Akses Rusak Parah, Warga Kaki Gunung Ebulobo di Nagekeo Kesulitan Berobat dan Evakuasi
Gordy Donovan June 12, 2026 09:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, NAGEKEO – Warga di tiga desa di kaki Gunung Ebulobo, Desa Sawu, Desa Lodaolo, dan Desa Woloede di Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, mengeluhkan kondisi jalan yang rusak selama 79 tahun sejak Indonesia merdeka. 

Kondisi tersebut membuat warga kesulitan dievakuasi ketika terjadi bencana, seperti saat banjir bandang pada September 2025 lalu.

"Ada orang yang sakit stroke mau dibawa ke rumah sakit, terpaksa harus ditunda karena warga harus memperbaiki jalan yang tertutup material longsor," keluh Ansel Djo, salah seorang warga Desa Woloede, Jumat (12/6/2026).

Baca juga: Banjir Bandang di Mauponggo Nagekeo, 93 Hektar Sawah Rusak, Ratusan Ternak Hilang

Warga Terancam Saat Bencana

Tiga desa yang terdampak akibat buruknya akses jalan yakni Desa Sawu, Desa Lodaolo, dan Desa Woloede, serta sebagian warga Desa Mulakoli, Kecamatan Boawae. 

Ruas jalan sepanjang sekitar 8 kilometer itu dalam kondisi rusak parah. Setiap musim hujan, selalu muncul alur-alur erosi yang membelah badan jalan akibat terkikis air.

Salah satu tokoh masyarakat Desa Lodaolo, Anselmus Mere, mengungkapkan bahwa selama ini selalu ada alasan dari dinas terkait di kabupaten yang menyebut jalur Sawu-Mulakoli masuk kawasan hutan lindung. Padahal, menurutnya, kondisi tersebut tidak sepenuhnya benar.

Ia menjelaskan bahwa jalan yang ada saat ini berada sangat dekat dengan permukiman warga. Hanya sekitar 1.900 meter persegi badan jalan yang masuk kawasan hutan produksi, bukan hutan lindung. Karena itu, menurutnya, proyek pembangunan jalan oleh pemerintah seharusnya dapat dilakukan dengan mekanisme yang lebih mudah.

"Kalau dihitung, sudah tujuh bupati sejak Kabupaten Ngada, jalan di kampung atau desa ini tidak pernah diperhatikan," ungkap Anselmus yang juga seorang pensiunan guru.

Ia juga mengatakan bahwa selama hampir dua tahun terakhir, jalan tersebut selalu masuk dalam paket pekerjaan prioritas. Namun, pelaksanaannya selalu gagal saat memasuki tahap eksekusi.

Anselmus berharap pemerintah menjadikan pembangunan jalan itu sebagai prioritas utama tahun ini. Menurutnya, jika akses evakuasi tidak segera diperbaiki, akan semakin banyak korban saat terjadi bencana.

"Kalau tidak segera diperbaiki, bisa banyak orang meninggal di sini. Jalan tidak ada, mau lari ke mana? Sedangkan dalam kondisi normal saja, jalan ini sudah seperti bencana," keluhnya.

Kesehatan, Pendidikan, dan Ekonomi Terabaikan

Meski wilayah kaki Gunung Ebulobo dikenal sangat subur di Kabupaten Nagekeo, warga mengaku harga komoditas pertanian seperti cengkeh, pala, kopi, kakao, dan kelapa sering ditekan oleh tengkulak akibat buruknya akses jalan.

Niko Ndapa, salah seorang tokoh masyarakat Desa Woloede, mengatakan kondisi jalan juga berdampak pada sektor pendidikan dan ekonomi. Akibatnya, banyak anak tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena keterbatasan ekonomi.

"Di sini banyak orang tua tidak mampu membiayai anak sampai ke jenjang yang lebih tinggi atau kuliah karena ekonomi belum juga membaik. Padahal hasil kebun cukup banyak, tetapi harga ditekan oleh tengkulak dan pengepul karena kondisi jalan," ungkap Niko.

Menurutnya, buruknya kondisi jalan juga berdampak pada pelayanan kesehatan. Sejumlah ibu hamil bahkan harus ditandu saat musim hujan karena kendaraan puskesmas maupun kendaraan warga tidak dapat melintas.

Hanya kendaraan truk yang bisa melewati jalan desa menuju pusat kecamatan sehingga biaya transportasi menjadi lebih mahal.

Niko menegaskan bahwa jalan desa tersebut sangat vital karena menjadi akses tercepat dari wilayah kaki Gunung Ebulobo menuju Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo, sekaligus sebagai jalur penghubung antarwilayah.

Namun, karena tidak kunjung diperbaiki, warga terpaksa menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh ke arah barat dengan biaya yang jauh lebih tinggi.

Menurutnya, kondisi ini sangat berbahaya apabila terjadi bencana karena akses jalan bisa tertutup longsor. Terlebih lagi, desa mereka berada sangat dekat dengan Gunung Ebulobo yang masih aktif.

"Kami mau lari ke mana jika terjadi bencana? Kami berada di bawah gunung berapi aktif dan tidak bisa menyelamatkan diri atau dievakuasi karena kondisi jalan seperti ini sangat tidak layak. Kami minta Bapak Prabowo membantu kami," katanya.

Warga Siap Sukseskan Pembangunan Jalan

Harapan warga di kaki Gunung Ebulobo mulai muncul setelah mendengar adanya rencana pembangunan ruas Jalan Sawu-Mulakoli pada tahun ini.

Tokoh masyarakat sekaligus tokoh adat Desa Woloede, Markus Meo, mengatakan masyarakat sudah lama mendambakan jalan yang layak agar akses menuju kecamatan maupun kota kabupaten menjadi lebih cepat dan murah.

Ia menegaskan bahwa warga siap mendukung penuh pembangunan jalan tersebut, termasuk menyediakan lahan jika diperlukan.

"Rencana pembangunan jalan ini kami dengar tahun ini dan kami sangat bersyukur karena suara kami akhirnya didengar. Bersama pemerintah desa, kami siap membantu jika ada kendala. Saya juga sudah menyampaikan kepada masyarakat, dan mereka rela lahannya digunakan asalkan jalannya bisa mulus dan diaspal hotmix," ungkap Markus.

Hal senada disampaikan Ali Mere Medho, salah seorang tokoh muda Desa Woloede. Ia mengatakan generasi muda siap mendukung agar proyek pembangunan jalan dapat berjalan lancar hingga selesai.

"Jalan ini sangat penting bagi kami. Jika jalan sudah diaspal hotmix, tentu akan memperlancar usaha para petani muda yang mengandalkan hasil pertanian untuk dipasarkan ke Boawae maupun Mauponggo. Selama ini, karena jalan rusak, kami hanya bisa sekali membawa hasil ke pasar," kata Ali.

Menurutnya, pembangunan jalan juga akan membuka peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan berbagai potensi desa, baik di sektor pertanian maupun inovasi pembangunan desa.

"Kami akan berdiri paling depan jika ada masalah. Saya rasa tidak ada kendala di desa kami karena masyarakat pasti mendukung. Sudah lama kami merindukan jalan yang layak dan semua persoalan bisa dikomunikasikan dengan baik," ujar Ali yang juga berprofesi sebagai petani pisang.


JEMUR CENGKIH - Warga Desa di Kaki Gunung Ebulobo menjemur cengkih hasil panen di halaman rumah. Kondisi jalan yang rusak selama puluhan tahun menyulitkan petani mengangkut hasil pertanian ke kota, sehingga berdampak pada akses pemasaran dan perekonomian masyarakat di wilayah rawan bencana tersebut.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.