China Bisa Jadi Penentu Harga Minyak Dunia, Impor Diprediksi Meningkat: Indonesia Terdampak?
Hasiolan Eko P Gultom June 12, 2026 12:38 AM

China Bisa Jadi Penentu Harga Minyak Dunia, Impor Diprediksi Meningkat: Indonesia Terdampak?

 

TRIBUNNEWS.COM - Pasar minyak dunia berpotensi menghadapi tekanan baru jika China mulai meningkatkan impor minyak mentah dalam beberapa bulan ke depan. 

Laporan ANZ menyebut kondisi pasokan global yang saat ini relatif stabil bisa kembali mengetat apabila aktivitas industri dan permintaan energi di negara tersebut meningkat.

Selama beberapa waktu terakhir, tekanan di pasar minyak sempat mereda karena dua faktor utama, yakni meningkatnya persediaan minyak di Amerika Serikat dan menurunnya impor minyak mentah China.

Baca juga: Perang Amerika-Israel Vs Iran, Pemenangnya Adalah Rusia, Berikut Ini Alasannya

Menurut laporan tersebut, impor minyak China turun drastis setelah penutupan Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah.

Volume impor yang sebelumnya sekitar 12,5 juta barel per hari menyusut menjadi sekitar 2,5 juta barel per hari.

Penurunan itu membuat China menghemat lebih dari 60 juta barel minyak dibandingkan kondisi sebelum eskalasi konflik di Timur Tengah pada akhir Februari.

"Jika impor tetap berada pada tingkat sebelum konflik meningkat, maka jumlah minyak yang dihemat akibat penurunan pembelian China mencapai lebih dari 60 juta barel," tulis laporan ANZ.

Penurunan permintaan minyak China juga dipengaruhi beberapa faktor lain, seperti melambatnya aktivitas manufaktur, meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, berkurangnya penerbangan domestik, serta terganggunya pasokan bahan baku petrokimia dari Timur Tengah.

Selain itu, aktivitas kilang minyak di China juga melambat akibat tingginya harga minyak mentah, naiknya biaya pengiriman dan asuransi, serta tekanan terhadap keuntungan perusahaan pengolahan minyak.

Meski demikian, para analis memperkirakan kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama.

Seiring pulihnya mobilitas masyarakat dan membaiknya rantai pasok industri, kebutuhan energi China diperkirakan akan kembali meningkat.

Laporan itu juga mengungkap bahwa dalam beberapa bulan terakhir China lebih banyak mengandalkan cadangan minyak domestiknya.

Sejak awal 2025, persediaan minyak negara tersebut diperkirakan bertambah sekitar 190 juta barel sehingga total stok mencapai sekitar 1,7 miliar barel.

Selama ini, China cenderung mengatasi keterbatasan pasokan dengan mengurangi aktivitas kilang daripada menguras cadangan strategis minyaknya.

Namun, strategi tersebut dinilai sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Analis memperingatkan bahwa jika China memilih mempertahankan cadangan strategisnya dan tidak ingin menggunakannya secara besar-besaran, maka impor minyak kemungkinan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Kondisi itu berpotensi memperketat pasokan fisik minyak di pasar global dan mendorong kenaikan harga.

Perkembangan ini terjadi di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah yang masih memengaruhi jalur distribusi energi dunia, terutama di sekitar Selat Hormuz.

Kawasan tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran minyak terpenting karena dilalui sekitar seperempat perdagangan minyak dunia.

Bagi Indonesia, potensi kenaikan harga minyak global menjadi isu yang perlu diperhatikan.

Sebagai negara yang masih mengimpor minyak mentah dan BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, setiap lonjakan harga internasional dapat berdampak pada biaya energi, sektor transportasi, logistik, hingga industri.

Situasi ini juga berpotensi memengaruhi inflasi nasional jika harga energi dunia terus bergerak naik.

Karena itu, perkembangan permintaan minyak China dan dinamika geopolitik di Timur Tengah diperkirakan akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pasar energi global dalam beberapa waktu ke depan.

 

 

(oln/anz/wn/*)

 


© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.