Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan sistem pemesanan tiket terintegrasi untuk pementasan seni di gedung pertunjukan dalam rangka mendukung transformasi digital di Jakarta.

Kepala Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB) Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Rinaldi mengatakan transformasi pemesanan tiket secara digital menjadi jawaban atas keresahan masyarakat yang merasa sulit untuk mendapatkan tiket pertunjukan yang begitu banyak diminati.

Sistem pemesanan tiket terintegrasi, salah satunya diterapkan pada pementasan "Petruk Dadi Dalang" di Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata, Senen, Jakarta Pusat, pada Sabtu (6/6).

Penyelenggara, melalui akun Instagram @gedungpertunjukanjakarta menunjukkan kode QR untuk pembelian tiket. Kode tersebut nantinya terintegrasi ke laman resmi UP GPSB.

Pertunjukan "Petruk Dadi Dalang" menjadi kali keempat pementasan rutin Wayang Orang Bharata pada 2026, yang diselenggarakan atas kerja sama Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dengan Paguyuban Wayang Orang Bharata.v

Pertunjukan itu dipadati oleh 252 penonton, sesuai dengan kapasitas kursi yang tersedia di gedung kesenian tersebut.

Berdasarkan data sistem pemesanan tiket terintegrasi UP GPSB, pada 4-6 Juni 2026, terdapat 8.088 interaksi pada laman yang diakses.

"Minat masyarakat yang ingin menonton Wayang Orang Bharata sangat tinggi, tercatat 8.088 pengguna yang mengakses laman tiket kami dengan berbagai macam rentang usia, umumnya generasi muda," kata Rinaldi.

Menurut dia, animo yang tinggi itu menjadi indikator bahwa seni pertunjukan tradisional masih memiliki tempat penting di hati masyarakat urban.

Akhir pekan ini, UP GPSB kembali menerapkan sistem pemesanan terintegrasi untuk pertunjukan selanjutnya, yakni pertunjukan rutin Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 bertajuk "Nyai Dasimah" spesial semarak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta, pada 13 Juni 2026 di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Kemayoran, Jakarta Pusat.

"Berkembangnya teknologi harus dapat menopang pelestarian seni dan budaya, sehingga pementasan rutin pelestarian tradisi, tetap terpelihara dan lestari tanpa kehilangan bobot dan filosofinya," tutur Rinaldi.