SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,50 persen.
Langkah ini diambil sebagai strategi lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah serta mendorong masuknya aliran investasi asing ke dalam negeri melalui peningkatan imbal hasil dan insentif moneter.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, menyatakan pihaknya optimistis dan siap memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter demi mendukung stabilisasi perekonomian tersebut.
"Kami optimis dan akan all out memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk mendukung upaya stabilisasi nilai tukar rupiah," ujar Bambang pada Kamis (11/6/2026).
Guna mendukung kenaikan BI Rate tersebut, Bank Indonesia menetapkan empat langkah strategis dalam operasi moneter, antara lain:
1. Kenaikan struktur suku bunga SRBI pada seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan untuk semakin meningkatkan imbal hasil bagi masuknya investasi portfolio asing.
Kenaikan struktur suku bunga SRBI dimaksud dilakukan sesuai mekanisme pasar dan untuk menjadikan investasi portofolio di Indonesia tetap kompetitif dengan negara lain.
2. Pemberian insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai bagi investor asing sebesar 10 persen untuk semakin meningkatkan daya tarik masuknya investor asing serta mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor.
Sebagaimana diketahui, selama ini Bank Indonesia memberikan fasilitas swap lindung nilai bagi masuknya investasi asing melalui bank-bank di Indonesia yang kemudian meneruskan kepada Bank Indonesia.
Sementara itu, penentuan tingkat swap yang reguler tetap harus diberikan Bank Indonesia sesuai mekanisme pasar yang berlaku.
3. Pembukaan kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor-tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan guna memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan sasaran agar pertumbuhan Uang Primer (M0) tetap double digit (diatas 10 % ).
Perluasan fasilitas repo ini akan menjadi instrumen utama dalam pengelolaan likuiditas moneter dibandingkan dengan mekanisme lain, termasuk melalui pembelian SBN dari pasar sekunder yang selama ini ditempuh Bank Indonesia.
4. Peningkatan intensitas operasi moneter baik Rupiah maupun valuta asing untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah. Penguatan operasi moneter Rupiah ditempuh dengan pembukaan lelang SRBI dua kali seminggu.
Sementara itu, penguatan operasi moneter valuta asing terus dilakukan dengan meningkatkan intensitas intervensi baik melalui transaksi spot dan DNDF di pasar domestik maupun transaksi NDF di pasar luar negeri.
Dalam paparannya, Bambang Pramono turut menyampaikan bahwa di tengah berbagai tantangan global, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang baik.
Sumatera Selatan juga konsisten memperlihatkan kinerja ekonomi yang positif, tercermin dari pertumbuhan ekonominya pada triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 5,34 persen (yoy), inflasi yang masih terjaga sesuai sasaran inflasi nasional, pertumbuhan DPK pada triwulan II 2026 sebesar 7,03 persen (yoy) dan pertumbuhan kredit pada triwulan II 2026 sebesar 10,54 persen (yoy), dan digitalisasi sistem pembayaran Sumatera Selatan yang terus menunjukkan kinerja yang positif.
Ekonomi Sumatera Selatan diproyeksikan tumbuh sebesar 5,00 persen -5,80 persen dengan inflasi yang berkisar di rentang sasaran 2,5 +- 1 persen pada 2026.