TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Gejolak geopolitik internasional mulai dirasakan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kediri. Kenaikan harga bahan baku impor dan kemasan produksi memaksa sejumlah pelaku usaha melakukan berbagai penyesuaian agar tetap bertahan di tengah lesunya daya beli masyarakat.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak tersebut adalah Gatot Siswanto, produsen tahu takwa sekaligus pemilik GTT Kediri di Desa Toyoresmi Kecamatan Ngasem. Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat pelaku UMKM memilih bertahan daripada menaikkan harga produk secara drastis.
"Masyarakat saat ini belum ada peningkatan ekonomi yang signifikan. Jadi kami lebih baik bertahan dulu. Produksi tidak begitu besar karena kalau dinaikkan, sementara ekonomi masyarakat belum membaik," jelas Gatot, Kamis (11/6/2026).
Gatot menyebut tekanan terhadap pelaku UMKM tidak hanya berasal dari kenaikan harga bahan baku, tetapi juga menurunnya daya beli masyarakat. Kondisi tersebut semakin terasa menjelang tahun ajaran baru ketika kebutuhan rumah tangga meningkat.
Baca juga: Tiga Remaja di Blitar Lakukan Aksi Perampasan dengan Modus Ajak Kencan Korban
"Ini apalagi bersamaan dengan anak-anak masuk sekolah. Yang jelas mempengaruhi omzet penjualan dari pelaku UMKM," katanya.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha, GTT memilih mengurangi hari produksi dibandingkan menaikkan harga jual secara berlebihan. Langkah itu dilakukan agar biaya operasional tetap terkendali tanpa harus mengurangi kualitas produk.
Menurut Gatot, dampak perlambatan ekonomi dan kenaikan biaya produksi sudah terlihat dari penyesuaian jam kerja karyawan. Jika sebelumnya proses produksi berjalan enam hari dalam sepekan, kini hanya empat hingga lima hari kerja.
"Turunnya sangat signifikan. Biasanya satu minggu masuk enam hari, sekarang empat sampai lima hari saja," ungkapnya.
Meski hari kerja berkurang, kapasitas produksi harian tetap dipertahankan untuk memenuhi target produksi yang telah ditetapkan perusahaan. Dalam sehari, GTT mengolah sekitar tiga kuintal kedelai untuk memproduksi tahu takwa.
Di sisi lain, harga kedelai impor sebagai bahan baku utama juga mengalami kenaikan. Jika sebelumnya berada di kisaran rp 10.500 per kilogram, kini naik menjadi sekitar rp 12.500 per kilogram.
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada bahan baku utama. Bahan kemasan yang sebagian besar masih bergantung pada pasokan impor juga mengalami lonjakan harga cukup tinggi.
Gatot mengungkapkan plastik kemasan berkualitas yang banyak digunakan pelaku UMKM mengalami kenaikan harga cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membebani biaya produksi.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Gatot menilai kondisi Indonesia masih relatif aman dibandingkan negara-negara lain yang terdampak langsung konflik dan ketegangan geopolitik internasional.
"Kita sebagai warga negara Indonesia bersyukur. Negara kita tidak ikut campur hiruk pikuk internasional itu," ujarnya.
Baca juga: Penjelasan Ponpes MMQ Kediri Terkait Kronologi 3 Santri Tenggelam di Pantai Pangi Blitar
Menurutnya, apabila Indonesia turut terseret dalam konflik geopolitik global, dampaknya terhadap dunia usaha bisa jauh lebih berat dibandingkan kondisi yang terjadi saat ini.
Sementara itu, pelaku UMKM lainnya, Eli Setiowati pemilik usaha Omah Jenang di Desa Kayunan Kecamatan Plosoklaten juga merasakan dampak kenaikan biaya produksi yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Untuk menekan biaya operasional, usaha yang telah berjalan sekitar tiga tahun tersebut memilih beralih menggunakan tungku kayu sebagai sumber energi produksi. Langkah itu dinilai mampu mengurangi beban pengeluaran dibandingkan penggunaan bahan bakar lain yang lebih mahal.
"Untuk menyiasati harga produksi yang semakin membengkak, kami beralih menggunakan tungku kayu untuk menekan biaya produksi," jelas Eli.
Selain itu, pihaknya juga mulai mempertimbangkan penggunaan kemasan tradisional apabila harga mika atau thinwall terus mengalami kenaikan. Besek dinilai menjadi salah satu alternatif yang lebih ekonomis sekaligus ramah lingkungan.
Meski demikian, Eli mengakui kenaikan biaya produksi pada akhirnya tetap berpotensi mempengaruhi harga jual produk. Namun setiap penyesuaian harga akan terlebih dahulu dikomunikasikan kepada pelanggan agar tidak menimbulkan keluhan.
"Diversifikasi varian produk agar menjangkau pasar yang lebih luas dan optimalisasi digital marketing," ungkapnya.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)