TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Kematian massal ikan yang terjadi di sejumlah keramba apung di sepanjang aliran Sungai Mempawah terus menimbulkan kerugian besar bagi para pembudidaya ikan.
Salah satu pembudidaya yang terdampak adalah Jainal, pengelola keramba ikan di Kecamatan Mempawah Timur, yang mengaku kehilangan puluhan ton ikan dalam peristiwa tersebut.
Jainal mengatakan, sebagian besar ikan yang dipeliharanya mati dalam waktu singkat setelah terjadi perubahan kondisi air sungai pada Rabu, 10 Juni 2026.
Akibat kejadian itu, ia mengalami kerugian yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
"Kalau dihitung sementara, ikan yang mati lebih dari 20 ton. Hampir 95 persen merupakan ikan mas, sedangkan sisanya ikan nila," ujar Jainal saat dihubungi, Kamis, 11 Juni 2026.
Ikan-ikan yang sebelumnya terlihat normal tiba-tiba mengalami stres, naik ke permukaan air, kemudian mati satu per satu.
Meski belum ada hasil penelitian resmi dari pihak berwenang, Jainal menduga perubahan kualitas air menjadi penyebab utama kematian massal tersebut.
"Dugaan sementara air sungai berubah menjadi asam atau kelat. Kondisi itu kemungkinan membuat ikan tidak mampu bertahan sehingga mati dalam jumlah besar," katanya.
Baca juga: Fenomena Kematian Massal Ikan Keramba di Sungai Mempawah, Kadis DPKPP Beberkan Dugaan Penyebabnya
Ia mengaku peristiwa tersebut menjadi pukulan berat bagi para pembudidaya yang selama ini menggantungkan pendapatan dari usaha keramba apung.
Selain kehilangan ikan yang siap panen, para pembudidaya juga harus menanggung kerugian dari biaya pembelian bibit, pakan, dan perawatan yang telah dikeluarkan selama masa pemeliharaan.
"Kerugian yang kami alami sangat besar. Modal yang sudah dikeluarkan selama berbulan-bulan praktis hilang dalam waktu singkat. Kalau ditotal, nilainya bisa mencapai miliaran rupiah," ungkap Jainal.
Menurutnya, tidak hanya dirinya yang terdampak. Banyak pembudidaya lain di sepanjang aliran Sungai Mempawah juga mengalami kejadian serupa dengan tingkat kerugian yang berbeda-beda.
Jainal berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan investigasi dan pengujian kualitas air guna mengetahui penyebab pasti kematian massal ikan tersebut.
"Kami berharap ada penelitian dan pemeriksaan dari pihak terkait supaya penyebabnya bisa diketahui. Dengan begitu, ada langkah pencegahan agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi di masa mendatang," harapnya.
Lokasi Kejadian:
Keramba jaring apung di sepanjang Sungai Mempawah
Kabupaten Mempawah
Waktu:
Menjadi perhatian publik pada 11 Juni 2026
Dampak:
Ribuan hingga jutaan ekor ikan dilaporkan mati.
Petani keramba mengalami kerugian besar.
Banyak pembudidaya kehilangan modal usaha yang telah dikeluarkan selama berbulan-bulan.
Dugaan Penyebab:
Diduga berkaitan dengan meningkatnya tingkat keasaman air sungai.
Penyebab pasti masih menunggu hasil kajian dan penelitian dari dinas terkait. (*)