TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, mengingatkan pentingnya esensi kesederhanaan hidup bagi para pelayan altar dalam khotbah tahbisan diakon di Saint Peter's Hall, Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, Maumere, Flores, Kamis (11/6/2026) sore.
Dalam upacara sakral yang dihadiri umat dan rohaniwan dari berbagai keuskupan tersebut, Mgr. Maksimus melantik 16 putra terbaik dari wilayah Nusa Tenggara dan Bali menjadi diakon baru. Para diakon baru ini berasal dari Keuskupan Agung Ende (5 orang), Keuskupan Ruteng (4 orang), Keuskupan Larantuka (3 orang), Keuskupan Maumere (2 orang), Keuskupan Labuan Bajo (1 orang), dan Keuskupan Denpasar (1 orang).
Mengusung tema "Bertumbuh dalam Kesetiaan dan Berkembang dalam Pewartaan", Uskup memberikan refleksi mendalam yang kontekstual, kritis, namun disisipi humor segar. Mgr. Maksimus Regus, menyampaikan khotbah bernas yang memotret realitas sosial sekaligus menyentil kehidupan pastoral secara jenaka. Di awal khotbahnya, Mgr. Maksimus sempat berseloroh mengenai durasi.
"Khotbah tidak boleh lebih dari 8 menit. Harus diingat ini catatan untuk para imam, bukan untuk para uskup. Untuk para uskup boleh lebih. Pokoknya kamu dengar saja, saya omong apa kamu dengar," ujarnya disambut senyum umat.
Baca juga: Tahbiskan 16 Diakon di Seminari Ritapiret, Uskup Labuan Bajo: Jangan Jadi Pelayan di Atas Luka
Mgr. Maksimus mengajak umat melihat realitas zaman saat ini yang oleh para pemikir sosial disebut sebagai era precariousness atau gelombang ketidakpastian.
"Kalau bapak-mama buka TikTok, maka akan muncul setiap kali seruan 'hidup kita tidak baik-baik saja'. Situasi ekonomi kurang baik, krisis ekologis, hingga kekacauan iklim. Banyak yang rapuh: hati, harapan, cinta, dan iman," kata Uskup.
Secara blak-blakan, Uskup juga menyentil fenomena sosial yang sedang melanda masyarakat.
"Muka kita juga banyak yang rapuh, mungkin menunggu datangnya MBG (Makan Bergizi Gratis) yang tidak kunjung hadir. Dompet kita juga rapuh karena menahan gempuran godaan pinjol (pinjaman online) dan judol (judi online). Anda bisa menambahkannya sendiri," kelakarnya.
Namun, Uskup menegaskan bahwa kerapuhan tidak boleh hanya dipahami sebagai kelemahan, melainkan kondisi dasar manusia agar saling bergantung, berempati, dan membangun solidaritas. Sesuai visi mendiang Paus Fransiskus, kerapuhan adalah lokus pelayanan, di mana Gereja harus hadir sebagai "rumah sakit lapangan" di tengah luka-luka dunia.
Baca juga: Mengenang 20 Tahun Wafatnya Santo Yohanes Paulus II, Paus Kedua yang Kunjungi Indonesia
Kepada 16 diakon baru yang disebutnya masih "polos, lugu, bau kencur, unyu-unyu, dan belum kenal kerasnya dunia persilatan pastoral", Mgr. Maksimus merumuskan 4 dimensi pelayanan (tetrapolar) yang harus dihidupi:
Diakon tidak diutus ke dunia yang sempurna, melainkan ke dunia yang goyah. "Diakon yang efektif adalah yang berani masuk ke dalam kerapuhan manusia dan menyadari dirinya sendiri juga rapuh. Hadirlah di tempat yang seharusnya Anda hadir. Jangan mengalami kekacauan geografis pastoral; hadir di rumah itu-itu terus," sentil Uskup.
Kesetiaan diuji dalam guncangan badai dan perkara-perkara kecil harian (in minimis fidelis). Uskup mengingatkan para diakon baru untuk tahu diri. "Jangan sampai pada minggu pertama Anda sudah rebut posisi sebagai vikaris parokial, apalagi pastor paroki. Itu kalian mau kena kutik dari bapak-bapak rumah (pastor paroki)," ujarnya.
Mengutip mistikus Thomas de Kempis dalam buku The Imitation of Christ, Uskup mengingatkan, "Jika kamu mencari yang lain di luar salib Kristus dalam hidupmu, maka kamu sedang ditipu."
Kerahiman adalah inti identitas yang harus nampak dalam tindakan belas kasih yang menyembuhkan. Terkait sikap "tangan terbuka", Uskup membagikan cerita jenaka tentang seorang pastor paroki saat malam Paskah.
"Ada imam melihat banyak amplop tebal-tebal, dia pikir itu intensi murni. Saat doa persembahan, tangannya lebar sekali (menengadah). Tapi pas komuni saat membersihkan piala, dia intip ternyata tulisan di amplop: 'Dana APP'. Saat doa penutup, tangannya langsung mengecil, 'Marilah berdoa...' karena amplopnya menyusut," cerita Uskup disambut tawa. "Jadi itu bukan tangan terbuka yang dimaksud, melainkan tangan yang menyambut belas kasih yang tulus."
Kesaksian iman harus mewujud dalam tindakan nyata yang selaras antara sabda dan perbuatan lewat the power of simplicity (kekuatan kesederhanaan). Semakin sederhana hidup seorang diakon, semakin dekat keserupaannya dengan Kristus.
Menutup khotbahnya, Mgr. Maksimus menegaskan kembali bahwa para diakon tidak ditahbiskan karena mereka kuat, dan bukan untuk dunia yang kuat, melainkan diutus ke dunia yang rapuh.
Beliau berpesan agar ke-16 diakon meneladani Rasul Barnabas yang dikenal sebagai Filius Consolationis atau Putra Penghiburan.
"Maka seperti Rasul Barnabas, jadilah filius consolationis, putra penghiburan. Kamu harus menjadi diakon-diakon penghibur bukan laki-laki penghibur, itu beda! Jadilah diakon penghibur, putra penghiburan seperti Rasul Barnabas," pungkas Mgr. Maksimus Regus.