Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi ribuan liter air bersih didistribusikan ke sejumlah desa di Jawa Tengah dan Jawa Barat yang mulai terdampak bencana kekeringan fase peralihan musim kemarau.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa pengiriman pasokan air bersih tersebut difokuskan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, serta Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi di Jawa Barat.
"Musim kemarau yang mulai terjadi di wilayah tersebut menyebabkan debit air dari sumber-sumber alami berkurang dan tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat sehari-hari," kata dia
Abdul memaparkan bahwa pengiriman pasokan logistik air terbesar salah satunya diarahkan ke Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, yang dilaporkan telah mengalami nihil curah hujan selama kurang lebih satu bulan terakhir.
Di wilayah hilir Kabupaten Bekasi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menggelontorkan sedikitnya 10.000 liter air bersih untuk memenuhi domestik dari 30 kepala keluarga (KK) yang terdampak krisis air.
Sementara itu, pasokan air dalam jumlah ribuan liter berikutnya disalurkan oleh BPBD Kabupaten Bogor seiring berkurangnya debit sumber mata air permukaan di kawasan hulu yang biasa diandalkan oleh masyarakat setempat.
Abdul menyebutkan, untuk wilayah Kabupaten Bogor, armada truk tangki telah mendistribusikan sebanyak 5.000 liter air bersih secara bertahap kepada sedikitnya 127 kepala keluarga di kawasan Desa Gunung Sari, Kecamatan Citeureup.
Adapun di Provinsi Jawa Tengah, intervensi kedaruratan serupa juga dilakukan melalui pengiriman 4.000 liter air bersih oleh BPBD Kabupaten Cilacap bersama aparat kewilayahan untuk membantu 40 kepala keluarga di Desa Kedungbenda, Kecamatan Nusawungu.
Merespons peristiwa tersebut maka BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk melakukan langkah-langkah mitigasi.
Menurut Abdul, misalnya seperti membuat sumur resapan dan menyiapkan tandon air berkapasitas memadai sebagai cadangan air bersih. Selain itu, masyarakat juga dapat melakukan panen air hujan dengan menyiapkan drum atau wadah penampung yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Penghematan dan penggunaan air secara bijak sesuai kebutuhan," cetusnya.
Kekeringan ini selaras dengan hasil pemutakhiran data BMKG yang melaporkan sampai dengan akhir Mei 2026, perluasan wilayah kekeringan dimulai pada 200 zona musim (11,83 persen daratan) yang teridentifikasi lewat warna kecokelatan pada peta sebaran iklim nasional.
Pergerakan zona kering tersebut diproyeksikan melonjak drastis pada bulan Juni ini dengan memasuki 198 zona musim baru atau setara 31,6 persen luas daratan, mencakup wilayah DKI Jakarta bagian selatan, sebagian Pulau Jawa, hingga sebagian besar Pulau Kalimantan.
Memasuki bulan Juli, pergerakan kemarau akan kembali merambah 66 zona musim lainnya yang meliputi Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, hingga Maluku Utara.
Sebaliknya, BMKG mendeteksi adanya anomali lokal akibat efek topografi yang luas di tujuh zona musim (0,68 persen daratan) yang justru bersifat atas normal atau lebih basah, yakni di Bengkulu, Gorontalo bagian utara dan selatan, serta sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT).





