Warga Ramai-ramai Pindah ke Pertalite, Antrean Mengular di SPBU Usai Pertamax Melambung
Doan Pardede June 12, 2026 05:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mulai berdampak pada pola konsumsi masyarakat di Kalimantan Timur.

Memasuki hari kedua setelah penyesuaian harga, Kamis (11/6/2026), banyak pengguna kendaraan beralih ke Pertalite yang dinilai lebih terjangkau.

Perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), Kutai Timur hingga Kutai Barat.

Sementara itu, dispenser Pertamax yang biasanya ramai justru tampak jauh lebih lengang.

Baca juga: Dilema Sopir di Kutim, Telan Pil Pahit Harga Pertamax Meroket atau Rusak Mesin Pakai Pertalite

Antrean Pertalite Mengular di Balikpapan

Pantauan di SPBU MT Haryono Balikpapan menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok dibanding hari-hari sebelumnya.

Sejak pukul 08.12 hingga 10.50 Wita, hanya satu hingga dua kendaraan yang terlihat mengisi Pertamax.

Sebaliknya, antrean kendaraan di jalur Pertalite mengular hingga keluar area SPBU.

Puluhan mobil dan sepeda motor tampak menunggu giliran mengisi BBM subsidi.

Bahkan, antrean sempat meluber hingga ke badan jalan di sekitar lokasi.

Andi, salah seorang pengendara mobil, mengaku memilih Pertalite untuk menekan pengeluaran harian.

"Tidak apa-apa isi Pertalite dulu. Harga Pertamax sekarang terlalu tinggi. Kenaikannya terasa berat bagi masyarakat," ujarnya.

Fenomena perpindahan konsumen ini juga berdampak pada meningkatnya pendaftaran barcode subsidi melalui aplikasi MyPertamina.

Namun, sejumlah warga mengeluhkan proses registrasi yang kerap mengalami kendala.

"Banyak yang daftar barcode sekarang. Tapi aplikasinya sering lambat dan susah diakses," kata Naomi, warga Balikpapan.

Untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi, pihak SPBU memperketat pengawasan distribusi Pertalite.

Melalui pengeras suara, petugas secara berkala mengingatkan bahwa setiap kendaraan hanya diperbolehkan mengisi Pertalite satu kali dalam sehari dengan batas maksimal 40 liter untuk kendaraan roda empat.

Kondisi Serupa Terjadi di Penajam Paser Utara

Lonjakan antrean juga terjadi di SPBU Nipah-Nipah, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Sejak pagi, puluhan kendaraan roda dua dan roda empat terlihat memadati area pengisian BBM meski hujan turun hampir sepanjang hari.

Jumadil, warga Penajam, mengaku sengaja datang lebih awal karena memperkirakan antrean akan semakin panjang setelah kenaikan harga Pertamax.

"Memang antre lebih lama dari biasanya, tapi saya tetap pilih Pertalite karena lebih terjangkau," katanya.

Menurutnya, selisih harga yang cukup besar membuat banyak masyarakat mempertimbangkan kembali penggunaan Pertamax.

Hal serupa disampaikan Tio yang mengaku tidak keberatan mengantre lebih lama demi mendapatkan Pertalite.

"Kalau harus menunggu lebih lama tidak masalah. Yang penting kebutuhan bahan bakar sehari-hari tetap terpenuhi," ujarnya.

Pantauan di lokasi menunjukkan sebagian besar kendaraan langsung menuju dispenser Pertalite.

Sementara itu, antrean Pertamax terlihat jauh lebih pendek. Hanya tiga hingga empat kendaraan yang tampak mengisi BBM nonsubsidi tersebut.

Bahkan, sebagian pengguna Pertamax kini tidak lagi mengisi penuh tangki kendaraan, melainkan hanya membeli sesuai kebutuhan perjalanan.

Dilema Pengguna Pertamax di Kutai Timur

Di Sangatta, Kutai Timur, kenaikan harga Pertamax memicu keluhan dari pengguna kendaraan pribadi.

Fandi (33), salah seorang pengguna Pertamax, mengaku terkejut dengan kenaikan harga yang dinilai terjadi secara mendadak.

Fandi mengaku berada dalam posisi sulit. Di satu sisi ia ingin tetap menggunakan Pertamax demi menjaga performa kendaraan, namun di sisi lain kenaikan harga membuat biaya operasional bulanannya meningkat.

"Kalau beralih ke Pertalite ada kekhawatiran soal perawatan kendaraan. Tapi kalau tetap menggunakan Pertamax, biaya operasional juga semakin berat," katanya.

Baca juga: Usai Kenaikan Harga Pertamax, Polsek Sangatta Utara Sidak 8 SPBU untuk Pastikan Stok BBM Aman

Kutai Barat Hadapi Dua Masalah Sekaligus

Masyarakat di Kutai Barat menghadapi situasi yang lebih berat.

Selain harus menanggung kenaikan harga Pertamax, mereka juga dihadapkan pada keterbatasan pasokan Pertalite.

Di Barong Tongkok, harga Pertamax eceran kini mencapai Rp19 ribu per liter.

Andi, pedagang BBM eceran, mengatakan kenaikan tersebut mengikuti harga dari tingkat agen maupun SPBU.

"Modal kami ikut naik, jadi harga jual juga harus menyesuaikan," katanya.

Menurutnya, permintaan BBM eceran meningkat dalam beberapa hari terakhir karena banyak warga tidak kebagian Pertalite.

Kelangkaan Pertalite juga menjadi persoalan tersendiri.

Wahyu, warga Barong Tongkok, mengaku beberapa kali mendatangi SPBU maupun APMS, namun kerap mendapati stok Pertalite sudah habis.

"Kalau Pertalite tersedia mungkin tidak masalah. Tapi sekarang sering kosong. Akhirnya terpaksa beli Pertamax yang lebih mahal," keluhnya.

Di salah satu APMS bahkan terpasang papan informasi bertuliskan "Pertalite Dalam Pengiriman".

Warga menyebut stok Pertalite biasanya hanya bertahan beberapa jam setelah pasokan datang sebelum kembali habis karena tingginya permintaan.

Pertamina Pastikan Kuota Pertalite Tidak Berubah

Di tengah meningkatnya konsumsi Pertalite, Pertamina Patra Niaga memastikan kuota BBM subsidi di Kalimantan Timur tidak mengalami perubahan.

Branch Manager Kaltimut III Fuel Pertamina, Hermawan Bagus Prabowo, mengatakan distribusi BBM tetap berjalan normal sesuai kuota yang telah ditetapkan pemerintah.

Untuk wilayah Bontang dan sekitarnya, kuota solar subsidi tahun ini tercatat sebesar 18.751 kiloliter (KL), sedangkan Pertalite mencapai 26.907 KL.

"Tidak ada penyesuaian kuota. Distribusi BBM tetap berjalan normal dan pasokan tersedia untuk masyarakat," ujarnya.

Menurut Hermawan, kenaikan harga Pertamax merupakan bagian dari penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang mengikuti regulasi pemerintah.

Pengamat: Harga BBM Naik Bisa Picu Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok

Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Purwadi Purwoharsojo, menilai kenaikan harga Pertamax berpotensi memicu efek berantai pada berbagai sektor ekonomi.

Menurutnya, selisih harga yang semakin lebar antara Pertamax dan Pertalite dapat mendorong migrasi besar-besaran konsumen ke BBM subsidi sehingga berpotensi memperpanjang antrean di SPBU.

Selain itu, biaya operasional sektor transportasi dan distribusi diperkirakan ikut meningkat dan berujung pada kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat.

Baca juga: Dampak Kenaikan BBM Pertamax, UMKM Balikpapan Berjuang Pertahankan Harga Jual via Gas Subsidi

"Kenaikan BBM ini akan merembet ke mana-mana. Ongkos distribusi naik, harga kebutuhan pokok ikut terdorong naik, tarif jasa meningkat, dan akhirnya daya beli masyarakat semakin tergerus," kata Purwadi.

Ia juga mengingatkan potensi tekanan terhadap stok Pertalite jika perpindahan konsumen dari Pertamax terus meningkat.

"Ketika Pertamax semakin mahal, masyarakat akan beralih ke Pertalite. Kalau konsumsi meningkat tajam, tekanan terhadap stok juga akan semakin besar. Masyarakat kelas menengah bawah yang akhirnya paling merasakan dampaknya," ujarnya.

Purwadi berharap pemerintah memberikan penjelasan secara terbuka terkait tujuan dan pemanfaatan tambahan penerimaan dari kenaikan harga BBM nonsubsidi agar kepercayaan publik tetap terjaga.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.