Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN – Ikan nila hitam asal Klaten disebut semakin diminati masyarakat Papua. Bahkan, menurut pelaku usaha pengolahan ikan UD Putra Papua, produk tersebut mampu bersaing hingga menggeser dominasi pasokan ikan dari Manado di sejumlah wilayah Papua.
Aktivitas produksi berlangsung sejak pagi di fasilitas pengolahan milik UD Putra Papua di Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno.
Ikan yang datang dalam kondisi hidup langsung diproses agar kualitas daging tetap terjaga hingga tiba di Papua.
Pemilik UD Putra Papua Yustina Kusmanti (53), mengatakan pasar Papua memiliki ketertarikan khusus terhadap nila hitam asal Klaten.
"Konsumen di Papua itu kalau ikan enggak dari Klaten, itu enggak mau. Dulunya ikan dari Manado, tapi kita bisa menggeser ikan dari Manado," katanya.
Baca juga: Kisah Sukses UD Putra Papua di Klaten, Nila Hitam Ponggok Tembus Pasar Papua Hingga 15 Ton
Menurut Yustina, salah satu faktor utama adalah karakteristik daging nila hitam yang dinilai lebih disukai konsumen.
"Lebih kenyal dan gurih yang nila hitam. Kalau yang merah itu kualitas dagingnya tipis, kalau digoreng itu juga lembek, kurang kering dan rasa juga kurang gurih," terangnya.
Produk ikan nila hitam dari Klaten saat ini dipasarkan ke berbagai wilayah Papua seperti Wasior, Sentani, dan Bintuni. Distribusi bahkan telah menjangkau sejumlah pulau di kawasan Indonesia Timur.
Meski permintaan terus meningkat, kapasitas produksi masih menjadi tantangan.
"Kalau kita mau mengembangkan di wilayah Timur seperti di Sorong, Ambon, kita keterbatasan produksi. Untuk mencukupi permintaannya, masih kurang," ujarnya.
Saat ini UD Putra Papua memproduksi sekitar 1,5 ton per hari dengan dukungan sekitar 50 kelompok pembudidaya nila di kawasan Ponggok.
Permintaan yang terus tumbuh tersebut menunjukkan pasar Papua masih terbuka lebar bagi produk perikanan budidaya asal Klaten.
Baca juga: Rangkul Ormas Islam di Klaten, Bupati Hamenang Buka Ruang Dialog untuk Perkuat Sinergi Bangun Daerah
(*)