Menteri LH Puji Tukad Bindu Denpasar Bali, Sebut Konsepnya Mampu Cegah Warga Buang Sampah ke Sungai
Putu Kartika Viktriani June 11, 2026 09:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat melontarkan pujian khusus terhadap kawasan Tukad Bindu di Denpasar saat melakukan kunjungan kerja perdananya ke Bali sejak menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup.

Menurut Jumhur, konsep penataan lingkungan yang diterapkan di Tukad Bindu layak menjadi contoh nasional karena berhasil mengubah cara pandang masyarakat terhadap sungai.

BERI CINDERAMATA - Menteri LH Jumhur Hidayat menerima cinderamata berupa karikatur dari Pemimpin Redaksi Tribun Bali Komang Agus Ruspawan usai wawancara.
BERI CINDERAMATA - Menteri LH Jumhur Hidayat menerima cinderamata berupa karikatur dari Pemimpin Redaksi Tribun Bali Komang Agus Ruspawan usai wawancara. (Tribun Bali)

Bahkan, ia menyebut konsep tersebut dapat menjadi "peradaban baru" dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Jumhur dalam wawancara eksklusif bersama Tribun Bali saat membahas persoalan sampah dan pelestarian lingkungan di Pulau Dewata.

 

Tukad Bindu Disebut Layak Jadi Contoh Nasional

Selain mengapresiasi keterlibatan desa adat dalam pengelolaan sampah, Menteri Jumhur mengaku terkesan saat meninjau langsung kawasan Tukad Bindu di Kota Denpasar Bali.

Baca juga: Menteri LH Jumhur Hidayat Bicara Sampah Bali, TPA Suwung, hingga Target PSEL Beroperasi 2028

Menurutnya, komitmen warga yang membangun rumah menghadap sungai, bukan membelakanginya, merupakan terobosan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan.

"Saya tadi lihat Tukad Bindu, itu bagus sekali. Tukad Bindu ini menarik, ini harus menjadi kebijakan nasional, dan menjadi peradaban baru bagaimana kita memperlakukan sungai, atau kali, atau sungai," kata Jumhur.

Ia menjelaskan, ketika masyarakat menjadikan sungai sebagai bagian depan rumah, maka muncul kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan dan keindahan aliran sungai tersebut.

"Di Tukad Bindu itu, sepanjang sungainya mereka sudah punya komitmen bahwa kita membangun rumah menghadap sungai. Jadi bukan membelakangi sungai, ini menghadap sungai. Dengan begitu, kita pasti akan melihat sungai harus selalu baik dan bersih," ujarnya.

Menurut Jumhur, pola pikir tersebut menjadi kunci keberhasilan penataan Tukad Bindu yang kini dikenal sebagai salah satu kawasan sungai terbersih dan tertata di Bali.

"Dan karena itu, mereka tidak mau buang-buang sampah sembarangan. Dia mau kelola dulu dengan baik, sempurna, baru sungai itu bisa terpelihara. Dan itu terjadi. Bersih tadi saya lihat. Aduh, itu indah sekali," katanya.

Ia menilai keberhasilan Tukad Bindu tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Denpasar, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia yang masih menghadapi persoalan pencemaran sungai.

"Dan ini harus menjadi contoh baik bagi seluruh sungai yang ada di Indonesia. Ini pesan yang baik dari Bali, saya rasa Tukad Bindu," tegasnya.

Desa Adat Jadi Kekuatan Bali Menjaga Lingkungan

Dalam kesempatan yang sama, Jumhur juga menyoroti peran desa adat yang dinilainya menjadi salah satu kekuatan utama Bali dalam mengatasi persoalan sampah dan menjaga lingkungan.

Ia melihat langsung bagaimana desa adat mulai terlibat dalam pengelolaan sampah melalui bank sampah maupun kerja sama dengan sektor pariwisata, termasuk hotel, restoran, dan kafe (horeka).

Menurutnya, pemerintah pusat tidak ingin menerapkan pola penanganan lingkungan yang seragam di seluruh daerah karena setiap wilayah memiliki karakteristik dan kearifan lokal masing-masing.

"Di sini ada desa adat, berkolaborasi dengan horeka, dia mengelola sampah dari horeka, karena itu dia bisa menjadi pendapatan untuk desa adat, itu bagus. Jadi ada kegiatan ekonomi buat teman-teman desa adat. Itu kan mereka yang memelihara kebudayaan," ujarnya.

Jumhur menegaskan keberadaan desa adat harus terus diperkuat karena budaya merupakan fondasi utama pariwisata Bali.

"Kalau cuma ada hotel-hotel mewah, gaya barat, gaya Eropa, lupa budaya, ya bukan Bali lagi," tegasnya.

Menurutnya, kolaborasi antara desa adat, masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah menjadi modal besar bagi Bali untuk menyelesaikan persoalan sampah sekaligus menjaga identitas budaya Pulau Dewata.

Bali Dinilai Berada di Jalur yang Tepat

Jumhur juga menilai Bali saat ini berada di jalur yang tepat dalam penanganan sampah.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, tingkat pemilahan sampah di Kabupaten Badung telah mencapai sekitar 76 persen, sementara secara keseluruhan Bali mendekati 70 persen.

Ia mengapresiasi keterlibatan rumah tangga, desa adat, pelaku usaha, hingga sektor horeka yang mulai melakukan pemilahan sampah dari sumbernya.

Di akhir wawancara, Jumhur mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga Bali sebagai destinasi yang bersih, lestari, dan tetap berakar pada budayanya.

"Bali sudah bersih sekarang. Jadi akan lebih bersih lagi. Dan silahkan datang ke Bali. Menikmati keindahan alam dan budaya Bali," pungkasnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.