TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di industri perbankan Tanah Air tercatat sebagai yang tertinggi dibandingkan sektor industri lainnya.
Sektor berikutnya yang adopsinya juga tinggi adalah sektor industri resources yakni bisnis tambang. Data tersebut mengacu pada pengalaman Lintasarta, perusahaan penyedia solusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) selama ini ketika melayani berbagai sektor bisnis di Indonesia.
"Adopsi AI di perbankan kita sangat tinggi, mulai dari untuk kebutuhan operasional, customer service, revenue dan lain-lain," ungkap Chief Cloud Officer Lintasarta, Gidion Suranta Barus di acara Lintasarta Media Gathering yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.
Baca juga: Ahli Tambang hingga Aktivis Soroti Aktivitas Pertambangan di Beutong dan Sejumlah Wilayah Aceh
Gidion menjelaskan, sektor lainnya yang juga tinggi adopsi AI-nya adalah resources yakni sektor pertambangan. "Mereka pengguna hyper computing yang harganya sangat mahal dan mereka biasanya memilih sewa," sebut Gidion.
President Director & CEO Lintasarta Armand Hermawan mengatakan, industri pemakai AI terbanyak memang sektor perbankan karena kapabilitas AI yang sangat membantu sektor industri ini ketika menangani berbagai persoalan yang muncul.
"Begitu ada satu masalah kecil, impact rentetannya banyak. Banyak customer yang meminta ada AI capability," ungkap Armand.
Dia menekankan, industri perbankan yang modern harus memiliki cyber security yang andal. "Untuk sektor perbankan, kita bisa penuhi syarat teknologi yang dibutuhkan untuk sektor perbankan misal cybersecurity harus andal dan aman, SLA harus bagus," sebut Armand.
Gidion juga mengingatkan, serangan siber terhadap sistem perbankan di Indonesia sangat tinggi. Namun tidak semua perbankan sanggup melakukan upaya pencegahan terhadap hal tersebut mengingat investasi yang dibutuhkan cukup tinggi. Misalnya bagi bank-bank kecil di daerah.
Dia memaparkan, tingginya kasus serangan siber di industri jasa keuangan tidak selalu karena kelemahan di aspek teknologi, bisa juga karena kelalaian dan dan ketidakdisiplinan pengguna.
Misalnya, karena malas mengganti password secara berkala atau karena penggunaan perangkat lunak yang sudah tidak mendapatkan dukungan keamanan lagi dari developer-nya alias software jadul.
Celah lainnya yang membuat teknologi di perbankan gampang dijebol adalah pemakaian server yang sudah terlalu kuno dan tidak kunjung diganti atau diremajakan.
Soal perangkat lunak yang tidak lagi mendapat dukungan keamanan dari pengembang dan mudah diserang adalah pemakaian Windows.
"Kalau Windows-nya masih pakai Windows XP, Windows apa lagi kalau pakai Windows yang tahun 2012, 2018 saja sudah mau expired gitu. Itu kebayang di end user. Jadi sebenarnya itu jadi gampang sekali untuk mencari kredensial,” sebut Gidion.
Segudang Manfaat AI: Cepat Deteksi Munculnya Masalah
Armand menjelaskan, AI bisa membantu bank mendeteksi potensi dan praktik-praktik fraud oleh eksternal termasuk oleh nasabah. "AI bisa mendeteksi kebiasan transaksi melalui kemampuan predictive-nya terhadap fraud. Begitu juga di dunia kripto, bisa deteksi potensi fraud," sebut Armand.
Dia menambahkan, infrastruktur digital merupakan basis penting bagi industri dalam mengimplementasikan adopsi AI, baik itu di aspek konektivitas, cybersecurity maupun data center.
Sementara, pemanfaatan AI memberikan benefit yang sangat luas. Dia menyebutkan ada 4 manfaat penggunaan AI oleh industri, tiga diantaranya adalah memberikan customer experience yang berbeda, menghemat cost, dan meningkatkan revenue perusahaan.
Zulfi Hadi, Director & Chief Telco Services Officer Lintasarta mengatakan, di internal Lintasarta seluruh lini sudah mengimplementasikan AI.
"Kita saat ini mengelola 2.500 klien. AI membantu percepat penanganan jika terjadi gangguan. Biasanya orang IT membutuhkan waktu 15-17 menit untuk menanganinya, sekarang bisa kurang dari 1 menit. Selain itu analisa masalah juga jadi akurat," bebernya.
Manfaat AI lainnya adalah mengefisiensikan pengelolaan sumber daya manusia di level customer operation.
"Misal dalam manajemen tata kota, ketika ada jalan utama harus ditutup karena ada tamu kenegaraan yang melintas, AI bisa langsung memberikan solusi karena AI bisa memprediksi," Zulfi Hadi mencontohkan pemakaian AI di sektor pemerintahan kota.
Bisnis Konektivitas Kontributor Terbesar
Armand menyebutkan, dari sekitar 2.500 perusahaan dari beragam sektor industri yang menjadi klien Lintasarta, pendapatan terbesar perusahaan masih berasal dari konektivitas, lalu disusul dari bisnis cloud, data center, cyber security lalu AI.
"Untuk pendapatan dari layanan konektivitas kita growing well, yang lainnya yang masih marginal kita akan tingkatkan," sebutnya.
Armand menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan beragam sektor industri pihaknya telah memperkenalkan Intelligent Core yang menggabungkan empat kapabilitas dalam satu platform dengan dukungan penuh AI.
Yaitu, konektivitas atau Connectivity, komputasi awan (Cloud), keamanan siber (Cybersecurity), dan kolaborasi AI (Collaboration-AI) yang biasa disebut 4C capability.
Intelligent Core ini diperkenalkan sebagai bundling integarted solution sejalan dengan permintaan beragam sektor industri selama ini dan diklaim meningkatkan Customer Experience (CX) dapat secara signifikan.
Platform ini dibangun di atas tiga prinsip utama, yaitu Sovereign melalui sovereign infrastructure dan sovereign AI, Integrated melalui one end-to-end solution unifying the 4Cs, serta Seamless Experience yang
menghadirkan pengalaman digital yang terintegrasi, andal, dan efisien.
“Di era AI, perusahaan membutuhkan fondasi yang mampu menghubungkan teknologi menjadi hasil bisnis yang nyata. Melalui Intelligent Core ini, kami membantu mengintegrasikan infrastruktur digital dan AI dalam satu Solusi Digital yang aman, andal dan saling terhubung, sehingga perusahaan dapat lebih fokus pada inovasi, pertumbuhan, dan daya saing bisnis,” tegas Armand Hermawan.
Layanan ini ditawarkan ke industri serta sektor pemerintahan tetap dalam mata uang rupiah. "Walau dolar naik, tarif kita tetap dalam rupiah," kata Armand.