Media Sosial dan Ancaman Privasi, Ini Pandangan Mahasiswa Unika Ruteng
Nofri Fuka June 12, 2026 05:58 PM

Oleh: Lidia Riski Maladewi, Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Perkembangan teknologi dan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi, berinteraksi, dan membagikan informasi. Jika pada masa lalu kehidupan pribadi menjadi benteng yang melindungi seseorang dari tatapan publik, kini batas antara ruang pribadi dan ruang publik semakin kabur. 

Kehadiran media sosial membuat banyak orang secara sukarela membagikan berbagai aspek kehidupan mereka kepada khalayak luas.

Setiap hari, jutaan foto, video, dan cerita pribadi diunggah ke berbagai platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook. Fenomena ini menunjukkan bahwa privasi sering kali dianggap kurang penting dibandingkan keinginan untuk mendapatkan perhatian, popularitas, atau pengakuan dari lingkungan digital. 

Tanpa disadari, banyak orang menyerahkan data dan informasi pribadinya secara sukarela demi eksistensi di dunia maya.

 

Baca juga: AI Makin Marak di Dunia Pendidikan, Mahasiswa Unika Ruteng Ingatkan Risiko Ketergantungan

 

 

Di sisi lain, media sosial memang memberikan banyak manfaat. Teknologi ini memudahkan komunikasi jarak jauh, mempererat hubungan dengan keluarga dan teman, serta membuka peluang untuk berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai daerah bahkan negara. 

Namun, berbagai kemudahan tersebut tidak terlepas dari sejumlah risiko. Penggunaan media sosial yang tidak bijak dapat memicu kecemasan, depresi, kecanduan digital, hingga penyebaran informasi palsu atau hoaks. 

Tidak sedikit pengguna yang mengukur nilai dirinya berdasarkan jumlah pengikut, tanda suka, atau komentar yang diterima. Akibatnya, kesehatan mental menjadi rentan terganggu.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan ketika menyangkut anak-anak dan remaja. Banyak anak yang telah memiliki akses ke media sosial sebelum memahami risiko penggunaan internet. 

Mereka sering membagikan informasi pribadi tanpa menyadari dampaknya di masa depan. Padahal, jejak digital yang tercipta dapat bertahan lama dan sulit dihapus.

Selain itu, media sosial juga kerap memicu pola diskusi yang tidak sehat. Perbedaan pendapat sering berujung pada perdebatan yang penuh ujaran kebencian, perundungan, atau serangan pribadi. 

Ruang digital yang seharusnya menjadi sarana bertukar gagasan justru berubah menjadi arena konflik yang menguras energi dan emosi.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa privasi di era digital semakin menjadi sesuatu yang berharga. Bukan karena privasi telah hilang sepenuhnya, melainkan karena mempertahankannya membutuhkan kesadaran dan usaha yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. 

Pengguna internet perlu memahami bahwa tidak semua aspek kehidupan harus dibagikan kepada publik.

Di tengah budaya berbagi yang semakin masif, kemampuan untuk menjaga batas antara kehidupan pribadi dan ruang publik menjadi keterampilan yang penting. 

Membatasi informasi yang dibagikan, mematikan pelacakan lokasi ketika tidak diperlukan, serta lebih selektif dalam menggunakan media sosial merupakan langkah sederhana untuk melindungi privasi.

Pada akhirnya, privasi di era digital bukan lagi sesuatu yang diperoleh secara otomatis, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan secara sadar. 

Menjaga privasi bukan berarti menolak kemajuan teknologi, tetapi memastikan bahwa teknologi tetap melayani manusia, bukan sebaliknya. Dalam dunia yang semakin terbuka, keberanian untuk menjaga ruang pribadi dapat menjadi cara penting untuk mempertahankan kebebasan, keamanan, dan kemanusiaan kita.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.