Feri Amsari Sebut Demo Hari Ini Bisa Picu Reformasi Jilid 2, Fahri Hamzah Bandingkan dengan 98
khairunnisa June 12, 2026 03:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Aktivis prodemokrasi dan akademisi Universitas Andalas, Feri Amsari menyebut demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa di Bundaran HI, Jakarta hari ini, Jumat (12/6/2026) bisa memicu reformasi jilid dua.

Terkait dengan pernyataan Feri itu, Fahri Hamzah tak menyetujuinya.

Mantan aktivis 98 itu lantas membandingkan kondisi Indonesia saat ini dengan di era orde baru.

Sama-sama pernah jadi aktivis di tahun 1998, Feri Amsari memiliki pendapat yang berbeda jauh dengan Fahri Hamzah terkait demonstrasi mahasiswa.

Seperti diketahui, hari ini kabarnya 1.500 lebih mahasiswa dari Universitas Indonesia, UPN Veteran Jakarta, dan Institut Pertanian Bogor (IPB) turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi.

Ada lima tuntutan yang disuarakan oleh mahasiswa yang demo hari ini.

Salah satunya adalah mendesak pemerintah untuk menurunkan harga BBM dan kebutuhan pokok.

Melihat kesungguhan para mahasiswa yang bergerak hari ini, Feri Amsari mengurai pendapatnya.

Bahwa gerakan mahasiswa hari ini bisa jadi titik awal reformasi jilid kedua.

"Apakah aksi turun ke jalan saat ini juga bisa mengarah kepada Reformasi jilid kedua?" tanya Rosiana Silalahi dalam program Rosi Kompas TV, Kamis (11/6/2026) malam.

"Kenapa tidak? kalau dilihat apa yang disuarakan banyak pihak. Bang Fahri melihat apa yang terjadi di masa lalu dengan situasi yang berbeda, itu benar. Tapi yang dilihat publik sekarang apa yang terjadi hari ini, sedang menuju masa lalu. Kembalinya militer dan kepolisian di ruang sipil, tindakan kekerasan terhadap publik, pencaplokan tanah publik, demokrasi gagal bekerja, DPR tidak lagi penyeimbang dari eksekutif padahal mimpi reformasi memastikan penyeimbang ini," ungkap Feri Amsari.

Lebih lanjut, Feri Amsari pun menyinggung soal alasan mahasiswa jengah dengan pemerintahan saat ini.

Bukan cuma karena kebijakan, mahasiswa yang mewakili masyarakat, kata Feri, saat ini kesal dengan sikap para menteri di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.

Sebab para Menteri tak bisa menjadi penyeimbang Presiden dalam mengambil kebijakan di tiap sektor.

"Hari ini banyak kesadaran teman-teman di dalam istana lebih punya kecenderungan sekadar menjunjung apa yang disampaikan pemerintah, bukan menjadi figur yang bisa menetralisir keadaan agar pemerintah bisa bekerja dengan baik sesuai harapan," kata Feri Amsari.

Diungkap Feri, demo hari ini adalah akumulasi kekesalan masyarakat soal berbagai kebijakan di pemerintahan Prabowo-Gibran selama 1,5 tahun.

"Saya tidak melihat bahwa kekesalan ini datang tiba-tiba, ini proses 1,5 tahun yang penuh kekecewaan. Bukan sekadar karena faktor pidato presiden yang tidak bisa menambah 10+6, tapi lebih dari itu, tentang kebijakan," imbuh Feri.

Meski baru sebentar memimpin bangsa, Prabowo, kata Feri telah melenceng jauh.

Feri pun menyinggung soal berbagai persoalan yang ada di negeri ini namun tak diperbaiki oleh pemerintahan.

"Kalau dilihat 1,5 tahun ini terpelesetnya luar biasa. Kesalahan menghitung matematika itu saja terjadi tiga kali, nasihat publik agar tidak terlalu panjang kunjungan ke luar negeri itu tidak didengarkan, orang-orang yang tampil di depan bukan yang matang profesional bekerja. Mohon maaf bukannya saya mengadu, kalau bicara depan publik kayaknya lebih bagus Fahri Hamzah dibandingkan Seskab," ujar Feri.

Karenanya, Feri meyakini bahwa gerakan mahasiswa hari ini bisa membangkitkan lagi reformasi jilid dua setelah tahun 1998 yang menggulingkan pemerintahan mantan mertua Prabowo, Soeharto.

"Ekonomi berantakan, kebijakan luar negeri berantakan, perdagangan berantakan, semua menimbulkan pertanyaan besar, di mana peran presiden sebagai leader, itu yang menyebabkan kita merasa, kayaknya mungkin harus digaungkan reformasi jilid 2 bahkan lebih dari itu, untuk membangun kesadaran di diri presiden, dia sedang terpeleset dan harus bangkit dengan cara yang benar," ungkap Feri.

Baca juga: Kritik BEM UI untuk Pemerintahan Prabowo Subianto : Negara Dibawa Menuju Indonesia Bangkrut

Beda pendapat Fahri Hamzah

Atas pernyataan yang diurai Feri Amsari, Fahri Hamzah tampak tidak setuju.

Kata Fahri, reformasi yang dulu ia dan mahasiswa perjuangkan di tahun 1998 tidak bisa sembarangan dilakukan di masa kini.

Politikus yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman itu pun mengurai alasannya mahasiswa 98 dulu berhak menggaungkap reformasi.

"Kalau dulu kita betul-betul tersumbat, kita mau ngomong dengan siapa, konstitusi mengizinkan otorialisme, kita enggak kebayang bahwa pemimpin kita akan diganti dan pemimpin ini sudah berkuasa 32 tahun dan orang-orangnya diangkat semau dia saja, tidak ada keterbukaan publik," kata Fahri Hamzah.

Tapi sekarang di era kepemimpinan Prabowo yang baru sebentar, Fahri menyebut proses reformasi tak serta merta bisa dilakukan jika pemerintahan ada kesalahan.

Fahri pun mengurai mekanisme kritikan yang benar terkait pemerintahan.

"Kalau kita tidak puas kepada sistem, baru kita bicara reformasi. Tapi kalau kita tidak puas dengan kinerja kelembagaan, kita melakukan evaluasi. Kalau kita tidak puas dengan kinerja orang, kita minta presiden melakukan reshuffle," pungkas Fahri.

Kendati demikian, Fahri tetap mendukung pergerakan mahasiswa yang tidak boleh dibungkam.

"Setiap pergerakan publik itu adalah alarm. Semakin terbuka hati kita dan telinga pemerintahan itu semakin baik untuk kita memahami dinamika apa yang sedang terjadi," ucap Fahri.

Mendengar respon Fahri Hamzah, Feri kembali memberikan tanggapan.

Kata Feri, Fahri salah mengartikan makna dari demo hari ini di mana mahasiswa mewakili masyarakat yang kecewa dengan program awal Prabowo dalam memimpin bangsa. 

"Saya merasa bang Fahri salah memahami gerakan besok dan seterusnya soal apa yang dilakukan pemerintah. Karena beliau meletakkan pandangan dari sisi romantisme di masa lalu. Memang judulnya terkesan akan membangkitkan cerita masa lalu, tapi ini gerakan kekinian para pemuda, mereka melihat beda. Salah satu faktornya soal ketimpangan, kekesalan terhadap MBG, bahwa MBG diprediksi akan menimbulkan penyakit korupsi, begitu terjadi korupsinya, keracunannya, orang sudah menumpuk kekesalan itu sudah sangat tinggi, besok menjadi puncak awal kekesalan," ungkap Feri Amsari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.