Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah Pertanian Modern Model Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang dikembangkan Kementerian Pertanian melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP).

Gorontalo (ANTARA) - Teknologi budidaya padi modern yang diklaim mampu menghasilkan hingga 10 ton gabah kering panen per hektare, menjadi salah satu unggulan yang akan ditampilkan pada Gelar Teknologi Pertanian Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo.

Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail saat meninjau lokasi Gelar Teknologi Pertanian di Kelurahan Hepuhulawa, Kecamatan Limboto, Jumat, mengatakan berbagai inovasi pertanian yang dipamerkan pada PENAS XVII diharapkan dapat menjadi sarana transfer teknologi bagi petani dari seluruh Indonesia.

"Di lokasi ini ditampilkan berbagai teknologi pertanian terbaru. Salah satunya teknologi budidaya padi yang berpotensi meningkatkan produktivitas secara signifikan," ujar Gusnar.

Lokasi Gelar Teknologi Pertanian yang menempati lahan seluas 9,2 hektare tersebut menampilkan beragam inovasi pada subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan.

Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah Pertanian Modern Model Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang dikembangkan Kementerian Pertanian melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP).

Menurut Gusnar, sistem budidaya padi tersebut mengombinasikan penggunaan varietas unggul, pengaturan jarak tanam yang lebih intensif, serta pemanfaatan mekanisasi pertanian untuk meningkatkan populasi tanaman dan produktivitas lahan.

Ia menjelaskan, jika metode budidaya konvensional menghasilkan sekitar 350 ribu anakan padi per hektare, maka melalui pola PM-AAS jumlah anakan dapat meningkat hingga sekitar 800 ribu per hektare.

"Peningkatan jumlah anakan itu berdampak langsung pada hasil produksi. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, produktivitasnya dapat mencapai sekitar 10 ton gabah kering panen per hektare," katanya.

Gusnar mengajak petani memanfaatkan pelaksanaan PENAS XVII sebagai kesempatan mempelajari teknologi dan inovasi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi usaha tani serta produktivitas pertanian.

PENAS XVII dijadwalkan berlangsung di Provinsi Gorontalo pada 20-27 Juni 2026 dan diikuti petani serta nelayan dari berbagai daerah di Indonesia.