Aplikasi MyPertamina Bermasalah di Bandar Lampung sehingga Warga Beli Pertamax
Robertus Didik Budiawan Cahyono June 11, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Sejumlah masyarakat mengalami kendala saat melakukan pembelian BBM subsidi jenis Pertalite menggunakan aplikasi MyPertamina.

Baca juga: Pertamax Naik Jadi Rp 16.650, Pengendara Motor di Lampung Tengah Beralih ke Pertalite

Salah satunya dialami Herli (35), warga Kecamatan Panjang, Bandar Lampung saat mengisi Pertalite di SPBU 24.352.44 Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Garuntang, Kecamatan Bumi Waras, Bandar Lampung.

Karena kode batang atau barcode miliknya tidak terbaca, dan dirinya kesulitan membuat kode batang baru dari aplikasi MyPertamina, terpaksa dia harus mengisi BBM jenis Pertamax yang saat ini harganya naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.

Kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi ini berlaku secara nasional sejak 10 Juni 2026.

Sementara itu berdasarkan pantauan di SPBU 24.352.44 Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Garuntang, Kecamatan Bumi Waras, tidak terlihat adanya antrean pengisian BBM jenis Pertalite maupun Pertamax.

Herli mengaku sempat mengalami hambatan pada barcode MyPertamina ketika hendak melakukan transaksi pengisian BBM.

Menurutnya, kendala tersebut terjadi setelah adanya pembaruan sistem sehingga barcode tidak dapat langsung digunakan.

"Awalnya barcode tidak bisa digunakan. Setelah diperbarui, saat mau mengisi lagi tetap sempat terblokir. Sekarang sedang dicoba dibuat lagi," ujarnya kepada Tribun Lampung, saat diwawancarai dari dalam mobilnya, sambil ia berusaha membuat barcode dari aplikasi MyPertamina, di di SPBU 24.352.44 Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Garuntang, Kecamatan Bumi Waras, Bandar Lampung, Kamis (11/6/2026).

Ia menilai penggunaan barcode MyPertamina masih cukup menyulitkan bagi sebagian pengguna. Meski demikian, Herli mengaku tidak memiliki pilihan lain karena pembelian Pertalite kini mengandalkan sistem barcode.

"Kalau pakai barcode MyPertamina memang agak sulit. Mau tidak mau harus pakai itu," katanya.

Dalam kesehariannya, Herli mengaku rutin menggunakan Pertalite untuk kendaraan pribadinya. Selain bekerja, ia juga menjalani aktivitas sebagai pengemudi taksi online untuk menambah penghasilan.

Terkait kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax, Herli menilai dampaknya tidak terlalu dirasakan secara langsung karena dirinya lebih sering menggunakan Pertalite.

Meski demikian, ia menyebut kenaikan harga BBM tetap menjadi perhatian masyarakat, terutama bagi kalangan dengan kondisi ekonomi terbatas.

"Bagi saya masih standar karena jarang isi Pertamax. Tapi kalau untuk orang yang ekonominya pas-pasan tentu cukup berat," ungkapnya.

Sebagai pengemudi taksi online, Herli mengatakan penggunaan Pertalite masih mampu menopang biaya operasional kendaraan.

Pendapatan dari orderan yang diterima sejauh ini dinilai masih dapat menutupi kebutuhan bahan bakar. "Kalau untuk taksi online, selama masih pakai Pertalite dan orderan ada, sejauh ini masih menutupi biaya BBM," katanya.

Keluhan terkait kendala barcode MyPertamina ini menjadi salah satu persoalan yang masih ditemui pengguna BBM subsidi di lapangan.

Masyarakat berharap proses verifikasi dan penggunaan barcode dapat semakin mudah sehingga tidak menghambat transaksi pengisian bahan bakar di SPBU.

( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.