TRIBUNNEWSMAKER.COM - Profesi pengemudi ojek online yang dahulu dianggap mampu memberikan penghasilan menjanjikan kini menghadapi tantangan yang semakin berat di tengah perubahan kondisi ekonomi.
Situasi tersebut dirasakan langsung oleh Sutarman, seorang driver ojol di Jakarta yang mengaku harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
Menurutnya, persaingan di lapangan saat ini jauh lebih ketat dibanding beberapa tahun lalu ketika permintaan layanan transportasi online masih sangat tinggi.
Pendapatan yang dahulu relatif stabil kini perlahan mengalami penurunan sehingga banyak pengemudi harus mencari cara tambahan untuk bertahan.
Sutarman menilai kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah pelanggan yang berkurang, tetapi juga oleh semakin banyaknya pengemudi yang bersaing mendapatkan order.
Perang tarif antar aplikator juga disebut ikut memengaruhi besarnya penghasilan yang diterima para driver setiap harinya.
Di sisi lain, perlambatan ekonomi membuat sebagian masyarakat mengurangi aktivitas perjalanan maupun penggunaan layanan transportasi online.
Akibatnya, jumlah order yang masuk tidak lagi sebanyak sebelumnya sehingga para pengemudi harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan penumpang.
"Pendapatan ojol karena persaingan begitu kuat. Karena masalah harga dan banyaknya driver, jadi sekarang nggak bisa maksimal," ujar Sutarman saat ditemui TribunJakarta.com di Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta di kawasan Cideng, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026).
Di tengah kerasnya persaingan dan menurunnya pendapatan, Sutarman berharap kondisi ekonomi dapat segera membaik sehingga jumlah penumpang kembali meningkat dan para pengemudi ojek online bisa memperoleh penghasilan yang lebih layak untuk menghidupi keluarga mereka.
Ketika ditanya mengenai nominal pendapatan yang bisa dikantongi setiap harinya, Sutarman mengakui saat ini rata-rata hanya bisa mendapat di angka Rp 120.000.
Namun, angka tersebut belum dipotong biaya operasional yang wajib dikeluarkan selama mengaspal.
"Sehari paling pendapatan Rp 100 sampai 120 ribu. Tapi kan itu belum dipotong buat bensin sama makan. Paling kurang lebih kita bawa pulang ke rumah bisa Rp 50.000 lah," tutur Sutarman.
Uang Rp 50 ribu itulah yang kemudian ia serahkan kepada sang istri agar dapur di rumahnya tetap bisa mengepul.
"Rp 50.000 untuk masak bareng-bareng keluarga, gitu kan," tambahnya.
Kondisi ini, ujar Sutarman, kian diperparah dengan situasi ekonomi nasional yang sedang tidak menentu.
Sutarman mengaku cemas melihat masa depan profesinya, terlebih dengan adanya isu krisis global serta kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax yang langsung memukul telak uang harian para driver.
"Apalagi dengan kondisi ekonomi saat ini. Nah, ekonomi ke depannya lagi udah ada gambaran begini, ada yang bilang mau menghadapi krisis atau segala macam, bensin juga naik.
Jadi meski saya isinya Pertalite, tapi kan sekarang isi bensin itu antrenya panjang banget. Jadi ya dampaknya tuh luar biasa," kata dia.
Karenanya, di tengah kondisi ekonomi yang kian sulit, Sutarman bersama sejumlah warga penghuni Rusun Mulya Jaya, Bambu Apus, Jakarta Timur mendatangi kantor Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta agar mereka mendapatkan perpanjangan tinggal di rusun milik Kementerian Sosial itu.
Pasalnya, aturan dari Kemensos bahwa Rusun Mulya Jaya hanya merupakan tempat tinggal sementara maksimal dua tahun untuk masyarakat miskin dengan membayar iuran Rp 10 ribu perbulan.
Sutarman dan warga berharap, mereka bisa diberi tambahan waktu untuk tinggal di Rusun Mulya Jaya atau mendapat jatah rusun terjangkau dari Pemprov DKI Jakarta.
(Tribunnewsmaker.com/ TribunJakarta/ Elga Hikari)