Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - SMP Negeri 49 Renggarasi di Kabupaten Sikka, mengikuti kegiatan OSN Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) via online di halaman rumah warga dengan kondisi memprihatinkan dan mengalami banyak kendala serius.
Jaringan internet tidak ada sama sekali, kondisi ruangan darurat dengan dinding dari terpal dan baliho sobek, alas lantai menggunakan pelupuh bambu, karena keadaan tanah di lereng miring. Tiang penyangga dibuat dari batang bambu yang dibangun dengan konstruksi seperti kemah.
Meskipun dhadapkan dengan kendala, semangat para pendidik, siswa-siswi dan masyarakat tetap terpatri untuk menyelamatkan pendidikan anak bangsa.
Hal itu dibuktikan, dari video yang diterima TribunFlores.com, Kamis (11/6/2026) para siswa-siswi yang saat itu menenakan seragam putih biru duduk serius memperhatikan arahan para pengawas sambil menatap layar laptop, mendengar dan mengikuti instruksi yang diberikan, sebelum ANBK dimulai.
Baca juga: Terungkap Identitas Empat Anggota Brimob di Labuan Bajo Jadi Korban Penikaman
Saat OSN ANBK berlangsung pun para siswa-siswi secara mandiri mengerjakan semua soal dengan serius diawasi pengawas. Suasana sunyi dan tenang tidak ada kebisingan.
Kepala SMP Negeri 49 Renggarasi, Frederikus Bosco Beke menuturkan sebanyak 15 siswa-siswi yang mengikuti OSN ANBK ini.
"Untuk kegiatan OSN ini, kami memang kendalanya di sinyal, karena di sekolah kami itu tidak ada sinyal. Maka untuk sementara ini kami cari di kampung Wolofai, Dusun Paipenga, Desa Tuwa," kata Frederikus.
Walaupun sudah dipilih alternatif di kampung Wolofai, Frederikus menuturkan para siswa-siswi tetap harus berjalan kaki kurang lebih satu kilometer. Pelaksanaan di OSN berlangsung di rumah Yohanis Ngaa yang juga merupakan salah satu aparat di Desa Tuwa, Kecamatan Tanawawo.
Pelaksanaan OSN ANBK SMP Negeri 49 Renggarasi ini pun disiarkan secara live streaming di youtube.
SMP Negeri 49 Renggarasi telah berjalan selama satu tahun lebih dengan kondisi ruangan dua darurat dari pelepuh bambu. Satu ruangan lama sejak sekolah berdiri, sedangkan untuk ruangan baru adalah hasil sinergitas antara para guru, pemerintah desa dan masyarakat menyambut tahun ajaran baru.
"Para murid di sekolah ini sebanyak 20 orang dan ini mau angkatan kedua," ujar Frederikus. (moa)