Harga Sembako Turun, Pedagang Pasar Metro Justru Keluhkan Sepi Pembeli
taryono June 12, 2026 03:19 PM

Tribunlampung.co.id, Kota Metro - Perkembangan harga sejumlah komoditas kebutuhan pokok di Pasar Induk Kota Metro, Lampung, menunjukkan tren yang bervariasi dalam sepekan terakhir. 

Meski beberapa komoditas seperti cabai dan bawang merah mulai mengalami penurunan harga, suasana pasar justru terpantau sepi.

Para pedagang mengeluhkan merosotnya daya beli masyarakat, yang diduga kuat merupakan dampak berantai dari kenaikan harga BBM non-subsidi (Pertamax) baru-baru ini.

Penurunan harga paling signifikan terjadi pada cabai dalam tiga hari terakhir. 

Melimpahnya pasokan dari daerah sentra produksi menjadi pemicu utama turunnya harga komoditas pedas ini.

Heri, pedagang cabai di Pasar Induk Kota Metro, mengungkapkan bahwa harga cabai merah maupun cabai rawit rata-rata turun sekitar Rp5.000 per kilogram.

“Cabai merah sekarang turun dari Rp50.000 menjadi Rp45.000 per kilogram. Sementara cabai kecil atau rawit, dari Rp60.000 kini menjadi Rp55.000 per kilogram,” kata Heri saat ditemui di lapaknya, Jumat (12/6/2026).

Menurut Heri, jalur distribusi saat ini berjalan lancar. Pasokan cabai rawit mengalir melimpah dari Lampung dan Pulau Jawa, sedangkan cabai merah mayoritas datang dari Jakarta. 

Meski biasanya menyetok 50–70 kilogram cabai per hari, ia mengeluhkan sepinya pembeli. Lesunya daya beli masyarakat bahkan mengubah pola belanja secara drastis.

“Stok aman, tapi pembeli berkurang drastis. Warga yang datang belinya cuma Rp5.000–Rp10.000. Kebanyakan mencari ukuran satu ons atau seperempat kilo karena harga kebutuhan lain juga masih tinggi,” tambah Heri.

Kondisi fluktuatif juga terjadi pada bumbu dapur lainnya. Herdian, pedagang bawang di pasar yang sama, menyebutkan bahwa harga bawang merah perlahan menurun sepekan terakhir, karena wilayah sentra produksi seperti Jawa, Padang, hingga Bima memasuki musim panen raya.

“Bawang merah perlahan turun dari Rp55.000 menjadi Rp40.000–Rp45.000 per kilogram. Daripada menahan barang, lebih baik dijual meski dengan harga minim,” jelas Herdian.

Namun, harga bawang putih justru meningkat sebesar Rp10.000, dari Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilogram. 

Sama seperti Heri, Herdian juga menghadapi pasar yang sepi. Dalam kondisi normal atau menjelang momen besar seperti Iduladha, ia biasanya mampu menjual lebih dari dua karung bawang eceran (sekitar 60 kilogram) per hari. Saat ini, stok dagangannya sering tersisa.

Herdian sepakat bahwa kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi menjadi faktor utama lesunya aktivitas pasar. Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.650 per liter di wilayah Lampung sangat memukul kantong konsumen.

“Sangat berpengaruh. Konsumen jadi mengurangi volume belanja karena anggaran mereka terbagi untuk membeli BBM,” keluh Herdian.

Bagi Herdian, kenaikan BBM ibarat “jatuh tertimpa tangga.” Selain omzet menurun, biaya operasional juga membengkak.

Meski jarak rumah ke pasar relatif dekat, sekitar 10 menit perjalanan, ia tetap membutuhkan mobilitas tinggi untuk mengangkut dagangan dan mencari pasokan hingga ke luar daerah Metro.

Herdian berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk menstabilkan harga energi dan kebutuhan pokok.

“Harapannya, harga BBM bisa diturunkan lagi dan harga-harga sembako stabil, jangan terus dinaikkan. Tolonglah pemerintah, kasihan juga dengan masyarakat dan pedagang kecil agar pasar bisa ramai kembali,” pungkasnya. (TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.