Alphonso Davies Jadi Legenda Sepak Bola Kanada, Namun Cedera Mengancam Momen Terbesarnya di Piala Dunia 2026
Rina Kusumawati June 11, 2026 09:44 PM

JANGAN LEWATKAN SEDETIK PUN DARI PIALA DUNIA


Alphonso Davies dianggap sebagai pemain terbaik sepanjang masa dalam sejarah sepak bola Kanada, namun perjalanan menuju Piala Dunia 2026 yang penuh cedera membuat pemain cepat Bayern Munich itu harus berjuang keras agar tidak kehilangan kesempatan terbesar dalam kariernya.


Setiap Senin malam, sekelompok pelari berlari menyusuri jalanan Toronto, memenuhi trotoar kota yang ramai, terutama saat musim panas tiba. Pada suatu malam baru-baru ini, kelompok itu melewati Stadion Toronto yang kini dipenuhi dengan dekorasi bertema Piala Dunia FIFA dan siap menjadi tuan rumah enam pertandingan selama turnamen 2026.


Malam itu penuh dengan jersey sepak bola, banyak di antaranya mengenakan seragam Kanada bertuliskan 'Davies 19' di punggung. Seorang pria menoleh dan bertanya kepada pelari lain apakah dia penggemar sepak bola — jawabannya datar, namun mencerminkan kenyataan yang tak terbantahkan: "Saya tidak terlalu suka sepak bola, tapi saya tahu siapa Alphonso Davies."


Pada hari Jumat nanti, hanya beberapa meter dari tempat kelompok itu berfoto beberapa hari sebelumnya, tim nasional putra Kanada akan memulai laga pembuka Piala Dunia 2026 di tanah air melawan Bosnia dan Herzegovina, menandai pertama kalinya turnamen pria terbesar itu digelar di Kanada. Namun Davies, sang kapten sekaligus bintang utama tim, tidak akan tampil di lapangan — setidaknya tidak bermain dalam waktu yang signifikan.


Ikon nasional


Ketenaran Davies sulit ditandingi. Para penggemar sejati sepak bola Kanada tentu mengenal kehebatan Jonathan David dalam mencetak gol dan kecepatan Tajon Buchanan, tetapi Davies berada di level yang berbeda. Bek sayap Bayern Munich ini adalah satu-satunya nama yang benar-benar dikenal luas di seluruh Kanada, sejajar dengan pencetak gol internasional terbanyak sepanjang masa Christine Sinclair, serta tokoh budaya besar seperti pemain hoki Sidney Crosby dan musisi ternama Drake serta Justin Bieber.


Namun untuk pertandingan paling bersejarah di kandang sendiri, Davies tidak akan tampil. Kenyataan ini sulit diterima, terutama setelah pemain berusia 25 tahun itu berjuang melawan cedera berkepanjangan. Cedera hamstring kanan yang dialaminya saat semifinal Liga Champions melawan Paris Saint-Germain pada awal Mei membuat harapan untuk tampil di laga pembuka pupus.


'Mengatur fase grup'


“Tidak, dia tidak akan bermain di laga pertama. Tapi dia akan tampil di turnamen,” ujar pelatih kepala Kanada asal Amerika Serikat, Jesse Marsch — yang dikenal sangat optimis — kepada Adrienne Arsenault dari CBC, jaringan berita terbesar di Kanada. Marsch berharap dapat menurunkan Davies di pertandingan grup berikutnya, melawan Qatar pada 18 Juni dan Swiss pada 24 Juni.


“Kami harus mampu mengatur fase grup dan lolos. Saya yakin dia bisa siap sepenuhnya begitu kami melaju. Jika kami pintar dan hati-hati, dia mungkin bisa tampil di pertandingan ketiga fase grup.”


Perjalanan menuju puncak


Tanpa Davies, sepak bola Kanada mungkin tidak akan berada di posisi sekarang, apalagi menjadi tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Meksiko untuk Piala Dunia 2026.


Lahir di kamp pengungsi Buduburam di Ghana setelah orang tuanya melarikan diri dari perang saudara Liberia, Davies pindah ke Kanada saat masih kecil bersama dua adik kandungnya. Keluarganya menetap di Edmonton, tempat ia tumbuh menjadi bakat muda luar biasa sebelum bergabung dengan akademi Vancouver Whitecaps di MLS pada usia 14 tahun.


Kurang dari setahun kemudian, Davies melakukan debut profesionalnya. Namun impian terbesarnya adalah menjadi warga negara Kanada. Pada Juni 2017, keinginannya terwujud saat ia mengucapkan sumpah kewarganegaraan di pusat kota Vancouver. Tak lama kemudian, ia langsung dipanggil memperkuat Kanada di ajang Piala Emas.


“Itu pertama kalinya dia melihat ibunya menangis; dia sedang mempelajari kisah hidupnya bersamaan dengan dunia yang mulai mengenalnya,” kenang Farhan Devji, penulis buku 'Alphonso Davies: A New Hope'.


Dalam banyak hal, Davies dan keluarganya mencerminkan kisah Kanada — menerima budaya, menanamkan akar, dan membangun kehidupan baru. Davies juga penggemar berat hoki, musik, dan permainan video. Saat tidak bertanding, ia sering terlihat menghadiri pertandingan NHL bersama pemain Edmonton Oilers.


Semua itu mengantarnya pada momen bersejarah di Moskow tahun 2018. Saat itu, remaja berusia 17 tahun dengan senyum lebar dan tubuh kurus itu berdiri di podium Kongres FIFA, menyampaikan pidato terakhir untuk meyakinkan dunia agar memberikan hak tuan rumah Piala Dunia 2026 kepada Amerika Utara.


“Nama saya Alphonso Davies. Orang tua saya berasal dari Liberia dan melarikan diri dari perang saudara,” katanya. “Hidup kami sulit, tapi ketika saya berusia lima tahun, negara bernama Kanada menyambut kami, dan teman-teman di tim sepak bola membuat saya merasa diterima.”


“Impian saya adalah suatu hari nanti bermain di Piala Dunia. Masyarakat Amerika Utara selalu menyambut saya, dan jika diberi kesempatan, saya tahu mereka juga akan menyambut Anda.”


Mimpi yang nyaris sirna


Empat tahun lalu di Qatar, Davies mewujudkan impian itu dengan mencetak gol pertama Kanada di Piala Dunia putra saat menghadapi Kroasia, finalis 2018. Meski laga itu — seperti enam pertandingan Kanada di turnamen tersebut — berakhir dengan kekalahan, momen itu menjadi puncak karier internasional Davies.


Namun dua tahun terakhir penuh dengan cedera dan kesulitan. Selama musim 2024-25 dan 2025-26, Davies berkali-kali diterpa masalah fisik. Terakhir kali ia bermain untuk Kanada adalah pada Maret 2025, saat mengalami robekan ACL dalam laga perebutan tempat ketiga Liga Bangsa-Bangsa CONCACAF melawan Amerika Serikat.


Proses pemulihannya memakan waktu 221 hari, membuatnya absen dalam 39 pertandingan untuk klub dan tim nasional. Bayern bahkan mengancam akan menuntut Federasi Sepak Bola Kanada dan Marsch atas penanganan cederanya, meski ancaman itu tidak berlanjut.


Davies kembali bermain pada Desember, namun kembali cedera otot pada Februari. Dua minggu kemudian, ia tampil sebagai pemain pengganti saat Bayern menghadapi Atalanta di Bergamo, tetapi hanya bertahan 25 menit sebelum kembali mengalami cedera hamstring.


Setelah dua pekan absen, Davies kembali bermain dalam 10 pertandingan sebelum cedera hamstring yang sama kambuh saat menghadapi PSG dan membuatnya harus menutup musim lebih awal. Secara total, Davies telah absen lebih dari 370 hari dalam kurun waktu kurang dari 15 bulan.


'Keraguan di kepala saya'


“Ada keraguan di kepala saya, saya sedih,” kata Davies tentang cederanya dan kemungkinan absen di Piala Dunia, dalam wawancara dengan wartawan di Montreal pekan lalu.


“Sebagai anak 17 tahun yang dulu pergi ke Rusia dan membantu membawa Piala Dunia ke negara ini, rasanya sulit diterima bila saya tidak bisa bermain. Tapi saya tahu betapa kuatnya tubuh saya dan dukungan dari orang-orang di sekitar saya, mereka akan membantu saya kembali seaman mungkin.”


Dampak di luar lapangan


Meski Davies absen dalam pemusatan latihan pra-Piala Dunia di Charlotte, North Carolina, ia bergabung dengan tim di Edmonton awal Juni dan mulai berlatih ringan di bawah pengawasan pelatih pribadi.


Meski belum sepenuhnya pulih, kehadiran Davies tetap penting. Jika ia kembali fit, ia akan menjadi faktor penentu utama Kanada sekaligus kapten tim, peran yang mulai ia emban sejak Copa America 2024, saat Kanada secara mengejutkan mencapai semifinal.


Namun pengaruh Davies melampaui lapangan dan bahkan skuad itu sendiri. Ia adalah sosok unik dalam sejarah sepak bola Kanada dan mungkin akan tetap menjadi bintang terbesar yang pernah dimiliki negara itu. Ia ingin bermain di Piala Dunia yang ia bantu wujudkan, tetapi kini harus berpacu dengan waktu untuk pulih, sementara jersey replikanya terus laris di pasaran.


“Saya akan memberikan kata-kata penyemangat yang mereka butuhkan,” tambah Davies, dengan gelandang Stephen Eustaquio akan mengenakan ban kapten menggantikannya. “Tidak banyak yang perlu saya katakan untuk memotivasi mereka. Hanya dengan bisa bermain untuk negara di Piala Dunia sudah menjadi motivasi terbesar.”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.