerasi tanaman.
Di tengah kebutuhan modal yang mendesak itu, Samsul mengaku menemukan jalan keluar melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.
Ia mengajukan pinjaman sebesar Rp40 juta untuk menghidupkan kembali produktivitas kebunnya.
Dana itu digunakan untuk membeli pupuk, memperbaiki perawatan kebun, sekaligus menyiapkan bibit sawit baru agar keberlangsungan usaha tetap terjaga.
"Alhamdulillah kemarin pengajuannya cepat sekali direspons BRI. Saya pinjam Rp40 juta dan sekarang masih berjalan. Cicilannya juga rendah, sangat membantu kami para petani, tidak memberatkan sama sekali, bahkan disesuaikan dengan panen kami," katanya.
Menurut Samsul, kehadiran KUR BRI terasa nyata bagi masyarakat desa, terutama petani sawit yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga di Bangka Belitung.
"Dengan hadirnya KUR BRI, kami para petani sawit sangat terbantu. Apalagi sawit ini komoditas mayoritas masyarakat Bangka Belitung, dan ini lah mata pencaharian kami sejak dulu," ujarnya.
Namun mengelola kebun sawit bukan perkara mudah. Pohon yang mulai menua membutuhkan biaya perawatan, pupuk, hingga pembibitan baru untuk menjaga produktivitas tetap bertahan.
Bagi Samsul, persoalannya bukan hanya soal panen hari ini saja. Tetapi juga bagaimana memastikan kebunnya tetap menghasilkan untuk tahun-tahun mendatang.
Karena itu, sebagian dana KUR yang ia dapatkan juga digunakan untuk pembibitan baru. Ia menyadari, pohon sawit yang telah tua suatu saat harus diremajakan.
"Kalau tidak mulai dari sekarang, nanti saat pohon sudah tua kita bingung. Jadi harus ada cadangan bibit baru," ujarnya.
Di sinilah, menurut Samsul, akses pembiayaan menjadi penting. Sebab bagi petani kecil, modal sering kali menjadi hambatan terbesar untuk bertahan dan berkembang.
Kehadiran KUR BRI, kata dia, memberi ruang napas bagi petani agar tetap bisa menjaga produktivitas kebun tanpa harus terjebak pada pinjaman berbunga tinggi.
Di Bangka Belitung, sawit menjadi salah satu komoditas perkebunan strategis selain lada.
Ribuan kepala keluarga menggantungkan hidup dari hasil kebun sawit, terutama di wilayah kabupaten seperti Bangka Selatan, Bangka Tengah, dan Bangka Barat.
Di wilayah selatan Bangka, bentang perkebunan sawit menjadi pemandangan yang akrab. Namun di balik produktivitas itu, tantangan klasik tetap menghantui petani yakni kebutuhan modal untuk pupuk, perawatan, hingga peremajaan tanaman.
Karena itu, akses pembiayaan seperti KUR menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga keberlanjutan sektor perkebunan rakyat.
Bagi Samsul, KUR bukan hanya soal pinjaman modal. Lebih dari itu, bantuan pembiayaan tersebut menjadi cara mempertahankan warisan kebun yang selama ini menopang kehidupan keluarganya.
Ia masih ingat betul bagaimana hasil sawit perlahan mengubah kehidupan keluarganya. Dari kebun sederhana, ia mampu memastikan anak-anaknya memperoleh pendidikan yang layak.
Kini, harapannya sederhana menjaga kebun tetap produktif agar generasi berikutnya tetap memiliki pijakan hidup yang kuat.
Di tengah hamparan sawit Desa Air Bara, cerita Samsul mungkin terdengar sederhana.
Namun dari kebun kecil miliknya, tersimpan pelajaran besar tentang ketekunan, harapan, dan bagaimana akses pembiayaan dapat menjadi jembatan bagi petani desa untuk terus bertahan.
Ketika banyak orang melihat sawit sebatas komoditas, bagi Samsul pohon-pohon itu adalah masa depan.
Dan di antara pupuk, bibit baru, serta cicilan yang terasa ringan, ada keyakinan yang terus ia rawat yakni selama kebun tetap hidup, harapan keluarganya akan terus tumbuh.
KUR BRI Menjaga Napas Kebun Sawit Rakyat
Kepala Unit BRI Toboali, Dodi, mengatakan penyaluran KUR bukan semata-mata pembiayaan perbankan saja. Tetapi bagian dari upaya menjaga ekonomi masyarakat desa tetap hidup melalui sektor-sektor produktif.
Termasuk perkebunan sawit yang menjadi salah satu komoditas utama masyarakat Bangka Belitung.
Menurutnya, keberadaan KUR menjadi penting karena tidak sedikit petani menghadapi keterbatasan modal untuk mempertahankan produktivitas kebun.
"Petani sawit membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk menjaga kebun tetap produktif. Ada kebutuhan pupuk, perawatan, bahkan pembibitan untuk regenerasi tanaman. Karena itu KUR hadir sebagai akses pembiayaan yang dapat membantu mereka terus bergerak," ujar Dodi.
Ia menjelaskan, akses pembiayaan dengan bunga ringan menjadi salah satu solusi bagi petani yang selama ini kesulitan memperoleh tambahan modal usaha melalui skema pembiayaan formal.
Terlebih, pola usaha perkebunan memiliki karakteristik berbeda dibanding sektor lain. Hasil panen tidak datang setiap hari, sementara biaya operasional tetap harus berjalan secara berkala.
"Modal petani itu harus terus berputar. Sementara hasil usaha bergantung pada masa panen. Maka pembiayaan seperti KUR menjadi penting agar aktivitas usaha tetap berjalan dan produktivitas kebun bisa terjaga," katanya.
Bagi BRI, kata Dodi, penyaluran KUR diarahkan untuk mendukung sektor produktif masyarakat, mulai dari pertanian, perikanan, hingga UMKM di daerah.
Khusus di Bangka Belitung, sektor perkebunan sawit memiliki peran penting sebagai penggerak ekonomi desa.
Tidak sedikit keluarga menggantungkan penghasilan utama dari hasil tandan buah segar (TBS), baik sebagai pemilik kebun maupun pekerja sektor perkebunan.
Karena itu, dukungan pembiayaan dinilai dapat memberi dampak berantai terhadap ekonomi masyarakat.
Ketika kebun tetap produktif, daya beli masyarakat ikut terjaga, lapangan pekerjaan bergerak, dan roda ekonomi desa tetap berputar.
"Harapan kami, pembiayaan ini benar-benar bisa membantu petani meningkatkan kapasitas usahanya. Ketika kebun terawat dan hasil panen meningkat, tentu dampaknya juga akan dirasakan keluarga hingga lingkungan sekitar," ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa akses modal tetap harus diiringi pengelolaan usaha yang baik agar pembiayaan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Menurutnya, keberhasilan KUR tidak hanya diukur dari jumlah kredit yang tersalurkan, tetapi sejauh mana pembiayaan tersebut mampu membantu masyarakat memperkuat usaha dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
"BRI ingin hadir bukan hanya sebagai penyalur pembiayaan, tetapi menjadi bagian dari perjalanan masyarakat dalam mengembangkan usaha produktif mereka," pungkasnya.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)