TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Di tengah situasi geopolitik belum stabil dan pelemahan rupiah, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sulawesi Selatan (Sulsel) masih percaya diri mencapai target realisasi investasi.
Pasalnya investasi di Sulsel masih bertumpu pada sektor pertambangan.
Pada kuartal I tahun 2026, penanaman modal masuk mencapai Rp5,41 triliun.
Angka bahkan tumbuh sebesar 37,63 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp3,93 triliun.
Pertumbuhan penanaman modal di tengah situasi gejolak ekonomi ini dinilai Kepala DPM-PTSP Asrul Sani sebagai sinyal target investasi bisa dikejar.
"Kalau di kami ya, kami kan dikasih target 21 triliun dari Kementerian BKPM. Yang begitu juga masuk di RPJMD Sulawesi Selatan. Kami sebenarnya optimis karena ada proses yang sementara berjalan," ujar Asrul Sani di Kantor Gubernur Sulsel pada Kamis (11/6/2026).
"Pertama itu industri pengolahan nikel yang ada di Luwu Timur. Khususnya untuk IHIP, Indonesian Quality Industrial Park.Itu sudah mulai beraktifitas. Nah itu tentunya pasti berpengaruh terhadap realisasi investasi nanti. Begitu juga dengan Masmindo. Sudah mulai beraktifitas untuk konstruksinya, pembangunannya. Tentu itu kan berpengaruh dengan realisasi investasi," lanjutnya
Saat ini, sektor pertambangan memang masih jadi tumpuan menyerap investasi.
Terbukti nilai realisasi sektor pertambangan Rp2,17 triliun dalam kuartal 1.
Artinya sekitar 40,14?ri total investasi di Sulsel berasal dari sektor pertambangan.
Meski begitu, Asrul menyebut sektor industri menengah sedang dilirik investor.
Bahkan sedang dalam proses urus perizinan.
"Khusus yang industri menengah itu ada beberapa yang masih berproses perizinannya. Seperti CPO di Luwu Utara. Ada juga kemasan minyak di Palopo. Ada juga pengolahan Porang di Sinjai. Itu industri-industri menengah," jelasnya.
Terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) membuka data pertumbuhan ekonomi provinsi Sulsel di angka 6,88 persen pada triwulan I tahun 2026.
Sebanyak 16 daerah memiliki pertumbuhan ekonomi di atas Sulsel.
Kabupaten Sinjai menjadi daerah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulsel.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sinjai tercatat 11,14 persen pada triwulan I tahun 2026 ditopang dari sektor pertanian.
Kemudian Kabupaten Kepulauan Selayar mengikut diangka 9,83 persen.
Ketiga ada Kabupaten Maros di angka 9,54 persen.
"Ternyata bahwa kahupaten maupun kota di provinsi Sulawesi Selatan mayoritas, lebih dari 90 persen tumbuhnya di atas 6 persen," kata Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti di Kantor Gubernur Sulsel pada Rabu (10/6/2026).
Pertumbuhan ekonomi nasional masih di angka 5,61 persen.
Sementara itu ada 19 daerah di Sulsel sudah di atas 6 persen.
"Potensi inilah yang harus kita dorong dan pastinya banyak lagi aktivitas ekonomi yang harus bisa dan punya potensi ke depan dan inilah peran dari sensus ekonomi untuk mengidentifikasi hal tersebut," sambungnya.
Amalia menyebut Sulsel punya peran penting dalam perekonomian di pulau Sulawesi.
Pasalnya ekonomi di pulau Sulawesi ditopang dari Sulsel.
Kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Triwulan I Tahun 2026 Sulsel diangka 43,54 persen.
Sulawesi Tengah baru 25,10 persen, Sulawesi Tenggara 11,96 persen.
Sementara Sulawesi Utara hanya 11,76 persen.
Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz