TRIBUNSUMSEL.COM -- Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tidak hanya dikenal sebagai bumi Sriwijaya dan pusat peradaban Melayu di Nusantara, tetapi juga sebagai daerah yang kaya akan warisan wastra tradisional.
Apa itu Wastra? Kata "wastra" berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kain, namun dalam makna budaya, wastra mencakup nilai sejarah, filosofi, identitas, status sosial, hingga simbol kehidupan masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
Di Sumatera Selatan, keberadaan wastra berkembang melalui perpaduan budaya Melayu, Sriwijaya, Palembang Darussalam, Jawa, Tionghoa, Arab, hingga pengaruh lokal masyarakat pedalaman.
1. Songket Palembang
Songket merupakan mahakarya tenun Sumatera Selatan yang telah dikenal sejak masa Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam. Kain ini ditenun menggunakan benang emas atau perak yang melambangkan kemakmuran, kejayaan, dan kehormatan.
Ciri khas:
Benang emas berkilau.
Motif flora dan geometris.
Digunakan dalam pernikahan dan upacara adat.
Makna motif populer:
Bungo Melati: kesucian.
Bungo Mawar: keanggunan.
Nago Besaung: kekuatan dan keberanian.
Bungo Cino: akulturasi budaya Tionghoa-Palembang.
2. Kain Jumputan
Jumputan merupakan kain ikat celup khas Palembang yang dibuat dengan teknik menjumput atau mengikat bagian tertentu sebelum pewarnaan. Warna-warnanya cerah dan mencolok.
Ciri khas:
Motif bintik-bintik.
Warna merah, kuning, hijau, ungu.
Ringan dan nyaman dipakai.
Makna:
Melambangkan keceriaan, keberagaman, dan keharmonisan budaya Melayu, Jawa, dan Tionghoa.
3. Kain Tajung
Tajung adalah kain tenun berbentuk sarung yang secara tradisional dikenakan kaum laki-laki Palembang. Motifnya berupa garis dan kotak-kotak geometris.
Makna:
Melambangkan keteguhan, kewibawaan, dan tanggung jawab laki-laki dalam masyarakat Melayu.
4. Kain Blongsong
Blongsong merupakan pasangan Tajung yang diperuntukkan bagi perempuan. Kain ini biasanya dipadukan dengan selendang dan memiliki warna yang lebih lembut.
Makna:
Mencerminkan kelembutan, kesantunan, dan keanggunan perempuan Melayu.
5. Kain Blongket
Blongket adalah perpaduan antara Songket dan Blongsong, menggunakan teknik tenun biasa dengan tambahan benang emas pada beberapa bagian.
Koleksi Wastra dari 17 Kabupaten/Kota Sumatera Selatan
1. Kota Palembang
Wastra khas: Songket, Jumputan, Tajung, Blongsong, Batik Palembang.
Motif terkenal: Bungo Pacik, Nago Besaung, Bungo Cino, Lepus, Limar dll
Palembang menjadi pusat perkembangan wastra Sumatera Selatan sejak era Kesultanan.
2. Kota Prabumulih
Wastra khas: Songket Motif Nanas.
Makna: Buah nanas menjadi simbol identitas Prabumulih sebagai salah satu sentra penghasil nanas terbesar di Sumatera Selatan.
3. Kota Pagar Alam
Wastra khas: Batik Besemah.
Motif: Gunung Dempo; Kopi Besemah; Rumah Baghi; Motifnya terinspirasi dari pahatan kuno Ghumah Baghi (rumah adat Besemah) dan Megalitikum, serta sering dihiasi ornamen flora dan fauna lokal
Makna:
Mencerminkan kehidupan masyarakat pegunungan Besemah.
4. Kota Lubuklinggau
Wastra khas: Batik Durian Linggau.
Motif: Durian; durian rampak, duri dan dedaunan;
Melambangkan kesuburan daerah.
5. Kabupaten Banyuasin
Wastra khas: Batik Banyuasin.
Motif: Udang Galah; Sungai Musi; Mangrove, nanas sedongkok dll
Menggambarkan budaya pesisir dan perairan.
6. Kabupaten Musi Banyuasin
Wastra khas: Batik Jumputan Gambo.
Gambo Muba adalah kain khas Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang dibuat menggunakan teknik jumputan (celup rintang) dengan pewarna ramah lingkungan yang berasal dari getah tanaman gambir.
Gambo Muba terkenal sebagai produk eco-fashion karena memanfaatkan limbah gambir tanpa menggunakan bahan pewarna kimia.
Motif : bberapa motif utama dari Gambo Muba yang telah mendapatkan Hak Cipta meliputi:Banyak Pecak; Bunge Gambo: Dian Imbe Besok; Lupis Acak; Mandau Tujuh (memiliki makna simbolis perintis kehidupan dan kejayaan turun-temurun); Titik Tujuh (motif dasar yang dikembangkan dari jumputan tujuh titik yang membentuk kotak
Makna:
Representasi kekuatan ekonomi daerah.
7. Kabupaten Musi Rawas
Wastra khas: Batik Musi Rawas.
Motif: Motif utamanya meliputi Tiber Angin (dari ukiran Rumah Bari), Keruntung (keranjang tradisional), Bunga Teratai, Buah Duku, Bambu, dan Burung dll
8. Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara)
Wastra khas: Batik Muratara.
Motif: beragam motif batik Muratara, di antaranya Teratai Menyeberang Rantai: Motif utama yang paling ikonik. Melambangkan keindahan yang tumbuh di alam dan ikatan kekeluargaan masyarakat.
Duku Bertangkai: Mengangkat buah duku sebagai salah satu hasil bumi khas daerah Musi Rawas Utara.
Bambu: Melambangkan ketahanan, kekuatan, dan kebersamaan masyarakat Muratara dalam menghadapi berbagai rintangan.
9. Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU)
Wastra khas: Batik OKU.
Motif: Tiga motif utamanya meliputi Bunga Kangkung, Pucuk Rebung, dan Bunga Matahari. Juga terinsipirasi motif
Batu dan sungai; Kopi; Rumah adat
10. Kabupaten OKU Timur
Wastra khas: Batik Belitang.
Motif: Padi, Irigasi Belitang, jagung dan buah-buahan
Melambangkan lumbung pangan Sumsel.
11. Kabupaten OKU Selatan
Wastra khas: Batik Danau Ranau.
Motif: Danau Ranau, Gunung Seminung, Kopi, daun rumpun, enam suku dsb.
12. Kabupaten Ogan Ilir
Wastra khas: Kain Gebeng Ogan Ilir dan Batik Ogan Ilir.
Motif: Tenun kotak-kotak khas Melayu; Sungai Ogan. Motif terkenal di antaranya serampang dua belas, pucuk rebung, mato pirik, tujuh motif dll.
Kain Gebeng menjadi identitas budaya masyarakat Ogan Ilir. Biasanya dikenakan oleh kaum laki-laki
13. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)
Wastra khas: Batik Pedamaran.
Motif: Purun; Rawa lebak; Ikan air tawar, biduk kajang, brukat prada OKi dll
Terinspirasi dari kehidupan masyarakat rawa.
14. Kabupaten Muara Enim
Wastra khas: Batik Muara Enim.
Motif: Motif utamanya meliputi Kopi (simbol hasil bumi), Rumah Tengkiang (kearifan lokal), serta Ambinan Tinggi. Selain itu motif Batubara; Kopi Semende; Air terjun
15. Kabupaten Lahat
Wastra khas: Batik Lahat dan Besemah.
Motif: Megalitikum; Gunung Serelo; Kopi, Sungai Lematang dll
Mengangkat kekayaan situs purbakala Lahat.
16. Kabupaten Empat Lawang
Wastra khas: Batik Empat Lawang.
Motif: Tebing Tinggi; Kopi; Sungai Musi Hulu. Mengangkat kearifan lokal yang sarat akan makna budaya dan kekayaan alam. Motif utamanya meliputi Kopdurel (Kopi dan Duren), simbol ikonik daerah seperti Tugu Empat Lawang, serta elemen bersejarah seperti tempayan kubur megalitik.
17. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI)
Wastra khas: Batik PALI.
Motif: pumping unit, motif candi Bumi Ayu, motif balam Minyak bumi; Lematang; Pertanian rakyat dll.
Melambangkan keseimbangan antara industri dan budaya lokal.
Keberadaan wastra Sumatera Selatan bukan sekadar produk kerajinan, melainkan catatan sejarah yang ditenun menjadi lembaran kain.
Setiap motif menyimpan pesan tentang alam, kehidupan sosial, nilai agama, hingga perjalanan panjang masyarakat setempat. Dari kemewahan Songket Palembang, keindahan Jumputan, kelembutan Blongsong, hingga motif-motif batik daerah yang berkembang di 17 kabupaten dan kota, seluruhnya menjadi identitas budaya yang memperkaya khazanah wastra Indonesia.
Melestarikan wastra berarti menjaga memori kolektif masyarakat Sumatera Selatan agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kebanggaan budaya bangsa.
Demikian Jenis-jenis Wastra dari 17 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumsel, Songket, Blongsong hingga Batik Gambo. (lis/berbagai sumber)
Baca juga: Wastra Adalah, Salah Satu Warisan Budaya Nusantara Indonesia, Berikut Jenis dan Contohnya
Baca juga: 15 Prompt AI Ubah Foto Diri atau Keluarga dengan Nuansa Islami Sambut Tahun Baru Islam 1 Muharram
Baca juga: Era Baru Arus Perubahan Iklim: Perlunya Kesadaran Bersama Peduli Lingkungan, Soroti Sungai Musi
Baca juga: 10 Prompt AI untuk Membuat Banner, Poster hingga Stiker Animasi Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H