Bahasa Indonesia dan Dialek Daerah: Kajian Mahasiswa Unika Ruteng tentang Identitas Budaya
Nofri Fuka June 12, 2026 04:45 PM

Oleh: Karolina Jesika Iman, Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris 

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Bahasa merupakan alat utama manusia dalam berkomunikasi dan menyampaikan gagasan. Di Indonesia, keberagaman bahasa daerah menjadi kekayaan budaya yang tidak ternilai. Dalam konteks ini, Bahasa Indonesia hadir sebagai bahasa persatuan yang menyatukan berbagai perbedaan tersebut.

Namun, dalam praktiknya, penggunaan Bahasa Indonesia tidak terlepas dari pengaruh dialek daerah. Dialek merupakan ciri khas yang tumbuh dan berkembang di suatu wilayah, sekaligus menjadi identitas budaya masyarakat setempat. Di satu sisi, dialek memperkaya keragaman bahasa.

Namun di sisi lain, ia juga dapat memengaruhi penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan baku.

Kota Ruteng di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu contoh daerah dengan dialek yang sangat khas. Masyarakatnya kerap mencampurkan Bahasa Indonesia dengan kosakata lokal yang telah disingkat atau diserap dari bahasa daerah lain. Misalnya, kata “saya” menjadi “sa”, “sebentar” menjadi “sentar”, “pergi” menjadi “pi”, dan “tidak ada” menjadi “trada”.

 

Baca juga: Hadir Lebih Dekat, Imigrasi Labuan Bajo Gelar "Immigration Social Program" di SLBN Komodo

 

 

Dalam percakapan sehari-hari, kalimat seperti “Sa sentar mau pi pasar”, “Sa trada uang”, atau “Kamu su pernah ke sana?” menjadi hal yang umum digunakan.

Intonasi dan struktur kalimat tersebut mencerminkan kekhasan dialek Ruteng yang kuat. Bahkan, dalam situasi santai, penggunaan Bahasa Indonesia baku sering dianggap terlalu formal dan tidak lazim di lingkungan setempat.

Meski demikian, dialek bukanlah sesuatu yang perlu dihilangkan. Dialek adalah bagian dari budaya yang harus dihargai dan dilestarikan. Persoalannya bukan pada keberadaan dialek itu sendiri, melainkan pada kemampuan penutur untuk menempatkan bahasa sesuai konteks.

Dengan demikian, keberadaan dialek tetap dapat dipertahankan sebagai identitas budaya, tanpa mengurangi fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang baku dan efektif dalam komunikasi nasional.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.