Tidak Diajak Donald Trump saat Susun MoU Negosiasi Perdamaian dengan Iran, Netanyahu Kaget
Garudea Prabawati June 12, 2026 12:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak diberi tahu sebelumnya sebelum Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan menyatakan bahwa kesepakatan dapat segera ditandatangani.

Menurut laporan Axios yang mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, kabar itu cukup mengejutkan bagi Netanyahu.

Melalui unggahan di media sosial, Netanyahu menyebut bahwa ia telah berbicara melalui telepon dengan Donald Trump.

Berdasarkan pernyataan tersebut, meskipun Israel bukan pihak dalam nota kesepahaman itu, Netanyahu menyampaikan apresiasinya atas komitmen Presiden Trump bahwa perjanjian akhir hasil negosiasi akan mencakup penghapusan material yang diperkaya, pembongkaran infrastruktur pengayaan, pembatasan produksi rudal, dan penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksinya di kawasan.

Sebelumnya, Donald Trump mengumumkan melalui media sosial bahwa ia membatalkan rencana serangan terhadap Iran pada saat-saat terakhir karena mengaku telah memperoleh kesepakatan yang sangat baik.

Dalam telekonferensi untuk mendukung kandidat Senat Alabama, Barry Moore, Trump mengatakan:

“Hari ini kita telah menyelesaikan masalah dengan Iran. Kita telah membuat kesepakatan yang hebat.”

“Tidak akan ada senjata nuklir. Orang-orang akan segera pulang. Semuanya hampir selesai. Kita mendapatkan semua yang kita inginkan,” katanya, menurut NBC News.

Sebelum pengumuman tersebut, pasukan AS telah menerima perintah untuk melakukan serangan.

Unit angkatan laut juga telah menyesuaikan rencana operasi udara dan menyiapkan amunisi.

Para pejabat mengatakan operasi tersebut berada pada tahap akhir sebelum akhirnya dibatalkan.

Baca juga: Donald Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran, Klaim Sudah Dapatkan Semua yang Diinginkan

Mengutip Iran International, Donald Trump mengatakan kesepakatan dengan Iran dapat ditandatangani pada akhir pekan ini, kemungkinan di Eropa.

Ia menyebut dokumen perjanjian tersebut sudah berada pada tahap yang cukup final.

Trump mengatakan Wakil Presiden JD Vance akan menunggu penandatanganan tersebut.

“Kita baru saja mencapai kesepakatan besar dalam perang dengan Iran,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.

“Selat itu akan resmi dibuka segera setelah kita menandatangani, yang mungkin akan segera terjadi, sangat segera, mungkin pada akhir pekan ini di Eropa,” katanya.

Tanggapan dari Pihak Iran

Bertentangan dengan klaim Presiden Donald Trump, belum ada teks nota kesepahaman awal dengan AS yang telah disetujui, kata laporan itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, juga mengatakan pihaknya belum mengambil keputusan akhir mengenai kemungkinan kesepakatan dengan AS.

Baghaei mengatakan laporan mengenai waktu dan tempat penandatanganan perjanjian masih bersifat spekulatif dan belum ada yang difinalisasi.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar teks negosiasi telah diselesaikan, tetapi AS berulang kali mengubah posisinya selama pembicaraan.

Sementara itu, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dan Donald Trump membahas kemajuan konsultasi AS-Iran yang menghasilkan usulan kesepahaman dalam jalur negosiasi, kata Diwan Emir Qatar.

Trump mengatakan kepada emir bahwa upaya terus dilakukan untuk menyelesaikan prosedur akhir sebelum pengaturan penandatanganan perjanjian diumumkan, kata Diwan.

Israel Melanjutkan Serangan ke Lebanon

Di saat AS dan Iran bernegosiasi mengenai perdamaian, pasukan Israel melanjutkan serangan mereka di berbagai wilayah Lebanon, termasuk satu serangan yang melukai 10 staf rumah sakit di kota Tyre, Lebanon selatan, pada Kamis (11/6/2026).

Tentara Israel mengatakan telah merebut kendali operasional atas wilayah di utara aliran Wadi Saluki di Lebanon, sekitar 10 kilometer dari perbatasan Israel.

Iran sebelumnya bersikeras agar isu Lebanon dimasukkan dalam poin-poin perdamaian.

Namun, karena Israel tidak dilibatkan dalam MoU negosiasi terbaru, belum jelas apakah Iran telah meninggalkan tuntutan terkait Lebanon dalam kesepakatannya.

Mengutip laporan terbaru Al Jazeera, Jumat (12/6/2026) pagi, militer Israel mengatakan bahwa sirene diaktifkan di wilayah Metula, Israel utara.

Kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, mengumumkan telah melancarkan serangkaian serangan drone, rudal, dan roket yang menargetkan personel militer Israel, kendaraan lapis baja, serta sejumlah posisi di Lebanon selatan dan wilayah Lembah Bekaa.

Menurut pernyataan yang merinci operasi dari Rabu hingga Kamis, Hizbullah mengatakan telah berulang kali menargetkan konsentrasi tentara dan kendaraan lapis baja Israel, khususnya di daerah al-Rajman di sekitar Tayr Harfa, yang dihantam empat kali secara terpisah.

Konsentrasi pasukan dan kendaraan Israel juga menjadi sasaran di sejumlah kota Lebanon, seperti Naqoura, al-Qaouzah, Rashaf, al-Qantara, Zawtar al-Sharqiyah, dan Yohmor al-Shaqif, kata pernyataan tersebut.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.