BANGKAPOS.COM--Sebuah video yang memperlihatkan seorang nenek penjual siomai dituding meminta uang tebusan Rp1 juta untuk mengembalikan dompet yang ditemukan di area parkir minimarket mendadak viral dan memicu kemarahan warganet.
Dalam hitungan jam, potongan video tersebut menyebar luas di berbagai platform media sosial.
Banyak netizen mengecam tindakan sang nenek yang dianggap memanfaatkan musibah orang lain untuk mendapatkan keuntungan.
Namun, setelah polisi turun tangan dan melakukan penyelidikan, fakta yang terungkap ternyata jauh lebih kompleks dibanding narasi yang beredar di dunia maya.
Di balik tudingan meminta tebusan jutaan rupiah, tersimpan kisah pasangan lansia yang hidup sederhana sebagai penjual siomai keliling, bahkan salah satunya diduga mengalami gangguan daya ingat akibat faktor usia.
Peristiwa ini bermula pada Minggu (7/6/2026) sekitar pukul 14.30 WIB ketika Ahmad Bahru bersama istri dan anaknya berbelanja di sebuah minimarket di Desa Mojopuro, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen.
Setelah selesai berbelanja, Ahmad melanjutkan perjalanan menuju Pasar Sumberlawang untuk membeli sejumlah kebutuhan lainnya.
Namun setibanya di lokasi, ia mendadak panik karena dompet yang sebelumnya berada di sakunya tidak lagi ditemukan.
Merasa dompetnya kemungkinan terjatuh di minimarket, Ahmad langsung kembali ke lokasi untuk melakukan pencarian.
Harapannya menemukan dompet secara langsung pupus. Namun petunjuk penting justru muncul dari rekaman kamera pengawas atau CCTV yang terpasang di area parkir.
Baca juga: 10 Calon Jemaah Umroh di Pangkalpinang Tertipu Janji Berangkat Cepat, Uang Rp290 Juta Raib
Dari rekaman CCTV, terlihat dompet milik Ahmad dipungut oleh pasangan suami istri lanjut usia yang diketahui bernama Darmo dan Sukini.
Pasangan tersebut sehari-hari berjualan siomai keliling di kawasan Sumberlawang.
Berbekal rekaman tersebut, Ahmad kemudian mencari keberadaan keduanya dan akhirnya menemukan mereka saat sedang berjualan di depan sebuah sekolah.
Saat ditunjukkan rekaman CCTV, pasangan lansia itu mengakui memang menemukan dompet yang terjatuh di area parkir minimarket.
Namun persoalan kemudian berkembang setelah muncul video yang menyebut sang nenek meminta uang tebusan Rp1 juta agar dompet tersebut bisa dikembalikan kepada pemiliknya.
Narasi itulah yang kemudian memicu gelombang kemarahan publik dan membuat kasus tersebut viral.
Baca juga: Harga Pertamax Naik 32 Persen, Akademisi Sebut Daya Beli Masyarakat Bangka Belitung Melemah
Kapolsek Sumberlawang AKP Sudarmaji mengatakan pasangan lansia tersebut memang mengakui menemukan dompet milik korban.
"Sebagian barang sudah dikembalikan tapi sebagian juga belum," kata Sudarmaji, Selasa (9/6/2026).
Dari hasil pemeriksaan, pasangan lansia itu mengaku sempat mengambil sejumlah uang tunai dan beberapa dokumen yang berada di dalam dompet.
Sementara barang lainnya disimpan di gerobak tempat mereka berjualan.
Namun ketika diminta menunjukkan seluruh isi dompet yang tersisa, keduanya mengaku dompet tersebut telah hilang saat berkeliling menjajakan dagangan.
"Jatuhnya di mana tidak tahu," ujar Sudarmaji.
Dalam pemeriksaan, Ahmad mengungkapkan jumlah uang yang berada di dalam dompet tidak hanya Rp400 ribu seperti yang ramai disebut di media sosial.
Menurutnya, total uang yang tersimpan mencapai sekitar Rp1,3 juta karena sebagian disimpan di beberapa kompartemen tersembunyi dalam dompet.
Selain uang tunai, dompet tersebut juga berisi berbagai dokumen penting seperti KTP, STNK, kartu BPJS kesehatan, hingga kartu identitas lainnya.
Kehilangan dokumen-dokumen tersebut tentu menambah kerepotan bagi korban.
Meski demikian, sebagian kartu identitas akhirnya berhasil ditemukan dan dikembalikan.
Dalam proses penyelidikan, polisi tidak hanya memeriksa korban dan pasangan lansia tersebut.
Aparat juga meminta keterangan warga sekitar yang mengenal kehidupan sehari-hari mereka.
Dari hasil pendalaman itulah muncul fakta yang mengubah arah pandangan banyak orang terhadap kasus ini.
Polisi menduga Sukini mengalami gangguan daya ingat atau kondisi linglung akibat faktor usia lanjut.
Kapolsek Sumberlawang mengungkapkan bahwa selama pemeriksaan, jawaban yang diberikan Sukini sering kali tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan.
"Kalau ngomong banyak enggak nyambungnya daripada nyambungnya. Kita ngomong A sana sudah sampai Z," ungkap Sudarmaji.
Keterangan serupa juga diperoleh dari sejumlah warga yang sehari-hari mengenal pasangan lansia tersebut.
Temuan ini menjadi salah satu alasan polisi memilih pendekatan persuasif dalam menyelesaikan persoalan yang sempat menjadi perhatian publik tersebut.
Meski mengalami kerugian akibat uang dan dokumen yang tidak kembali sepenuhnya, Ahmad akhirnya mengambil keputusan yang mengejutkan.
Setelah mengetahui kondisi pasangan lansia tersebut, terutama dugaan gangguan mental yang dialami Sukini, ia memilih tidak memperpanjang persoalan.
Korban memutuskan untuk tidak membuat laporan pidana dan mengikhlaskan sebagian kerugian yang dialaminya.
"Pemilik melihat situasi kondisi seperti itu, tadi menyampaikan kepada saya legowo," kata Sudarmaji.
Keputusan tersebut membuat kasus yang sempat memicu kemarahan publik berakhir damai.
Kasus ini menjadi contoh bagaimana sebuah potongan video di media sosial belum tentu mampu menggambarkan keseluruhan fakta yang terjadi.
Narasi mengenai permintaan uang tebusan Rp1 juta sempat memicu gelombang kecaman.
Namun setelah dilakukan penyelidikan lebih mendalam, terungkap kondisi yang jauh lebih kompleks dan menyentuh sisi kemanusiaan.
Di balik sosok yang dituding meminta tebusan, terdapat pasangan lansia yang hidup sederhana dan salah satunya diduga mengalami gangguan daya ingat akibat usia.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat agar masyarakat tidak terburu-buru menghakimi seseorang hanya berdasarkan potongan video yang beredar di media sosial tanpa mengetahui keseluruhan fakta yang sebenarnya.(*)
(TribunTrends/Kompas)